Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, meninjau langsung kondisi Kampung Ilmu di Surabaya saat masa reses, sebagai bentuk perhatian terhadap pengembangan kawasan wisata pendidikan dan literasi bagi generasi muda.

SURABAYA | duta.co – Keberadaan Kampung Ilmu di Surabaya kembali menjadi sorotan dalam momentum Hari Pendidikan Nasional. Kawasan yang dikenal sebagai pusat buku bekas murah dan terlengkap ini dinilai memiliki potensi besar sebagai ikon wisata pendidikan, namun membutuhkan sentuhan kebijakan dan infrastruktur agar lebih optimal.

Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, meninjau langsung Kampung Ilmu saat masa reses. Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa konsep wisata tidak hanya sebatas religi atau hiburan, tetapi juga dapat dikembangkan dalam bentuk wisata pendidikan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Ini adalah kawasan wisata pendidikan. Ikon Surabaya untuk mencerdaskan generasi muda. Kampung Ilmu seharusnya menjadi destinasi wajib bagi pelajar, mulai dari SD hingga SMA,” ujarnya Sabtu,(2/5/2026).

Menurutnya, dengan jumlah lebih dari 900 sekolah dasar, ratusan SMP, hingga sekitar 200 SMA di Surabaya, kebutuhan akan akses buku berkualitas dengan harga terjangkau sangat besar. Kampung Ilmu dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut karena menyediakan beragam buku pelajaran, novel, hingga majalah yang menunjang proses belajar formal maupun informal.

Namun demikian, ia juga menyoroti kondisi infrastruktur yang dinilai kurang memadai. Jalan yang belum berpaving menyebabkan kawasan menjadi becek saat hujan, sehingga mengurangi kenyamanan pengunjung.

“Kalau hujan becek, siapa yang mau datang? Ini harus difasilitasi, mulai dari paving, penerangan, hingga tempat baca yang nyaman. Saya dorong teman-teman di DPRD untuk memperhatikan ini,” tegasnya.

Bambang Haryo juga menyinggung pentingnya investasi di sektor pendidikan dalam menghadapi bonus demografi pada 2036. Ia menilai generasi muda harus dipersiapkan dengan kemampuan intelektual yang kuat agar mampu bersaing secara global.

“Kita akan menghadapi 70 persen penduduk usia produktif. Kalau tidak disiapkan dengan baik, kita bisa kalah bersaing dengan negara lain,” tambahnya.

Ia bahkan membandingkan potensi Kampung Ilmu dengan konsep Taman Pintar di Yogyakarta, yang telah lebih dulu berkembang sebagai pusat edukasi interaktif. Menurutnya, lahan Kampung Ilmu yang cukup luas dapat dikembangkan menjadi taman literasi modern yang terintegrasi dengan kegiatan seni dan budaya.

Sebagai bentuk dukungan awal, Bambang Haryo berkomitmen memberikan bantuan material seperti semen untuk perbaikan saluran yang bocor, serta fasilitas penerangan dan sound system guna menunjang aktivitas seni di kawasan tersebut.

Sementara itu, Wakil Pengurus Kampung Ilmu, Feri Fianca, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan. Ia menyebut kondisi kawasan yang becek dan kumuh saat hujan sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

“Sudah lebih dari 10 tahun kondisi seperti ini. Dulu sempat ada rencana paving dari pemerintah kota, tapi belum terealisasi sampai sekarang,” ujarnya.

Ia berharap dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun legislatif, dapat mempercepat penataan Kampung Ilmu agar menjadi destinasi wisata pendidikan yang representatif dan membanggakan.

Dengan sinergi antara kebijakan politik dan kebutuhan pendidikan masyarakat, Kampung Ilmu diharapkan tidak hanya menjadi pusat literasi, tetapi juga simbol komitmen Surabaya dalam mencetak generasi unggul di masa depan. (gal)