Oleh: Suparto Wijoyo

GENCATAN senjata Amerika Serikat dan Iran berakhir hari ini, tepat di Hari Bumi, 22 April 2026. Akankah perang akan semakin bergolak dahsyat? Tidak cukupkah penderitaan yang terhelat di bumi Timur Tengah menggedor kesadaran publik internasional untuk menghentikan secara permanen peperangan yang dipaksakan kepada Iran. Di Hari Bumi ini yang meneguhkan komitmen tematik “Kekuatan Kita, Planet Kita” (Our Power, Our Planet) adalah jalan penyelamatan nasib bumi. Peringatan Hari Bumi adalah momentum untuk mendengar rintih bumi yang semakin menggelisahkan.

Perang Rusia Ukraina sejak 24 Februari 2022, konflik Israel−Hamas sejak 7 Oktober 2023, dan perang yang digelorakan Israel-Amerika Serikat kepada Iran sejak 28 Februari 2026, merupakan realitas yang mengancam bumi sebagai wahana kehidupan.

Kehancuran infrastruktur dan tatanan ekologis di tanah Persia, Israel dan Lebanon serta berbagai wilayah perang amatlah dramatis. Pencemaran air, tanah dan udara akibat perang adalah niscaya. Sungguh, kesehatan bumi Timur Tengah sedang dipertaruhkan, melengkapi tragedi pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change).

Presiden Amerika Serikat maupun PM Israel adalah pelaku kejahatan lingkungan yang sangat faktual dalam menginjak-injak martabat hukum lingkungan internasional.

Peperangan itu mengoyak nasib bumi yang suhu udaranya semakin panas akibat memanggul beban berlebih jumlah karbon (CO2). Secara hiperbolik kondisi alam cenderung dikatakan menuju global boiling – “pendidihan global”.

Krisis iklim ini tidak boleh dibiarkan. Gelombang panas yang menghantam belahan bumi abad 21 ini bukanlah ilusi untuk menguji imajinasi. Struktur kosmos “memuai” dari tahun ke tahun. Hal ini seyogianya membangkitkan kesadaran bersama untuk memperbarui masa depan global, bukan malah menyulut pengeboman.

Narasi David Wallace-Wells (2021) dapat menjadi referensi bersama untuk melahirkan gerakan kolektif mengatasi derita bumi. Dikatakan bahwa tahun 2099, perubahan iklim di Amerika Serikat bakal menambah 22.000 kasus pembunuhan, 180.000 pemerkosaan, 3,5 juta penyerangan, dan 3,7 juta perampokan serta pencurian. Pada 2100, kenaikan permukaan laut dapat membuat 13 juta orang Amerika kehilangan tempat tinggal, 140 juta orang di tiga kawasan dunia akan menjadi migran karena iklim pada 2050. Dampak pemanasan global juga sudah sangat lokal, apalagi dengan perang. Kekeringan tengah dialami banyak daerah. Pada 2025 jumlah kabupaten/kota yang defisit air pun meningkat hingga 78,4%, dimana 35% kabupaten/kota juga mengalami defisit tinggi.

Perang sekarang ini jelas membuat bumi dipaksa melakukan bunuh diri ekologi (“ecological suicide”). Maka agenda menjadikan perang sebagai solusi konfik adalah pengkhianatan atas kemanusiaan dan lingkungan. Langkah mengubah hutan sebagai lahan tanaman industri, perkebunan atau pertambangan, pun tidaklah bijaksana. Pola kebijakan demikian sejatinya telah disindir dalam bait puisi sastrawan besar yang lahir di Jerman dan meninggal di Swiss, Hermann Hesse (1877-1962) seperti dalam gubahan indah Agus R. Sarjono (2015):
Seltsam, im Nebel zu wandern!
Einsam ist jeder Busch und Stein,
Kein Baum sieht den andern,
Jeder ist allen.

Ajaib, di kabut mengembara
Semak dan bebatu sepi.
Tiada pohon melihat sesama,
Semua mereka sendiri.

Perang harus dihentikan. Pencemaran laut, tanah dan kerusakan ekosistem dampak perang tampak ceto welo-welo. Perang terbukti melahirkan azab lingkungan yang menyengsarakan. Sehubungan dengan perebutan sumber daya alam melalui peperangan ini, ada pesan filosofis Mahatma Gandhi (1869-1948): Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed. Ini menandakan bahwa bumi dapat mencukupi seluruh kebutuhan umat manusia, tetapi tidak pernah sanggup untuk memenuhi keserakahan seseorang.

Edward Grand pun mengeluarkan buku spektakuler A History of Natural Philosophy (2011) agar manusia mempelajari cara kerja alam yang selalu dapat diturunkan dari generasi ke generasi (berkelanjutan)

Saya percaya bahwa untuk menghindarkan bumi dari kekeringan, banjir dan longsor serta penderitaan kemanusiaan yang kelam, bacalah dengan jernih satire Alan Weisman dalam The World without Us: guna menyelamatkan bumi, haruskah memang sampai menunggu manusia tak ada lagi. Akhirnya, kuhantarkan kegelisahan bumi ini melalui puisi Jose M.A. Capdevilla yang dikutip Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta yang menyayat:

Aqui tengo una voz enardecida
Aqui tengo una vida combatida y airada
Aqui tengo un rumor, aqui tengo una vida

Ini suaraku yang meradang
Ini hidupku penuh perjuangan dan amarah
Ini pesanku, ini hidupku ….

Stop ecological suicide!

*Penulis adalah Guru Besar Hukum Lingkungan Fakultas Hukum, dan
Pengajar Strategic Leadership Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry