Oleh Prof. Dr. Moh. Mukhrojin, S.H., S.Pd.I., S.AP., M.Si. Ketua Umum MUI Kec. Sukolilo

KEHIDUPAN seorang Muslim tidak cukup hanya diukur dari kualitas ibadah individual, tetapi juga dari kemampuannya hidup bersama, bersabar menghadapi berbagai karakter manusia, serta memberikan manfaat kepada sesama. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam pembekalan peserta Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Profesional Tahun 2026 di Surabaya.

Dalam materi tersebut dijelaskan dua pilihan yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam, yakni ‘uzlah dan mukhālaṭah. ‘Uzlah berarti memilih menyendiri atau membatasi interaksi dengan manusia, sedangkan mukhālaṭah merupakan pilihan untuk tetap bergaul dan menjalani kehidupan bersama masyarakat.

Pilihan ‘uzlah terkadang ditempuh seseorang untuk menjaga dirinya dari berbagai penyakit hati dan perbuatan dosa yang dapat muncul akibat interaksi dengan manusia. Pertemuan dengan orang lain dapat menjadi pintu munculnya hasad, iri hati, persaingan, prasangka, kemarahan, hingga keinginan merasa lebih baik dibandingkan orang lain.

Hidup menyendiri memang dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga hati, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sejumlah ahli ibadah pada masa lalu juga dikenal memilih jalan tersebut.

Namun, hidup bersama manusia memiliki keutamaan tersendiri. Seseorang yang memilih berada di tengah masyarakat akan berhadapan dengan beragam sifat dan karakter manusia. Kondisi tersebut sekaligus menjadi ujian nyata terhadap kesabaran, kebersihan hati, dan kematangan akhlaknya.

Pesan itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Al-mu’minulladzī yukhāliṭun-nāsa wa yaṣbiru ‘alā adzāhum khairun minal-mu’minilladzī lā yukhāliṭun-nāsa wa lā yaṣbiru ‘alā adzāhum.

Artinya, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.”

Hadis tersebut memberikan pesan bahwa kesalehan tidak hanya diuji ketika seseorang berada dalam ketenangan dan menjalankan ibadah secara pribadi. Kesalehan juga terlihat ketika seseorang mampu menjaga akhlaknya saat berada di tengah masyarakat.

Interaksi antarmanusia memang berpotensi melahirkan persoalan. Perlakuan buruk dapat dibalas dengan keburukan, kemudian balasan tersebut kembali mendapatkan balasan. Siklus semacam itu pada akhirnya dapat memperbesar persoalan dan melahirkan permusuhan.

Rasulullah SAW memberikan keteladanan sebaliknya. Beliau mengajarkan kesabaran, memaafkan, menjaga hubungan dengan sesama, serta membalas keburukan dengan akhlak yang baik. Kehadiran seorang Muslim di tengah masyarakat semestinya menghadirkan kemaslahatan, bukan justru menjadi sumber persoalan.

Prinsip tersebut dirangkum dalam ungkapan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās.

Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Relevan bagi Pembimbing Haji dan Umrah

Nilai mukhālaṭah dan kesabaran tersebut sangat relevan bagi para calon pembimbing haji dan umrah. Seorang pembimbing tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang fikih, manasik, dan rangkaian perjalanan ibadah haji. Kemampuan berinteraksi dan melayani jemaah menjadi bagian penting dari kompetensi seorang pembimbing.

Jemaah haji datang dengan latar belakang, usia, pendidikan, kondisi fisik, kebiasaan, dan karakter yang berbeda-beda. Pembimbing karena itu dituntut memiliki kesabaran yang tinggi ketika menghadapi berbagai situasi di lapangan. Ini ladang pahala. Harus dijadikan resep jitu bagi para pembimbing haji.

Saat jemaah kebingungan, pembimbing harus hadir memberikan petunjuk. Ketika jemaah kelelahan atau sakit, pembimbing harus memberikan perhatian dan pendampingan. Saat muncul persoalan antarsesama jemaah, pembimbing juga diharapkan mampu menjadi penengah dengan akhlak yang baik.

Tugas tersebut menunjukkan bahwa menjadi pembimbing haji bukan sekadar menguasai teori manasik. Pembimbing merupakan sosok yang dituntut mampu menerjemahkan ilmu menjadi pelayanan nyata.

Kesabaran menghadapi jemaah bahkan dapat menjadi bagian dari ibadah itu sendiri. Menahan amarah, mengendalikan ego, tidak mudah tersinggung, menghindari hasad, menjaga lisan, dan tetap berbuat baik ketika menghadapi orang dengan karakter berbeda merupakan latihan spiritual yang sangat penting.

Sertifikasi pembimbing haji dan umrah dengan demikian tidak semata-mata diarahkan untuk melahirkan pembimbing yang menguasai aspek teknis perjalanan ibadah. Pembimbing juga diharapkan memiliki kematangan spiritual, sosial, dan emosional sehingga mampu menjadi teladan bagi jemaah.

Pada akhirnya, ukuran seorang pembimbing yang baik bukan hanya seberapa luas ilmu manasik yang dikuasainya, tetapi juga seberapa besar manfaat yang dirasakan jemaah dari kehadirannya.

Semangat “khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās” menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang Muslim salah satunya tercermin dari kemampuannya menghadirkan manfaat. Bagi seorang pembimbing haji dan umrah, manfaat itu diwujudkan melalui ilmu, kesabaran, keteladanan, pelayanan, dan kesediaan mendampingi jemaah dalam menjalankan perjalanan menuju Baitullah.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry