(ki-ka) dr Ali Mahmud, Sp OG, Subsp FER dan Founder sekaligus pimpinan ASHA IVF Indonesia, Dr dr Amang Surya P, Sp OG, F MAS dalam Hope Festival 2026. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Memiliki anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri (pasutri). Tidak semua pasutri yang menikah bisa mendapatkan momongan yang cepat, ada yang harus menunggu lima tahun, 10 tahun bahkan ada yang lebih baru mendapatkan momongan yang sangat didambakan.

Antusiasme pasutri yang belum mendapatkan momongan terlihat dalam Hope Festival 2026, festival edukasi dan pendampingan fertilitas persembahan ASHA IVF Indonesia. Kegiatan berlangsung di lantai 3 Grand Ballroom Vasa Hotel, Surabaya, Minggu, 18 Oktober 2026 diikuti 400 dari 2.916 pasutri terpilih.

Pendaftar tidak hanya berasal dari Surabaya dan kota-kota di Jawa Timur seperti Sidoarjo, Gresik, Malang, Kediri, dan Jember, tetapi juga dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang, hingga luar Jawa seperti Aceh, Medan, Palembang, Pekanbaru, Lampung, Bali, Banjarmasin, Samarinda, dan Ambon.

ASHA IVF Indonesia ini memberikan kesempatan bagi pasangan yang tengah menjalani program kehamilan untuk memahami kondisi kesuburan, berkonsultasi langsung dengan dokter, serta menentukan pilihan penanganan sesuai kondisi medis dan kemampuan finansial.

“Di balik angka 2.916 pendaftar, ada ribuan cerita, perjuangan, dan harapan. Melalui Hope Festival, kami ingin pasangan merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Mereka berhak memperoleh edukasi, kesempatan untuk bertanya, dan pendampingan dalam menentukan langkah yang paling sesuai,” ujar drg. Adittya Kardiat, MARS, Managing Director ASHA IVF Indonesia.

Buka Akses Layanan Fertilitas

Founder sekaligus pimpinan ASHA IVF Indonesia, Dr dr Amang Surya P, Sp OG, F MAS mengatakan, Hope Festival dirancang membantu pasangan memperoleh informasi yang tepat sekaligus membuka akses terhadap layanan fertilitas.

“Di Hope Festival ini, kami ingin berperan sebagai hope maker, membantu memberikan harapan yang tidak sia-sia. Kami ingin menjadi tempat bagi masyarakat untuk belajar, mencari jawaban, dan menemukan solusi atas persoalan fertilitas yang selama ini mungkin belum mereka pahami,” ujar Amang kepada wartawan.

Menurutnya pemahaman mengenai kondisi reproduksi menjadi langkah penting sebelum pasangan menentukan program kehamilan. Tanpa pemeriksaan dan penanganan yang tepat, pasien berisiko menjalani program yang tidak sesuai dengan kondisi medisnya sehingga waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan tidak memberikan hasil optimal.

Lewat Digitalisasi Amang menegaskan, program hamil tidak semata-mata berorientasi pada keberhasilan memperoleh kehamilan, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan ibu dan janin. Karena itu, penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan.

“Kalau kondisinya masih memungkinkan untuk program alami, mengapa harus bayi tabung? Namun, kalau memang ada indikasi bayi tabung, jangan dipaksakan untuk terus mencoba secara alami,” lanjutnya.

Dia juga mengingatkan pasangan agar mempertimbangkan kompetensi dokter, reputasi klinik, serta kualitas peralatan medis ketika memilih fasilitas layanan fertilitas. Amang menilai pasien tidak selalu harus mencari layanan bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) ke luar negeri.

Menurut dia, fasilitas fertilitas di Indonesia memiliki tenaga medis dan teknologi untuk menangani beragam kasus, termasuk pasien yang sebelumnya gagal menjalani program di luar negeri.

60 Persen Pasien ke IVF ASHA Prognosis Kurang Baik

Dia menyebut lebih dari 60 persen pasien yang datang ke klinik IVF ASHA memiliki prognosis kurang baik atau poor prognosis. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan usia istri di atas 35 tahun, rendahnya cadangan sel telur, lamanya masa pernikahan tanpa kehamilan, hingga gangguan reproduksi seperti endometriosis.

Meski menghadapi tantangan medis yang beragam, Amang mengatakan tingkat keberhasilan kliniknya berada di atas tolok ukur yang digunakan sebagai pembanding. Namun, dia tidak merinci angka keberhasilan maupun tolok ukur tersebut.

“Banyak pasien yang datang ke ASHA itu gagal di luar negeri. Kami ingin menunjukkan bahwa klinik IVF di Indonesia, khususnya ASHA, tidak inferior. Kami mampu bersaing, baik dari sisi tingkat fertilisasi, pembentukan blastokista, maupun angka kehamilan,” ujarnya.

Sementara Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas endokrinologi reproduksi, dr Ali Mahmud, Sp OG, Subsp FER menambahkan, perjalanan program bayi tabung setiap pasangan memiliki tantangan berbeda.

“Keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada aspek medis, tetapi juga kesiapan finansial, emosional, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial. “

Menurut Ali, ada pasangan yang secara medis memungkinkan menjalani program IVF, tetapi terkendala biaya. Sebaliknya, ada pula pasangan yang siap secara finansial, tetapi membutuhkan penanganan medis khusus.

“Kami ingin memberikan harapan yang bukan harapan kosong, tetapi berdasarkan data dan solusi yang tersedia. Pasien diharapkan memahami masalahnya, mengetahui gambaran peluang keberhasilan, dan mengerti apa yang harus dilakukan jika programnya belum berhasil,” kata Ali.

Dia mencontohkan pasien yang telah menikah selama 25 tahun tanpa kehamilan dan akhirnya berhasil hamil setelah menjalani penanganan tim medis. Ali juga menceritakan pasien dari Trenggalek yang harus berangkat ke Surabaya sejak pukul 03.00 WIB untuk menjalani kontrol menggunakan bus. Ketika tidak mendapatkan bus untuk pulang, pasien tersebut bahkan harus menginap di terminal.

Pengalaman itu, menurut Ali, menggambarkan kendala akses layanan fertilitas yang masih dihadapi sebagian pasangan, terutama mereka yang tinggal jauh dari pusat pelayanan. Untuk mengatasi persoalan jarak, ASHA IVF mengembangkan jaringan rujukan ASHA Link yang menghubungkan dokter di daerah dengan pusat layanan IVF di Surabaya.

Melalui jaringan ini, sebagian tahapan pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan di kota asal pasien sehingga mereka tidak harus berulang kali bepergian ke Surabaya.

Ali menjelaskan, dokter yang tergabung dalam jaringan tersebut mendapat penyelarasan kompetensi dan pendekatan klinis agar penanganan pasien berjalan dengan standar yang sejalan.

“Dokter yang tergabung dalam jaringan kami bisa melakukan stimulasi di daerah, sehingga pasien tidak harus datang ke Surabaya untuk setiap tahapan. Ketika tiba waktunya pengambilan sel telur atau ovum pick-up (OPU), prosedur tersebut baru dilakukan di Surabaya di bawah pengawasan tim ASHA,” jelasnya.

Jaringan tersebut telah berjalan di sejumlah kota, termasuk Tegal dan Madiun, serta direncanakan berkembang ke daerah lain, seperti Malang. Selain tiga pusat IVF di Surabaya, jaringan layanan fertilitas yang terhubung dengan grup ASHA mencakup Nusraya di Makassar, Bandung Fertility Center di Bandung, dan Halim Fertility Center di Medan. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry