SURABAYA I duta.co – Pembangunan apartemen yang diduga milik Pakuwon City dikeluhkan oleh warga Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo. Pasalnya, warga merasa pembangunan gedung itu sudah merugikan secara materiil, seperti rumah retak dan jalan sekitar pemukiman warga rusak.

Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Surabaya Agoeng Prasodjo mengatakan, ada rumah warga yang retak diduga akibat pembangunan tower baru. “Kalau itu memang rumah warga itu ada yang retak akibat pembangunan tower berarti ada yang salah dengan pembangunan itu,” jelasnya, Selasa (12/10).

Untuk membantu menyelesaikan permasalahan warga ini, ia dan Komisi C akan melihat terlebih dahulu bagaimana perizinan dari bangunan dan berencana akan meninjau lokasi. “Kita lihat dulu bagaimana bangunannya, kita lihat dulu di lapangan bagaimana, dan nanti kalau ada rapat kita undang,” pungkasnya.

Salah seorang warga, Chusnul Yakin menjelaskan, kemungkinan besar pembangunan ini kelanjutan dari pembangunan gedung pertama yang sudah berdiri. “Informasinya memang ini setelah pembangunan gedung (apartemen) yang ini (pertama) ada kesinambungan bikin apartemen yang kedua,” kata Chusnul.

Sebelum pembangunan gedung yang kedua ini, kata Chusnul, warga juga memprotes pembangunan gedung yang pertama. Hanya saja pihak pengembang memberikan kompensasi ke warga sesuai radius atau jarak rumah dengan lokasi pembangunan.

“Untuk yang apartemen pertama ini juga ada dampak warga sekitar. Diberi kompensasi penempatan ring 1, 2, dan 3. Ini rumah ini masuk ring 3 mendapat kompensasi sebesar Rp 1 juta per empat bulan,” jelasnya.

Ia mengatakan, kerusakan pada materiil rumahnya terjadi saat pemasangan tiang pancang tower sekitar 2-3 bulan belakangan ini.Hal ini dikarenakan pembangunan tower kedua ini memiliki jarak yang berdampingan dengan rumahnya. Sehingga semakin berdampak terhadap rumahnya.

“Pemasangan tiang pancang kurang lebih 2-3 bulan. Kerusakan pembangunan kedua termasuk MCK, selokan terus keramik retak,” terangya.

Selain itu, Chusnul juga mengatakan, pembangunan tower kedua sempat didemo oleh warga lantaran pengerjaan pembangunan sempat dilakukan selama dua puluh empat jam. Namun setelah didemo, pengerjaan proyek dilakukan hanya sampai pukul 21.00 WIB

Warga lain M. Romli mengatakan, akibat adanya pembangunan itu selain mengalami keretakan bangunan, juga sempat mengalami shock lantaran diduga ada paku bumi yang jatuh hingga menyebabkan dirinya lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Kan seperti gempa kalau masang tiang pancang itu, seperti ada gempa,” tandasnya. (zi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry