Dr Sri Setyadji -- Salah Satu Pendiri Koperasi Kaum Marhaenis Sejahtera (Kopimanis). (FT/IST)

Meski terbilang klasik, Pilgub Jatim 2018 memiliki keistimewaan. Kali ini, suasana ‘adem panas’ melingkupi masyarakat marhaenis. Soal Cagub (Khofifah-Gu Ipul), anggap sudah selesai. Tetapi, hadirnya Emil dan Puti, menarik dicermati. Berikut catatan ringan Dr Sri Setyadji yang dikenal sebagai tokoh Marhaenis Jawa Timur.

PEMILIHAN Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2018, masih ‘dikuasai’ Rena (Religius Nasionalis). Kandidatnya pun Rena versus Rena. Sejak reformasi atau sejak pilihan diserahkan DPRD hingga pilihan lansung (masyarakat), hampir seluruh Pilkada indentik dengan pertarungan patronisasi, yakni pertarungan jago nahdliyin dengan jago nasionalis. Hari ini, pun demikian.

Tidak salah, kalau opini publik memaknai kontestasi Pilgub Jatim, dapat dikatakan pertarungan antara Rena (Religius-Nasionalis), di mana representasi Re (religius) ada di sosok Khofifah dan Gus Ipul, sedangkan Na (nasionalis) melekat pada diri Puti Guntur dan Emil Dardak.

Tiga bulan sudah kampanye berjalan. Berbagai survey telah merealese hasilnya dengan tingkatan hasil yang bervariasi. Intinya sama-sama kuat. Dari berbagai strata sosial dalam masyarakat Jatim dengan latar belakang yang beragam, hasil survey dipersepsi dan diprediksi beragam pula, sehingga ‘diskusi kampung’ di warung-warung kopi sangat asyik dan merdu untuk didengar.

Tanpa menafikan dari hasil survey tersebut, tentu masing masing tim pemenangan dari pasangan calon juga mempunyai lembaga survey tersendiri. Di sini justru bisa termonitor dan terindikator hasil progres tim yang setiap hari bergerak langsung di lapangan.

Mencoba mencermati dan mempersepsi, dinamika, fenomena dan fakta politik yang ada, bahwa sebenarnya pertarungan Pilgub Jatim sudah selesai, dalam arti kalau di tingkat Calan Gubernur yakni antara Khofifah dan Gus Ipul, suara voter sudah dapat diprediksi.

Mengapa demikian, karena dari dukungan masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Gus Ipul misalnya, didukung  pini sepuh kiai struktural NU, sebagian Fatayat dan GP Ansor tentunya. Barisan Khofifah  tak kalah fanatis, ibu-ibu muslimat NU, satu-satunya Banom NU yang paling solid, dan siap berkorban untuk sang ketua umumnya. Ditambah kiai-kiai kultural.

Nah, dari sini sudah gamblang, sehingga siapa mendukung siapa, dan siapa memilih siapa, sebenarnya sudah terprediksi. Gerbong partai pengusung boleh dikata hanya sebagai pengantar calon saja,  karena dalam internal partai pengusung juga tidak dengan suara bulat siapa yang harus didukung.

Hal ini juga bisa dijadikan  salah satu faktor dari perjalanan Pilgub sebelumnya, di mana head to head antara Gus Ipul dan Khofifah terjadi. Artinya, dari pengalaman itu membuat semakin mudah menebak peta kekuatan calon gubernur tersebut.

Dalam konteks ini, maka, secara riil pertarungan sesungguhnya dan yang serius justru ada pada Calon Wakil Gubernur, yaitu pertarungan antara Puti Guntur versus Emil Dardak. Di sinilah pertarungan kaum nasionalis dengan berbagai basis mereka, terjadi begitu sengit.

Dalam pertarungan Cawagub, partai pengusung pun bertarung head to head antara PDI-P dan Partai Demokrat. PDI-P punya Cak Kusnadi dan rombonganya. Sementara Partai Demokrat ada Pakde Karwo dan rombonganya. Keduanya boleh dikatakan sama-sama dari kelompok Nasionalis dan Marhaenis.

 Kalau bicara sistematis, mungkin Pakde Karwo akan lebih sistemik dan masif dalam menggalang dukungan. Namun secara emosional dalam tataran ideologis, mestinya munculnya Puti sebagai jago, Cak Kus lebih punya space (ruang gerak) untuk melakukan penggalangan dukungan.

Secara kasat mata, bahwa, munculnya Puti Guntur sebagai Cawagub Jatim, jelas sebagai refleksi magnet ideologis Marhaenis. Dalam konteks inilah seharusnya dijadikan momentum bagi PDI-P untuk membuka dan sekaligus merengkuh satu kebulatan untuk kemenangan Puti Guntur.

Sudah barang tentu, tim pemenangan adalah sebuah tim yang integral dan holistik,  di mana komandan tim harus paham dan memahami serta bisa direrima lapisan kaum Marhaenis, serta paham terhadap kondisi dan geografi politik regional Jatim.

Namun jikalau komandan tim pemenangan Puti tidak memahami persoalan dimaksud, maka Pakde Karwo yang lebih leluasa bergerak. Pakde dengan sistemnya dengan tegar, tegap, melenggang kangkung dan leading lewat  runway dalam berbagai sistem yang sudah dibangun dalam 10 tahun lamanya.

Mencoba melihat dengan melakukan pendekatan informal maupun nonformal, cangkrukan di warung kopi kampung, sepertinya rombongan Caku Kus, terkesan lebih suka euforia dan selebrasi dalam bentuk selfi-selfi yang kecenderungannya di kelompok sendiri.

Hal seperti ini  sangat tidak produktif dan cenderung buang waktu, di mana seharusnya komunitas Marhaenis bisa bergerak untuk melakukan pendekatan  pengembangan melalui personal yang sudah teruji dalam melakukan gerak dan aksi.

Belum lagi munculnya Puti Guntur mestinya secara personal mempunyai kapasitas, kwalitas dan integritas, ini seharusnya lebih bisa untuk mengexsplore para pemilih pemula dan  kaum pendidik seperti Guru dan guru PAUD.

Bukankah PDIP punya tokoh yang seharusnya bisa menjadi komandan dalam kontestasi Pilkada ini, seperti  Bambang DH, Sirmadji, keduanya sudah sangat akrab, paham dan memahami sisi kultur wong Jawa Timur.

Dengan menghitung hari, bulan Juni 2018 tinggal berapa hari, maka, saatnya tim pemenangan melakukan evaluasi dan sekaligus merefleksi realita ini. Mulai dari sosialisasi dan aktualisasi Punti Guntur sampai intensitas dan efektifitas setiap gerak Puti dalam kurun waktu yang sangat pendek ini.

Semua harus terukur tingkat produktifitasnya dalam menggapai dukungan dari para pemilih. Pertempuran di area religius sudah selesai, sekarang justru basis nasionalis yang masih seru! Bukankah begitu? Waallahu’alam! (*)

Tinggalkan Balasan