MALANG | duta.co- Rumah Sakit Saiful Anwar (RSAA) Kota Malang menerima penderita tumor hipofise sebanyak lima orang. Kelima orang pasien penyakit langka tersebut yakni Kiko Krisnandar (23), Imam mashuda ( 17),  Pradika angga pratama( 15) dan Yafi Widayanto(20) dan Nadia fadiatul azka (7).

dr.Haryudi Adi Cahyono, spesialis penyakit anak pada Instalasi Rawat Anak ( IRNA) RSSA Kota Malang mengungkapkan pasien tumor hipofise ini datang dalam kondisi terlambat mendapat perawatan di rumah sakit.

“Seperti tiga pasien Kiko krisnandar (23), Yafi Widianto (18) serta Nadia Fadial Azka (7) datang dengan pertumbuhan tinggi tubuh yang tidak normal dari usia semestinya, Nadia misalnya dengan usia 7 tahun ketinggian normal 120 cm, namun pada Nadia ini tingginya 127 cm, dan sudah mengalami menstruasi. Sementara Yafi dengan usia 18 tahun umumnya punya tinggi badan antara 140 cm namun ia punya tinggi badan 230 cm  ” ungkapnya.

Ditanya soal pengobatan, dr. Haryudi mengaku kalau untuk obat pada penyakit tumor hipofise belum ada.

” Seperti Kiko, dia sudah menjalani pengobatan selama 2 tahun di Austarlia dengan bantuan pengobatan dari children Fast faundation ( CFF) ke australia hasilnya tumor yang dideritanya tinggal 5 persen  dan kurang 1 tahun lagi akan menjalani penataan pada muka karena rahangnya menjadi besar,”ujarnya.

Sementara itu, Imam Mashuda pelajar SMKN 2 Singosari elektronika industri harus kehilangan penglihatan mata kirinya akibat penyakit langka ini.

“Langkanya penyakit ini bisa dihitung 7 per-seribu kelahiran. Oleh karena itulah kita meminta bantuan pada media jika ada di sekelilingnya anak dengan gejala awal penglihatan kabur, tinggi badan tidak sebanding dengan usia serta sakit kepala berkepanjangan segera diperiksakan ke rumah sakit agar tidak terlambat penanganan serta pengobatan atas penyakitnya,” jelasnya.

Dan kebanyakan para penderita tumor tersebut berasal dari kalangan sangat kurang mampu. “Beruntung mereka punya BPJS karena biaya pengobatannya sangat mahal, ” tandasnya.

Sementara itu, Riyati (35) ibu dari  Nadia fadiatul azka (7) mengaku tidak mengetahui anaknya ini menderita tumor. ” Nadia anak pertama dari dua bersaudara, pada umur 10 bulan ia sudah menstruasi. Pernah dibawa ke bidan katanya kukunya kena bagian kemaluan. Namun peristiwa serupa juga terjadi pada usia 4 tahun. Karena khawatir kemudian diperiksakan ke RSSA baru diketahui kalau ada tumor yang menempel dibatang otak, ” ungkap Riyati.

Karena penyakitnya inilah anak pasangan Ngatijan warga jalan Parikesit,kebubeng, Wonosari, Gunung Kawi tidak bisa bersekolah.  “Belum bisa sekolah karena kadang menunjukkan hiperaktif, ” tandas Riyati.(ais)

 

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan