“Saya teringat bagaimana Abah Hasyim dulu memimpin NU: Konflik tidak diumumkan, tetapi diselesaikan. Perbedaan tidak dipertontonkan, tetapi dirajut. Abah memadamkan sebelum bara itu menyala.”
CATATAN PINGGIR ROMADLON SUKARDI, MM*

SAYA membayangkan sowan itu terjadi di sebuah ruang yang tak terlalu luas, tetapi hangat. Tidak megah, tidak resmi, namun penuh keteduhan. Wajah Abah Hasyim Muzadi menyambut dengan senyum khas—senyum yang tidak sekadar ramah, tetapi menenangkan. Sudah lama saya tidak sowan, dan rasa itu seperti pulang ke rumah batin yang lama saya rindukan. Dalam keheningan itulah saya mengutarakan kegelisahan: tentang NU, tentang martabat, tentang rasa yang mulai terasa berbeda di sebagian ruang sosial kita.

Saya ceritakan sebuah peristiwa yang mengusik nurani: di sebuah kompleks perumahan, seorang ibu muslimah—berbusana syar’i lengkap—menolak dengan alasan apa pun berdirinya kantor NU di samping rumahnya. Peristiwa ini terasa aneh, bahkan menyakitkan. Bukankah NU selama ini dikenal sebagai wajah Islam yang ramah, damai, dan menenteramkan? Mengapa kehadirannya justru memantik penolakan?

Abah mendengarkan tanpa menyela. Lalu pelan beliau berkata—dalam imajinasi batin saya—“Nak, manusia pada dasarnya mencintai kebaikan, keindahan, dan ketenteraman. Kalau kebaikan ditolak, jangan-jangan bukan nilainya yang bermasalah, tapi cara kita menghadirkannya.” Kalimat itu sederhana, tetapi menghunjam. Seolah Abah mengajak saya bercermin, bukan menunjuk.

Sebagai warga NU, kita meyakini bahwa kantor NU adalah simbol khidmah, pusat maslahat, dan sumber keberkahan. Tetapi Abah mengingatkan: keyakinan internal tidak otomatis menjadi persepsi publik. Jika sebagian masyarakat—bahkan sebagian warga NU sendiri—mulai merasa NU tampak kurang indah, kurang damai, dan kurang menyejukkan, maka itu bukan soal mereka semata. Bisa jadi ini adalah isyarat agar NU melakukan muhasabah kolektif.

“Organisasi sebesar NU,” kata Abah dalam bayangan saya, “bisa kehilangan wibawanya bukan karena diserang dari luar, tapi karena pelan-pelan kehilangan kepekaan dari dalam.” Ketika NU lebih sering terdengar keras daripada teduh, lebih sibuk berdebat daripada merangkul, maka wajah rahmah itu memudar. Bukan hilang, tapi tertutup oleh debu ego dan kepentingan sesaat.

Abah lalu menegaskan sesuatu yang sangat mendasar: NU tidak hidup dari gedung, spanduk, atau jabatan. NU hidup dari akhlak para penggeraknya. Jika akhlaknya meneduhkan, NU akan selalu diterima. Jika akhlaknya kasar, simbol apa pun akan ditolak. Maka mengembalikan martabat NU bukan dengan memperbanyak klaim, tetapi dengan memperdalam keteladanan.

Saya teringat bagaimana Abah dulu memimpin: konflik tidak diumumkan, tetapi diselesaikan. Perbedaan tidak dipertontonkan, tetapi dirajut. Abah memadamkan bara sebelum menjadi api. Beliau tidak membesarkan masalah demi popularitas, tetapi mengecilkan ego demi maslahat. Inilah kepemimpinan yang membuat NU terasa aman bagi siapa pun—bahkan bagi yang berbeda pandangan.

Dalam kaderisasi, Abah tidak mencetak kader yang pandai berteriak, tetapi yang matang berpikir dan lembut bersikap. Guyonan, gojlokkan, dan obrolan malam di rumah-rumah sederhana justru melahirkan pemimpin NU yang tahan banting dan berakar kuat. Abah mengajarkan bahwa NU harus hadir sebagai sahabat masyarakat, bukan sebagai hakim yang mudah mengadili.

Di titik inilah saya memahami pesan Abah yang paling dalam: NU harus kembali menjadi rumah rasa aman. Rumah yang ketika hadir, orang merasa tenteram, bukan terancam. Rumah yang membawa keteduhan, bukan kegaduhan. Jika sampai ada tetangga yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran kantor NU, maka yang perlu ditata pertama bukanlah narasi pembelaan, tetapi sikap keseharian.

Di titik inilah saya seperti diingatkan Abah bahwa rumah rasa aman itu tidak pernah dibangun dari klaim kebenaran, melainkan dari ketulusan laku. Rumah yang aman selalu ditandai oleh pintu yang terbuka, senyum yang tidak dibuat-buat, tutur kata yang tidak melukai, serta kehadiran yang tidak mendominasi. NU akan kembali dirindukan bukan karena namanya besar, tetapi karena warganya membuat orang lain merasa dihargai, didengarkan, dan tidak dihakimi. Ketika NU hadir dengan adab yang menenteramkan, maka keberadaannya tidak perlu diperdebatkan—ia akan diterima sebagai kebutuhan, bukan dipandang sebagai ancaman.

NU—menjadi rumah rasa aman—tempat siapa pun merasa diterima, bukan dicurigai; merasa teduh, bukan tegang. Ketika kehadiran NU justru menimbulkan jarak atau kegelisahan di sekitar. Maka yang perlu dibenahi pertama kali bukanlah pembelaan wacana, melainkan keteladanan sikap: rendah hati, ramah, solutif, dan menenangkan.

“Keindahan NU,” seakan Abah berpesan, “bukan pada simbolnya, tetapi pada adabnya. Kedamaian NU bukan pada slogannya, tetapi pada perilakunya. Kesejukan NU bukan pada seragamnya, tetapi pada laku hidup warganya.” Ini adalah tasawuf organisasi—halus, sunyi, tetapi menentukan umur panjang sebuah jam’iyyah.

Ketika mengakhiri giat Sowan imajiner itu, dalam diri ini sepertinya tanpa banyak petuah panjang. Namun saya pulang dengan beban yang justru terasa ringan: beban tanggung jawab untuk ikut menjaga Marwah dan wajah NU agar tetap indah. Bukan dengan marah, bukan dengan merasa paling benar, tetapi dengan kembali ke watak aslinya— rahmah, hikmah, dan khidmah.

Akhirnya, saya pulang dari sowan imajiner itu dengan langkah pelan dan hati yang ditundukkan. Seolah Abah berpesan tanpa suara: jagalah NU dengan kelembutan, bukan dengan amarah; rawatlah dengan keteladanan, bukan dengan kegaduhan.

Sebab NU akan selalu hidup selama ia mampu menghadirkan rasa aman bagi siapa pun, bahkan bagi mereka yang berbeda. Dan bila suatu hari NU kembali dicintai, itu bukan karena kita berhasil memenangkan perdebatan, melainkan karena kita setia menjaga akhlak—di situlah martabat NU bersemayam, indah dalam diam, damai dalam laku, dan menyejukkan sepanjang zaman.

Maka barangkali, mengembalikan martabat NU tidak perlu dimulai dari forum besar. Cukup dari cara kita menyapa tetangga, dari tutur kata para pengurus, dari kesediaan mendengar sebelum menjawab. Sebab NU yang indah, damai, dan menyejukkan akan selalu menemukan tempatnya di hati masyarakat—tanpa perlu memaksa, tanpa perlu ditolak. Wallahu A’lamu Bisshawab.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry