MALANG | duta.co – Konsep Ekonomi Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali dibedah. Kali ini para pecinta Gus Dur di Malang yang ingin merekam kembali sukses Gus Dur menggerakkan roda ekonomi rakyat. Keberpihakan Gus Dur terhadap nasib wong cilik ini, menyentuh hati para mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Studi Ekonomi Islam CIES FEB Universitas Brawijaya (UB) Malang.

“Secara politik, Indonesia sudah merdeka sejak 65 tahun lalu. Selama ini kedaulatan bangsa untuk urusan politik relatif terjaga dengan baik, terlepas dari pasang surut yang terjadi. Ironisnya, kemerdekaan politik tersebut tidak diikuti dengan kedaulatan ekonomi,” demikian A. Musa salah satu panitia pelaksana kepada duta.co, Rabu (30/1/2019).

Kamis (30/1/2019) pagi, di Hotel Atri Malang mereka membedah konsep ekonomi Gus Dur. Mereka mendatangkan Dr Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Gus Dur dan Prof Dr Sri Edi Swasono, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (UI) yang juga dikenal guru besar ekonomi rakyat.

“Kita bedah konsep ekonomi Gus Dur yang penuh keberpihakan kepada rakyat. Kita ingin tahu bagaimana Gus Dur melakukan penguatan  ekonomi kerakyatan menuju kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya,” tegasnya.

Menurut Musa, Gus Dur pernah mengatakan, Indonesia pada 1945 baru merdeka secara politik. Tetapi belum  secara ekonomi. Dengan kata lain, bangsa ini belum berdaulat secara ekonomi. “Gus Dur yang kita baca berhasil mengurai problem tersebut. Kebijakan ekonomi  yang hanya berkutat pada level elit, diubah menjadi kerakyatan,’’ ujarnya.

Hari ini, tegasnya, keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil melemah, atau bahkan nyaris punah. Meminjam bahasa Pak Rizal Ramli, pemerintah sekarang doyan sekali dengan impor pangan. Padahal, impor pangan sama saja membunuh rakyat yang di bawah, petani.

“Itulah sebabnya, kita undang beliau, karena beliau ini paham bagaimana keberpihakan Presiden Gus Dur saat itu kepada wong cilik,” ujarnya.

Begitu pula dengan Prof Sri Edi Swasono, menantu Bung Hatta, bisa menjelaskan bagaimana konsep penguatan ekonomi kerakyatan. Apalagi secara historis, wacana ekonomi kerakyatan sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Salah satu pengusung utamanya adalah Bung Hatta.

“Bung Hatta menulis, bahwa, azas kerakyatan mengandung pengertian bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Segala hukum (recht, peraturan perundang-undangan) harus bersandar pada perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dalam hati rakyat banyak. Ini sekarang luntur semua,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.