KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. (FT/pelita aswaja)

SITUBONDO |  duta.co – KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Selasa (14/1/2020),  menyatakan bahwa mengawal khittah Nahdlatul Ulama (NU), itu berarti menjaga warisan dan perjuangan Kiai As’ad dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari serta menjaga keutuhan NKRI.

Demikian pula disampaikan Kiai Azaim, melalui buku tentang makna khittah NU, yang disebarkan pada acara Haul Majemuk pendiri dan pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, di Masjid Jami’ Ibrahimy, kemarin pada hari Senin 13 Januari 2020.

Haul majemuk ini dihadiri ribuan santri, alumni dan simpatisan pondok pesantren Sukorejo, Syekh Syarif Adnan At Talidi, dari Maroko, sejumlah Kiai dan para habaib serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Situbondo. Acara berlangsung khidmat.

Kiai Azaim sendiri menyampaikan terima kasih kepada kaum muslim dan muslimat yang datang mengikuti haul majemuk pendiri dan pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Menurutnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo telah menjadi saksi sejarah Khittah NU, karena pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU pada tahun 1984.

Sebagai penerus pesantren Sukorejo, maka, Kiai Azaim merasa perlu menerbitkan buku makna Khittah NU, karena situasi dan kondisi belakangan ini yang menuntut adanya pembaharuan pemahaman tentang makna Khittah NU.

Jaga Keutuhan NKRI
HAUL MAJEMUK : Suasana Haul Majemuk di Masjid Jami’ Ibrahimy (duta.co/heru)

Masih menurut Kiai Azaim, Khittah NU sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru, karena sudah tertuang di dalam risalah berdirinya NU yang ditulis pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Maka itu, Kiai Azaim mengijinkan buku makna khittah NU itu disebarluaskan di pondok pesantren yang segaris dengan perjuanganya pondok pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, supaya perjuangan NU senantiasa berada di jalur para pendirinya.

Lebih lanjut, Kiai Azaim menambahkan, bahwa, dalam pertemuan di Jombang beberapa waktu lalu, dirinya sudah mendapatkan restu untuk menyebar luaskan buku makna khittah NU, termasuk menghidupkan kembali wiridan Ya Jabbar, Ya Qahhar, yang telah disebar luaskan beserta tata cara mengamalkannya.

Untuk itu, Kiai Azaim mengajak kepada para santri, alumni dan simpatisan, untuk terus menjaga ajaran ahlus sunnah wal jama’ah. Kiai Azaim yakin, bahwa mengawal khittah NU, berarti menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. her

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry