
“Satu hal yang sangat sederhana. Tapi mutlak. Semua penjamah makanan di dapur SPPG wajib bersertifikat. Yaitu sertifikat dari dinas kesehatan atau dinas lainnya yang diberi wewenang.”
Oleh: Imam Mawardi Ridlwan
MEDIA sosial sedang gaduh. Tapi bukan karena demo anarkis. Bukan karena pergantian kabinet. Yang bikin gaduh saat ini adalah keracunan makanan.
Dan, yang lebih bikin gaduh lagi adalah makanan itu berasal dari dapur SPPG BGN. Dapur yang selama ini kita anggap benteng terakhir pemenuhan gizi anak-anak sekolah, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui.
Saat ini benteng yang seharusnya kokoh, ternyata jebol. Mengapa? Karena setiap hari ada musibah keracunan.
Musibah yang nyata. Keracunan itu menjadi kecemasahan anak bangsa. Anak-anak masuk IGD, karena perutnya sakit, pusing dan muntah-muntah.
Lalu muncul desakan masyarakat. Hentikan saja program MBG dari dapur SPPG. Bubarkan saja. Tutup total saja. Tanpa memberi toleransi.
Tentu saja, saya tidak akan terlibat dalam kegaduhan. Tapi saya mengamati ada human error. Saya prihatin. Cara melupakan keprihatinan, saya mengusulkan alternatif. Langkah alternatif.
Satu hal yang sangat sederhana. Tapi mutlak. Semua penjamah makanan di dapur SPPG wajib bersertifikat. Yaitu sertifikat dari dinas kesehatan atau dinas lainnya yang diberi wewenang.
Program sertifikasi bukan sekadar ikut pelatihan. Bukan sekadar hadir dipembinaan. Program sertifikasi wajib diuji lembaga yang diberi wewenang. Harus diukur. Bagi yang layak akan mendapatkan sertifikat. Bagi yang tidak layak, maka tidak diberi sertifikat. Harus mengulangi sertifikasi.
Menurut saya kewajiban para relawan wajib memiliki sertifikat ini bukan untuk meredam kegaduhan nasional. Namun ini sebagai ikhtiar bersama. Ikhtiar agar anak-anak kita tetap aman dan sehat. Sertifikat untuk memberi jaminan agar anak-anak atau ibu hamil tidak menelan racun. Agar balita tidak tumbuh dengan luka trauma.
Menurut saya sertifikat bagi para relawan SPPG itu jaminan keahlian. Jadi bukan sekedar angka yang ditulis disertifikat. Ini adalah komitmen. Yaitu komitmen untuk menyajikan makanan dari dapur SPPG yang aman sehat dan membahagiakan. Jaminan untuk pelayanan makan bergizi dan berkwalitas. Sehingga tidak akan membuat anak-anak kita ada ketakutan masuk IGD.
Saya sangat paham, bahwa para relawan di dapur SPPG BGN telah bekerja dengan tulus. Namun kalau hanya bermodal ketulusan saja, masih belum ada jaminan. Maka wajib punya ilmu. Sehingga terwujud kecakapan.
Dan saatnya BGN untuk membuat standar keahlian para relawan dapur SPPG. Standart BGN sebagai bentuk tanggung jawab yang dapat diuji. Dapat dievaluasi.
Para relawan dapur SPPG merupakan penjaga gizi anak-anak bangsa. Mereka adalah tangan-tangan yang menyuapi masa depan generasi Indonesia. Maka mereka harus layak. Harus terlatih. Harus tersertifikasi.
Kalau tidak, kita sedang bermain-main dengan nyawa. Dan semua pihak tahu: tidak ada yang mau main-main dengan nyawa. (*)





































