Mursyidul Ibad, S.KM., M.Kes – Dosen S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan

STUNTING, siapa yang tidak kenal dengan kata tersebut. Menurut para ahli, stunting didefinisikan kekurangan gizi pada balita yang ditandai dengan pertumbuhan tinggi atau panjang badan yang tidak sesuai dengan grafik normal dan cenderung disertai dengan keterlambatan pada aspek perkembangan.

Indonesia sampai saat ini masih menghadapi masalah tersebut, tidak terkecuali Provinsi Jawa Timur. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan angka prevalensi stunting di Jawa Timur sebesar 23,5%.

Untuk mencegah terjadinya atau menambah kasus stunting, maka perlu dilakukan persiapan pencegahan sejak remaja. Masa remaja merupakan periode penting untuk mempertahankan perilaku sepanjang hidup termasuk perilaku konsumsi pangan.

Remaja merupakan target kunci dalam pemberian intervensi yang mampu memberikan efek positif dalam meningkatkan status kesehatan perempuan.

Info Lebih Lanjut Buka Website Resmi Unusa

Kebiasaan konsumsi makanan yang keliru dapat mengakibatkan masalah gizi, seperti Kurang Energi Kronis (KEK). KEK merupakan suatu kondisi kekurangan asupan gizi sehingga menyebabkan berbagai permasalahan, seperti infeksi dan anemia.

Bahkan menurut hasil Riskesdas pada 2018 menunjukkan bahwa remaja putri di Indonesia mengalami anemia sebesar 23%. Padahal dalam proses kehidupan sebagai perempuan, satu hal yang akan saya lalui yaitu menjadi seorang ibu.

Anemia dapat menyebabkan gangguan dalam perkembangan kesehatan reproduksi. Selain itu, risiko ibu yang menderita anemia lebih tinggi dalam melahirkan prematur dan Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) yang erat kaitannya dengan stunting

BKKBN sebagai leading sector dalam penanggulangan masalah stunting terus berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Salah satunya adalah berfokus kepada remaja khususnya remaja putri.

Karena itu BKKBN Provinsi Jawa Timur melakukan kajian bersama dengan Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Unusa untuk melihat seberapa jauh pengetahuan, sikap maupun perilaku remaja di Jawa Timur khususnya pada pencegahan terjadinya stunting.

Beberapa aspek pengetahuan yang diukur adalah pengetahuan tentang stunting, anemia, indeks massa tubuh, kekurangan energi kronis, perencanaan menikah. Untuk sikap, aspek yang diukur adalah sikap tentang perilaku hidup bersih dan sehat dan sikap perencanaan menikah. Pada perilaku yang diukur adalah perilaku pencegahan stunting.

Hasil dari riset tersebut menyebutkan bahwa pengetahuan remaja berkaitan dengan aspek stunting, anemia, indeks massa tubuh, KEK sebagian besar berapada kategori rendah.

Sedangkan sikap maupun perilaku pencegahan stunting sebagian besar pada kategori cukup baik. Hal ini cukup menjadi temuan yang menarik dimana pengetahuan seseorang tidak memengaruhi dalam keputusan maupun sikap remaja dalam pencegahan stunting.

Hasil tersebut dapat memberikan catatan kepada BKKBN, khususnya BKKBN Provinsi Jawa Timur bahwa perlu ada penguatan pengetahuan kepada remaja agar perilaku yang sudah dijalankan dengan baik dapat berkontinyu.

Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya memaksimalkan penggunaan media sosial dalam upaya promosi dan pendidikan khususnya tentang pencegahan stunting.

Upaya pembuatan media yang dilakukan juga bisa memanfaatkan big data untuk membaca ketertarikan remaja dalam media promosi.

Selain itu BKKBN dapat melakukan analisis dengan pendekatan machine learning agar memetakan kelompok remaja yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik mereka. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry