Catatan Pinggir
Dr. H. Romadlon Sukardi, MM*

DI tengah dinamika peradaban modern, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak lagi hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau megahnya pembangunan fisik, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghadirkan peradaban yang berkeadilan, membangun harapan bagi rakyat, serta mengubah kebijakan negara menjadi kesejahteraan yang benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Dalam perspektif itulah, sinergi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadirkan wajah baru pembangunan Indonesia: kepemimpinan yang transformatif, progresif, inovatif, adaptif, kolaboratif, berempati, dan berkelanjutan, di mana rumah bukan sekadar bangunan, melainkan fondasi lahirnya keluarga yang bermartabat, produktif, dan menjadi pilar utama menuju Indonesia Emas 2045.

Ada pemimpin yang membangun jalan, ada yang membangun gedung, tetapi pemimpin yang meninggalkan jejak peradaban adalah mereka yang membangun harapan melalui kebijakan yang menyentuh kehidupan rakyat. Rumah bukan sekadar bangunan fisik yang terdiri atas dinding dan atap, melainkan ruang lahirnya keluarga yang sehat, pendidikan yang berkualitas, ekonomi yang produktif, serta karakter bangsa yang tangguh. Di titik inilah kepemimpinan transformasional menemukan makna terdalamnya: ketika visi besar negara diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar hadir di depan pintu rumah masyarakat.

Kehadiran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam Akad Massal KPR Sejahtera FLPP dan KPP yang dipimpin langsung Presiden RI Prabowo Subianto di Kabupaten Batang bukan sekadar memenuhi undangan kenegaraan. Lebih dari itu, momentum tersebut memperlihatkan kuatnya sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam membangun fondasi kesejahteraan bangsa melalui penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai prioritas pembangunan nasional. Di Jawa Timur, arah kebijakan tersebut diterjemahkan secara konkret oleh Khofifah melalui langkah-langkah yang transformatif, inovatif, progresif, adaptif, kreatif, empatik, dan berkelanjutan.

Kepemimpinan transformatif tampak ketika program perumahan tidak dipandang sebatas pembangunan fisik, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat ketahanan sosial. Rumah diposisikan sebagai pusat pembangunan keluarga, bukan sekadar komoditas ekonomi.

Kepemimpinan inovatif terlihat dari upaya memperkuat ekosistem perumahan melalui percepatan layanan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), pembebasan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta integrasi kebijakan lintas sektor yang mempermudah akses masyarakat terhadap hunian.

Kepemimpinan progresif tercermin dari kesiapan Jawa Timur mendukung target nasional dengan potensi lebih dari 187 ribu unit rumah FLPP, realisasi ribuan unit pembiayaan, serta komitmen memperluas akses kepemilikan rumah secara berkelanjutan.

Kepemimpinan adaptif diwujudkan melalui kemampuan membaca tantangan zaman dengan membangun kolaborasi multipihak antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi pengembang, perbankan, hingga masyarakat sebagai satu ekosistem pembangunan.

Kepemimpinan kreatif terlihat pada kemampuan menghubungkan sektor perumahan dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Pembangunan rumah tidak hanya menciptakan hunian, tetapi juga menggerakkan industri konstruksi, material bangunan, jasa, UMKM, dan membuka lapangan kerja baru.

Yang paling menyentuh adalah dimensi empati. Program rehabilitasi hampir 40 ribu Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui sinergi Pemprov Jawa Timur bersama Kodam V/Brawijaya dan Lantamal V menunjukkan bahwa keberpihakan kepada masyarakat miskin bukan sekadar retorika, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang mengangkat martabat keluarga.

Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya diukur dari tingginya gedung atau besarnya investasi, tetapi dari semakin banyaknya keluarga yang dapat tidur dengan tenang di rumah yang layak, sehat, dan aman.

Dalam perspektif pembangunan modern, rumah merupakan simpul utama pembangunan manusia (human-centered development). Rumah yang layak akan melahirkan generasi yang sehat, anak-anak yang belajar dengan nyaman, keluarga yang produktif, serta masyarakat yang memiliki optimisme terhadap masa depan. Karena itu, investasi terbesar bangsa sesungguhnya adalah investasi pada kualitas kehidupan keluarga.

Jawa Timur memperlihatkan bahwa keberhasilan pembangunan lahir dari kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi kolaborasi, memperkuat sinergi, serta menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, arah pembangunan tidak berhenti pada pencapaian angka statistik, tetapi bergerak menuju pembangunan peradaban yang berorientasi pada manusia.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa rumah-rumah sederhana yang dibangun hari ini bukan sekadar deretan bangunan baru. Ia adalah simbol hadirnya negara, bukti nyata keberpihakan pemerintah kepada rakyat, sekaligus fondasi lahirnya generasi Indonesia Emas 2045. Dan di situlah kepemimpinan menemukan kemuliaannya: bukan karena banyak berbicara tentang kesejahteraan, tetapi karena mampu menghadirkannya hingga ke ruang keluarga setiap warga.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry