ILUTRASI :  DPR RI mendorong BPOM untuk melakukan penelitian lebih lanjut di dalam negeri terkait dengan rencana pelabelan BPA di galon air minum. (dok/duta.co)

SURABAYA  | duta.co – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengapresiasi langkah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi Kesehatan masyarakat. Namun, terkait dengan rencana pelabelan BPA yang hingga saat ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat, DPR RI mendorong BPOM untuk melakukan penelitian lebih lanjut di dalam negeri terkait dengan rencana pelabelan BPA di galon air minum.

Menurut Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Rahmat Handoyo, BPOM seharusnya melakukan penelitian yang komprehensif di dalam negeri, dengan melibatkan stakeholder sebanyak mungkin termasuk yang berbeda pendapat, sehingga pertimbangan yang digunakan dalam membuat satu kebijakan lebih tepat sasaran.

Dia menambahkan, harusnya bukan hanya penelitian dari luar negeri yang dijadikan acuan tapi juga penelitian dari dalam negeri dengan melibatkan pakar, Dokter, begitu juga dengan akademisi, LSM, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kalau memang BPA ada kaitan langsung – dan terbukti secara  konsensus ilmiah – dengan penyakit tertentu maka aturan itu silakan dibikin, tapi kalau tidak ada kaitan ya jangan disimpulkan atau dikait-kaitkan,” tambah Rahmat.

Selain itu, Rahmat Handoyo juga menyoroti perlunya dilakukan penelitian yang komprehensif karena persoalan pelabelan BPA bukan hanya berdampak pada industri dan bisnis, tapi juga lingkungan berupa peningkatan sampah plastik.

Peneliti Ecoton , Rafika Aprilianti mengatakan penggunaan galon sekali pakai rentan menambah tumpukan sampah. Apalagi kesadaran mengelola sampah di Indonesia masih sangat rendah. ”Namanya juga sekali pakai, tentu akan menumpuk di lingkungan. Belum tentu semua orang juga sadar untuk melakukan re-cycle. Di Indonesia, faktanya banyak sekali tumpukan sampah plastik liar di sungai dan berakhir di laut. Apalagi kemasan sekali pakai untuk air mineral itu banyak banget,” ujarnya.

Rafika menambahkan, dari sisi keberpihakan pada lingkungan, galon guna ulang tentu lebih disarankan penggunaannya. Apalagi gallon guna ulang juga mengandung struktur plastik yang lebih tebal dan komposisi bahannya juga lebih baik dibandingkan galon air mineral sekali pakai.

”Kandungan mikroplastik di  galon sekali pakai juga lebih banyak. Susunan plastiknya biasanya menggunakan PET yang sangat tipis. Kalau terkena panas kira-kira di atas 75 derajat bisa meleleh dan melepaskan senyawa racun plastik dan menempel di air,” tuturnya. Lebih lanjut ia menuturkan, plastik memiliki senyawa racun yang salah satunya adalah Phthalate yang efeknya bisa mengganggu keseimbangan hormon manusia.

Phthalate ini memiliki senyawa kimia yang hampir mirip dengan estrogen namun dalam bentuk sintetik. Sehingga jika terlalu banyak Phthalate yang ada dalam tubuh bisa menyebabkan penuaan dini, kemudian mempercepat terjadinya menstruasi pada anak-anak perempuan dan manapouse pada perempuan dewasa. Sedangkan pada laki-laki, kandungan Phthalate dalam tubuh bisa menyebabkan sperma menjadi lambat diproduksi dan tidak sehat. Imm

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry