KELUD : Warga berebut tumpeng dalam Festival Kelud 2019 (Muhamad Mahbub/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Kemeriahan Ritual Larung Sesaji bertempat di Kawasan Gunung Kelud terbukti mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di Kediri dan sekitarnya. Namun kejadian janggal mewarnai saat prosesi acara ini berlangsung, Sabtu (14/9). Saat gadis salah satu peserta tiba-tiba jatuh pingsan.

Agenda tahunan merupakan salah satu program wisata unggulan Pemerintah Kabupaten Kediri kembali digelar dalam Festival Gunung Kelud. Rangkaian acara ini, secara resmi dibuka dengan acara ritual sesaji, diawali dengan doa, kemudian diarak dan hasil bumi diwujudkan tumpeng ini kemudian dinikmati bersama.

Diawali dengan penampilan Tarian Reog dilanjutkan doa bersama oleh kelompok antar umat beragama, selanjutnya tumpeng merupakan wujud sedekah bumi ini diarak mulai dari lokasi Rest Area hingga mendekati kawasan puncak. Ada kejadian unik, saat salah satu peserta bernama Desti, merupakan siswa Kelas 8 SMPN 1 Ngancar tiba-tiba jatuh pingsan.

PESERTA KIRAB PINGSAN

KELUD : Kali pertama Desti tiba-tiba jatuh pingsan saat proses ritual larung sesaji (Muhamad Mahbub/duta.co)

Setelah mendapat pengobatan tim medis, dia pun kembali dapat meneruskan perjalanan hingga ke lokasi finish. Namun, pengunjung kembali digegerkan karena dia kembali jatuh pingsan sesaat mencapai garis finish. “Ngakunya pusing, padahal dia biasa jalan naik apalagi dia anak asli sini,” jelas Dian, salah satu guru pendamping di SMPN 1 Ngancar.

Digelarnya acara ini, disampaikan Kepala Desa Sugihwaras Kecamatan Ngancar, Sukemi, sebagai wujud syukur masyarakat yang hidup di Lereng Kelud. “Adalah suatu berkah yang mana meskipun Gunung kelud istilahnya membahayakan, tapi semua itu juga memberkahi. Karena itu akhirnya dari masyarakat punya inisiatif intinya untuk syukuran yang bentuknya hasil bumi,” terangnya.

BERKAH DEWI KILISUCI

KELUD : Prosesi ritual larung sesaji dalam Festival Kelud 2019 (Muhamad Mahbub/duta.co)

Warga pun menyakini tanamannya subur, makmur dan hasil melimpah berkah dari Dewi Kilisuci, merupakan sosok Putri Kediri, masih gadis dan memiliki budi pekerti yang baik. “Acara ini merupakan bentuk jalinan komunikasi kami untuk meminta petunjuk agar tidak terjadi masalah di kemudian hari,” ungkap Kades Sugihwaras.

Dukungan diberikan pemerintah kabupaten melalui Dinas Pariwisata, hal ini disampikan Kadis Pariwisata, Suwignyo ditemui usai acara pembukaan. “Ini adalah rangkaian Festival Kelud yang kita selenggarakan setiap tahun. Salah satunya adalah tradisi dari kearifan lokal Desa Sugihwaras bentuk syukuran atas berkah dari Tuhan,” Jelasnya. Atas acara ini juga berdampak pada kunjungan wisata dan pihaknya memberikan apresiasi kepada warga desa setempat.

POTENSI WISATA KELUD

KELUD : Prosesi ritual larung sesaji dalam Festival Kelud 2019 (Muhamad Mahbub/duta.co)

“Dampak nyatanya kunjungan wisata, yang jelas kita akan apresiasi seperti ini untuk meningkatkan supaya warga mengenal Kabupaten Kediri khususnya Gunung Kelud. Jumlah wisata setiap tahunnya harus meningkat. ke depan, lebih ke dunia publikasi komunikasi dan sosialisasi menggunakan sosial media, media cetak dan media elektronika supaya lebih dikenal khususnya pada sektor pariwisata,” terangnya.

Sejumlah pengunjung mengaku menikmati acara ini, dan beberapa orang ditemui membenarkan jika setiap tahunnya selalu hadir dalam acara ini. Seprti disampaikan Indra, warga Mojo Kabupaten Kediri yang datang bersama saudaranya dari Jakarta.

“Acaranya sangat sakral dan juga ada kesan tersendiri buat saya. Harapan ke depan semoga ritual ini nanti bisa membawa berkah bagi lingkungan sekitar sini. Memberikan keselamatan, memberikan hasil panen yang melimpah, semoga terberkati, dan membawa kemakmuran bagi rakyat,” ucapnya. (bub/nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry