“Kini demonstrasi telah dua minggu bergejolak. Bendera Iran dibakar dan diganti dengan bendera Iran masa Shah Reza Pahlavi. Putra Pahlavi yang tinggal di Amerika menyemangati para demonstran.”

Oleh Achmad Murtafi Haris

IRAN bergolak. Kali ini benar-benar kritis. Massa tewas 2000 lebih. Massa luka, jelas lebih dari itu. Akankah pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bertahan?! Akankah rezim Islam yang berkuasa 47 tahun tumbang dan diganti sekuler?

Ekonomi Iran terus menurun hingga para pedagang melakukan demonstrasi menuntut perbaikan ekonomi pada 27 Desember kemarin. Aksi bergolak menjadi besar setelah  mahasiswa terlibat di dalamnya. Demo pun menjadi aksi nasional di banyak provinsi.

Ini adalah demo terbesar semenjak rezim Islam berkuasa pasca mengkudeta penguasa sekuler pada 1979. Keberhasilan Ayatullah Ruhullah Khumaini, sang pemimpin revolusi, ke tampuk kekuasaan mengawali berlakunya sistem Islam Syiah dengan otoritas tertinggi ada pada ulama (wilayat al-faqih). Mereka mewajibkan berlakunya syariat yang dalam pandangan sekuler dianggap mengekang kebebasan rakyat.

Selain mengusung ideologi Islam dan menjadi model bagi gerakan revolusi Islam sedunia, Republik Islam Iran juga menolak keberadaan Israel di Palestina. Sikap ini menjadikan Iran dalam eskalasi  tiada henti dengan Amerika dan barat sekutu Israel. Di saat dunia Arab di bawah pimpinan Mesir menempuh jalan damai (perundingan) dengan Israel karena  lelah berperang, Iran justru menentang keras langkah itu dan mendorong kelompok-kelompok militan jihadis untuk berperang melawan keberadaan Israel di kawasan.

Aturan berbusana yang ketat bagi wanita menimbulkan  perlawanan keras  berujung tragedi kematian Mahsa Amini aktifis perempuan yang meninggal di tahanan karena ditangkap tidak berjilbab. Tragedi yang memicu demonstrasi besar-besaran di kalangan perempuan pada 2022. Alih-alih menuntut kebebasan, rezim justru meresponnya dengan keras hingga penggunaan drone untuk mengawasi wanita di jalanan yang tidak menggunakan jilbab. Sesuatu yang memendam kemarahan yang terluapkan pada demo kali ini.

Sebagai episentrum Syiah, Iran sempat melonjak dan menunjukkan dominasinya di kawasan. Penjatuhan  Sadam Hussein pada 2003 oleh Amerika justru membuka jalan bagi mayoritas Syiah di Irak untuk berkuasa. Iran mampu mengkonsolidasi jaringan syiah dalam menumpas ISIS di Suriah dan Irak dan merebut ibukota ISIS di Raqqa, 2017. Juga dalam mendukung berkuasanya rezim Houthi di Yaman pada September 2014.

Keberhasilan itu tidak lepas dari peran cerdas Qasem Suleimani, panglima proxy Iran. Keberadaannya  menjadi ancaman bagi Israel dan Amerika yang kehilangan pengaruh  hingga akhirnya Trump memerintahkan untuk membunuhnya lewat drone pada  Januari 2020 saat meninggalkan bandara Baghdad. Sepeninggal Suleimani, performa Iran terus menurun hingga perang Hamas-Israel terjadi (Oktober 2023) dan Iran tidak mampu mengantarkan Hamas pada kemenangan bahkan kebalikannya, Iran pun terkena serangan rudal dan drone Israel yang  membombardir  instalasi nuklir dan membunuh para  ahli.

Perang Hamas-Israel atau perang Poros Iran vs. Israel selama dua  tahun lebih telah menghancurkan sendi-sendi  kekuatan Iran dan jaringan. Krisis ini membuat Iran tidak mampu menopang diri dan negara jaringan hingga tumbang. Bashar Assad presiden Syria   tumbang dan melarikan diri ke Rusia. Houthi menghadapi perlawanan bersenjata dari milisi Yaman Selatan yang sunni. Dominasi Iran rontok hingga terjadi krisis dalam negeri yang parah.

Kini demonstrasi telah dua minggu bergejolak. Bendera Iran dibakar dan diganti dengan bendera Iran masa Shah Reza Pahlavi. Putra Pahlavi yang tinggal di Amerika menyemangati para demonstran dan berjanji akan hadir dan memimpin masa peralihan menuju Iran yang bebas dan demokratis.

Di sisi lain pihak pro pemerintah mengadakan demo tandingan yang tidak kalah besarnya. Slogan yang diusung adalah melawan demonstran teroris yang dibiayai Amerika dan Israel. Sebagian pengamat ada yang mengatakan bahwa rezim Khamenei akan berhasil mengatasi aksi massa yang brutal ini seperti keberhasilannya mengatasi demo 2022.

Sedangkan bagi kelompok kontra pemerintah, aksi kali ini betul-betul harus berakhir dengan penurunan rezim atau mereka akan terancam menjadi pesakitan ke depan. Salah satu pengamat anti pemerintah yang diwawancarai CNN berharap betul agar Trump turun tangan dan menumbangkan rezim Khamenei atau rakyat Iran yang akan jadi korbannya. Sistem teokratis telah menghasilkan otoritarianisme yang merugikan rakyat Iran dan rakyat kini memperjuangkan kebebasan dari cengkeraman itu, kata demonstran. (*)

*Achmad Murtafi Haris adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry