Keterangan gambar rmol.id

SURABAYA | duta.co – Karikatur bertajuk ‘Dilema Muktamar NU’ itu beredar kembali di medsos nahdliyin pekan kemarin. Dalam penelusuran duta.co, karikatur itu sudah lama, rmol.id memuatnya Rabu 5 Agustus 2015, saat berlangsung Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang, Jawa Timur.

Prof Dr H Rochmat Wahab, MPd, MA, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY periode 2011-2016, menjawab ringan, soal (kembali) beredarnya karikatur tersebut di sejumlah grup WA.

“Artinya, warga NU sangat prihatin dengan muktamar ke-33 NU di Jombang. Pun nahdliyin khawatir jangan-jangan muktamar ke-34 NU nanti ‘setali tiga uang’  alias sama saja,” tegas Prof Dr H Rochmat Wahab yang juga Ketua Komite Khitthah Nahdlatul Ulama (KKNU) kepada duta.co, Senin (4/10/21).

Padahal, menurut Prof Rochmat, muktamar ke-34 nanti harus menjadi momentum berbenah secara total. Pesan almaghfurlah Salahuddin Wahid (Gus Solah) jangan sampai ada politik uang. Ini sangat merusak marwah NU.

“Dan, kami hanya bisa berpesan kepada pengurus NU, terutama yang punya hak pilih. Jagalah amanah dengan baik. Ingat perjuangan berat Hadratussyaikh (KH Hasyim Asy’ari), Mbah Abdul Wahab Chasbullah serta para kiai lain dalam mendirikan NU. Malulah sama muassis (pendiri), kalau sampai amanah itu tergadaikan dengan uang,” tambah Prof Rochmat.

Duit Yahudi Vs Sembilan Naga

KH Luthfi Bashori pun mengaku, mendengar kabar burung adanya bagi-bagi duit menjelang muktamar ke-34. “Kabar burung itu sampai ke telinga saya. Intinya, bahwa, muktamar ke-34 NU di Lampung akhir tahun ini, sudah terdengar berita tidak sedap, praktek politik uang (suap menyuap), sebagaimana yang pernah terjadi pada muktamar Jombang dan muktamar ke-32 Makassar,” demikian Gus Luthfi, panggilan akrabnya.

Saat ini beredar isu di kalangan tertentu, bahwa, konon ada seseorang yang ingin menjadi calon ketua umum, berusaha mempengaruhi dengan menggelontorkan sejumlah dana kepada calon para peserta muktamar. “Kalau ini benar, bahaya sekali bagi NU. Kabarnya ada oknum mendapat dana besar dari Yahudi Israel untuk membiayai pencalonan dirinya,” jelasnya.

Di sisi lain, ada pula dugaan oknum tertentu mendapat dukungan para pengusaha (istilahnya) ‘Sembilan Naga’ dan konglomerat China juga membiayai pencalonannya. “Tak pelak persaingan ‘bos asuh’ ini pun terjadi. Hingga isu-isu itu mencuat di kalangan sebagian warga nahdliyyin, bahwa calon A kini tengah berseteru dengan calon B. Padahal semula mereka itu satu tim, namun karena sumber dana dan kepentingan berbeda, maka terjadi persaingan tidak sehat,” lanjutnya.

Menurut Gus Luthfi, tidak ada cara lain untuk menghalau semua itu, kecuali sifat amanah dan wara’ para peserta muktamar. “Calon pemilih yang tidak dapat memilah, mana dana halal dan haram? Atau calon pemilih yang mudah terayu oleh setan, hingga tidak memiliki rasa takut ancaman siksa akhirat, adalah potensial ikut merusak marwah organisasi,” tegasnya.

“Risywah (suap menyuap) itu tidak akan berlaku, jika para pemilih itu tahu dasar hukum secara syariat Islam, tentunya tidak ada satu pun dari oknum pemilih yang mau menerima uang suap nantinya,” tambahnya.

Mengutip sabda Baginda Nabi, menurutnya, Rasulullah SAW pernah bersabda. Bahwa, “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya, ia pasti mendapat pahala dan keimanan yang sempurna. Yaitu: akhlak baik dalam kehidupan bermasyarakat; sifat wara’ (berhati-hati)  mencegahnya dari hal-hal yang haram dalam pandangan Allah SWT; dan sifat penyantun, membuatnya memaafkan kebodohan orang yang jail terhadap dirinya.” HR. Al-Bazzar melalui Sayyidina Anas RA.

“Wara’ adalah sifat menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat (hukumnya samar-samar), apalagi terhadap hal-hal yang haram dalam pandangan Allah SWT. Sementara urusan suap menyuap itu sangat jelas sekali, haram dalam syariat, sebagaimana ketika Rasulullah SAW bersabda: “Yang menyuap dan yang menerima suap itu akan masuk neraka,” pungkasnya mengutip hadits HR. Imam Ath-Thabrani. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry