
“Media diberi makan kutipan-kutipan filosofis. Kritik dijawab dengan tawa yang renyah atau metafora yang berbelit.”
Oleh: Sinful Bahri*
Rupa rindu rupa bayang Hanya bunyi melambung awang…
Amir Hamzah (Nyanyi Sunyi, 1937)
KATA-KATA, bagi seorang penyair, adalah jembatan menuju makna. Namun bagi kekuasaan, seringkali ia adalah tembok.
Talleyrand, diplomat Prancis yang terkenal licin itu, pernah berujar dengan sinis: “La parole a été donnée à l’homme pour déguiser sa pensée”—ucapan diberikan kepada manusia untuk menyembunyikan pikirannya. Di zaman ini, kita melihat metamorfosis dari adagium itu. Bukan lagi “diam itu emas”, melainkan “bicara itu emas, asal tak bermakna apa-apa”.
Dalam leksikon diplomasi modern, ada sebuah teknik yang dikenal sebagai strategic ambiguity, atau dalam versi yang lebih banal dan gelap: say anything but tell nothing. Ini adalah seni para birokrat yang ingin tampak hangat di depan kamera, tersenyum lebar kepada wartawan, namun sejatinya sedang membunuh transparansi pelan-pelan.
Mereka tidak lari dari pertanyaan. Mereka justru membanjirinya. Mereka menjawab pertanyaan tentang korupsi dengan kuliah panjang soal moralitas sejarah; mereka merespons krisis institusi dengan lelucon anekdotal. Hasilnya adalah sebuah paradoks: informasi melimpah, tapi nol pengetahuan. Publik merasa diajak bicara, padahal sedang dikooptasi ke dalam sebuah labirin tanpa ujung.
Seorang pejabat yang mempraktekkan ini akan tampak kooperatif. Ia “media darling”. Ia fasih, artikulatif, bahkan jenaka. Tapi perhatikanlah: setelah satu jam wawancara, tak ada satu pun substansi—tentang anggaran, tentang konflik, tentang kesalahan—yang benar-benar terucap. Kata-kata menjadi sekadar bunyi melambung ke awang-awang. Kosong.
Kita, agaknya, sedang melihat gejala serupa dipertontonkan dari sebuah panggung tua di Jalan Kramat Raya. Begitulah agaknya Gus Yahya Cholil Staquf naik ke tampuk kepemimpinan PBNU, dengan membawa serta koper penuh berisi bahasa yang mentereng: “Peradaban”, “Koherensi”, “Humanitarian”. Istilah-istilah besar yang, tentu saja, memukau.
Namun, ketika konflik internal menyeruak—ketika ketegangan dengan Syuriyah, yang disebutnya “board of the bosses”, memanas, dan friksi di akar rumput tak kunjung padam—kita melihat teknik say anything but tell nothing itu bekerja dengan sangat canggih.
Setiap kali ditanya soal keretakan hubungan atau manuver politik yang tajam, jawabannya seringkali melambung ke langit abstraksi. Konflik yang riil, yang berdarah-darah di tingkat elit dan membingungkan warga Nahdliyin di bawah, ditukas dengan narasi mutawadhi’ yang terdengar suci namun kabur: “saya hanyalah karyawan Syuriyah”.
Media diberi makan kutipan-kutipan filosofis. Kritik dijawab dengan tawa yang renyah atau metafora yang berbelit. Seolah-olah, dengan bicara soal “tatanan dunia baru”, masalah invasi pada supremasi Syuriyah bisa serta-merta lenyap. Gus Yahya, dalam hal ini, memainkan peran sebagai diplomat yang ulung sekaligus pengelak yang lihai.
Ia hadir di mana-mana, suaranya terdengar di forum-forum, namun inti persoalan—mengapa konflik ini meruncing dan ke mana arah sebenarnya biduk organisasi hendak dibawanya—tetap tersimpan rapat dalam laci rahasia.
Ini adalah diplomasi negatif. Ia tampak merangkul, padahal memukul. Ia terlihat membuka pintu, padahal sedang mengganti kuncinya diam-diam —Kabarnya di kantor PBNU juga sedang ada demonstrasi kuasa oleh teman-teman Gus Yahya, yang mengunci pintu-pintu ruangan yang biasa digunakan oleh pengurus Tanfidziyah, yang dinilai tak setia padanya karena dianggap membela Syuriyah.
Bahayanya adalah ketika publik mulai sadar. Bahwa di balik riuh rendah retorika yang canggih itu, tak ada “kebenaran” yang sedang dibagi. . Ia sekadar memoles diri, mengekspolitasi umat dan kaum bersila. Yang ada hanyalah upaya memperpanjang napas kekuasaan dengan menciptakan kabut
Dan seperti sajak Amir Hamzah di atas, pada akhirnya semua itu mungkin hanya akan jadi bayang-bayang. Ketika kata-kata kehilangan jangkarnya pada kenyataan, Bunyi yang melambung awing. Tembok spiritualitas mulai runtuh dan kepercayaan akan menguap. Kembali sunyi.
Sumenep, 05/01/25.





































