“Ramadhan, menurut saya, bukan kompetitor FF72, bukan pula versi religius dari water fasting. Ia adalah puasa yang memadukan tubuh, etika, dan komunitas.”
Catatan Cak AT*

SEBULAN lagi Ramadhan datang, seperti tamu agung yang selalu hadir tanpa perlu undangan, mengetuk pintu hati miliaran manusia dengan salam yang sama: puasa. Umat Islam bersiap —dari yang menyiapkan jadwal sahur sampai yang menyiapkan dalih absen tarawih.

Di masjid, di rumah, di kantor, di warung, bahkan di linimasa media sosial, puasa kembali menjadi kata kunci. Ada yang memaknainya sebagai ibadah, ada yang mereduksinya menjadi diet, ada pula yang menjadikannya sekadar kalender religius yang wajib dipatuhi, seperti membayar pajak batin tahunan.

Di tengah itu semua, datanglah satu istilah yang terdengar modern, beraksen laboratorium, dan tampak lebih cocok di podcast kesehatan ketimbang di mimbar masjid: FF72 —Fat Fasting 72 Jam. Tiga hari tanpa makan. Tidak sahur, tidak berbuka, tidak takjil, tidak kolak pisang, bahkan tidak “cuma nyicip”. Hanya boleh minum air putih, kopi hitam, teh tawar, selesai.

Selebihnya: tubuh disuruh bekerja sendiri, membersihkan dirinya, mendaur ulang sel, memperbaiki sistem imun, membakar lemak. Kalau tubuh merasa lapar, biarkan ia memakan lemak yang tertimbun di rongga-rongga tubuh. Simpanan lemak itu banyak dan berlebih. Inilah alasan puasa nonstop tiga hari tidak akan membuat orang mati —selama dilakukan dengan benar.

Kata para ilmuwan, justru di sinilah autophagy —pembersihan sel— menari paling riuh; insulin menjadi lebih jinak; inflamasi mereda; otak justru lebih tajam karena hidup dari keton. Sebuah reset biologis yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti spa eksklusif untuk organ-organ dalam.

Di sinilah pikiran saya tersentak: bukankah kita sudah lama mengenal puasa, bahkan menjadikannya ibadah massal? Bedanya, puasa Ramadhan itu terikat matahari: fajar sampai magrib. Ada jeda malam, ada sahur, ada iftar, ada keluarga, ada masjid, ada kebersamaan.

Sementara puasa FF72 adalah puasa yang tidak mengenal waktu, tidak mengenal piring, tidak mengenal keramaian. Ia seperti puasa yang ditarik dari dunia spiritual ke meja riset: dingin, presisi, penuh grafik, minim romantika.

Namun, mari kita jujur sejenak. Puasa Ramadhan yang kita jalani selama sebulan, secara biologis, belum tentu memaksa tubuh masuk ke fase yang sama. Kita berpuasa 13–15 jam, lalu saat berbuka membalasnya dengan pesta karbohidrat, gula, dan gorengan yang jika dikumpulkan kalorinya bisa menyaingi jam kerja tukang bangunan.

Tubuh kita, yang seharusnya diajak merenung dan membersihkan diri selama satu bulan, justru sering diperlakukan seperti gudang logistik: siang ditutup, malam ditumpuki. Autophagy? Ketosis? Sensitivitas insulin? Maaf, tubuh kita mungkin terlalu sibuk mencerna sirup dan ketupat untuk sempat membersihkan sel-sel rusaknya.

FF72, dalam hal ini, bukan puasa Ramadhan yang diperpanjang. Ia bukan ibadah ritual, melainkan laku metabolik. Ia tidak menjanjikan pahala ukhrawi, tetapi menawarkan efek yang sangat duniawi: perbaikan sel, penurunan inflamasi, reset sistem imun, dan, bagi yang mengejarnya, penurunan berat badan.

Ia menuntut disiplin ekstrem —tiga hari tanpa asupan kalori— dan justru di situ tubuh dipaksa berpindah dari mode “menerima” ke mode “memperbaiki”. Hari pertama tubuh masih menghabiskan sisa glikogen; hari kedua rasa lapar mencapai puncaknya; hari ketiga, anehnya, lapar sering mereda, digantikan kejernihan yang oleh sebagian orang disebut “jernih tapi sedikit mistis”.

Di titik ini, saya teringat satu istilah dalam tradisi laku Jawa: “mutih”. Laku asketik yang membatasi diri pada sesuatu yang amat sederhana, sering kali hanya air dan nasi putih, kadang bahkan lebih keras.

Tujuan “mutih” jelas bukan diet, melainkan disiplin batin: menundukkan nafsu, mengosongkan diri, agar kesadaran bisa mendengar sesuatu yang lebih halus. Jika FF72 adalah puasa versi biokimia, mungkinkah ia adalah “mutih” versi laboratorium?

Yang satu berbicara dengan grafik _autophagy_ dan keton; yang lain berbicara dengan bahasa laku, tirakat, dan penjinakan ego. Arah panahnya berbeda, tapi targetnya terasa beririsan: mengosongkan tubuh agar ada ruang bagi sesuatu yang lain—entah itu perbaikan sel, atau kejernihan batin.

Namun, jangan salah. FF72 bukan untuk semua orang, sebagaimana “mutih” juga bukan untuk semua santri. Praktik FF72 berisiko bagi yang hamil, menyusui, penderita diabetes, mereka yang memiliki gangguan makan, atau yang bergantung pada obat tertentu.

Bahkan bagi yang sehat sekalipun, ia menuntut persiapan, hidrasi, elektrolit, dan kebijaksanaan saat berbuka kembali. Ini bukan heroisme Instagram, bukan pula ajang pamer ketahanan. Tubuh bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan rumah yang perlu dirawat —kadang dengan istirahat, kadang dengan puasa.

Lalu, di mana posisi Ramadhan di antara semua ini? Ramadhan, menurut saya, bukan kompetitor FF72, bukan pula versi religius dari water fasting. Ia adalah puasa yang memadukan tubuh, etika, dan komunitas. Ia mengajarkan lapar bukan hanya sebagai proses biologis, tetapi sebagai pendidikan empati.

Kita menahan diri selama puasa Ramadhan bukan hanya dari makan, tetapi dari amarah, dari dusta, dari keserakahan. Jika FF72 mengajak tubuh masuk mode perbaikan, puasa Ramadhan mengajak manusia masuk mode perbaikan: hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dengan diri sendiri.

Ironinya, kita sering berhasil di satu sisi dan gagal di sisi lain. Ada yang sangat disiplin menahan lapar, tetapi longgar menahan lidah. Ada yang khusyuk tarawih, tetapi rakus saat berbuka.

Sebaliknya, ada pula yang tertarik pada FF72 karena ingin “membersihkan tubuh”, tetapi lupa bahwa tubuh yang bersih tanpa jiwa yang jujur hanya melahirkan manusia yang lebih ramping, bukan manusia yang lebih arif.

Maka, menjelang Ramadhan, mungkin pertanyaannya bukan: “Haruskah saya mencoba FF72?” melainkan: “Apa yang sebenarnya ingin saya bersihkan?” Jika jawabannya hanya timbangan dan lingkar pinggang, FF72 mungkin memadai. Jika jawabannya juga mencakup niat, kebiasaan, dan cara kita memperlakukan sesama, Ramadhan menyediakan sekolah yang lebih luas—meski sering kita jalani dengan murid yang setengah hadir.

Barangkali, di titik paling sunyi dari puasa —entah itu hari ketiga FF72 atau hari-hari terakhir Ramadhan— kita akan menemukan pelajaran yang sama: bahwa ketika tubuh berhenti menerima, ia mulai memperbaiki; dan ketika manusia berhenti menuntut, ia mulai memahami.

Angka 72 jam bisa menjadi eksperimen metabolik; tiga puluh hari bisa menjadi latihan kemanusiaan. Keduanya, jika dijalani dengan jujur, mengajarkan satu hal yang jarang kita dengar di dunia yang gemar menimbun: kadang, dengan mengosongkan diri, kita justru menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

*Cak ATadalah Ahmadie Thaha. Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur’an

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry