Apa nenek moyang ente (Asyari Usman) sudah mengenal Islam sebelum Nabi Muhammad datang? Sejarah agama-agama di Arab Saudi tertulis dengan tebal, bahwa, sebelum Islam datang bagaimana kondisi keimanan mereka, bagaimana akhlak masyarakat Makkah-Madinah?

Oleh: Mokhammad Kaiyis*

MEMBACA tulisan wartawan senior Asyari Usman, bahwa, Islam Nusantara  perlu Nabi Nusantara (sawadium.com), membuat kita semakin bodoh. Pertama, dia menyebut Islam Nusantara sebagai agama baru. Kedua, Islam Nusantara anti Arab, anti-jubah, anti-janggut, anti-sorban, anti-istilah Arab.

Ketiga, Kanjeng Nabi Muhammad saw. (katanya) diutus untuk ‘Islam’ bukan untuk Islam Nusantara. Keempat penyebaran Islam Nusantara dengan mempopulerkan Senam Islam Nusantara (SIN). Kelima, Islam Nusantara (harusnya) memboikot Makkah Madinah. Keenam penduduk asli Nusantara menyembah pohon, batu, busut.

Coba kita bahas sambil lalu tudingan Asyari Usman ini:

  1. Islam Nusantara sebagai Agama Baru

Ini ceroboh dan bodoh. Jauh sebelum populer Islam Nusantara sudah ada istilah Islam Ahlussunnah waljamaah an-Nahdliyyah. Tidak ada yang protes, termasuk Asyari Usman. Padahal kalimat Ahlussunnah waljamaah an-Nahdliyyah itu, senafas dengan gerak langkah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah manhaj (metode) dakwah Islam yang diterapkan nahdliyin di bumi Indonesia dan kemudian dipopulerkan dengan bahasa lain, Islam Nusantara.

  1. Islam Nusantara Anti-Arab

Bagaimana Islam Nusantara bisa disebut anti-jubah, anti-janggut, anti-istilah Arab? Andai saja Asyari mau mengikuti amaliah nahdliyin, maka, Anda akan mendapati betapa bahasa Arab menjadi lebih ‘gairah’ di kalangan nahdliyin, bahkan membentuk budaya tersendiri.

Pembacaan tahlil, talqin, dan istighotsah, semua dengan Bahasa Arab. Bahkan bacaan bilal yang mengiringi khotib (baik Salat Jumat maupun Salat Id) naik mimbar juga menggunakan Bahasa Arab, meski sesungguhnya menggunakan Bahasa Indonesia juga tidak masalah. Di sebuah masjid di Sidoarjo, ada bacaan bilal menggunakan Bahasa Indonesia, tujuannya supaya jamaah paham dengan pesan yang disampaikan. Sepanjang tidak merusak syarat dan rukun salat Jumat, tidak masalah.

  1. Nabi Diutus untuk ‘Islam’ bukan untuk Islam Nusantara

Firman Allah jelas: Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-anbiya’ 21:lO7). Bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw. dipisahkan dengan Islam. Bukankah Nabi Muhammad yang notabene Islam itu menjadi rahmat bagi semesta alam. Menyebut Nabi diutus bukan untuk Islam Nusantara, sama saja mempersempit makna alam semesta.

  1. Islam Nusantara Penyebaran Lewat Senam Islam Nusantara (SIN)

Kata Asyari Usman: Sayang sekali kalau penyebaran konsep Lamtara (Islam Nusantara) mengandalkan gerakan senam. Keluar banyak biaya, hasilnya tidak ada. Percayalah, cara ini tidak akan efektif. Sulit Anda menjualnya. Sebab, gerakan senam sudah terlalu banyak macamnya. Para pengikut senam, biasanya, akan cepat bosan. Lihat saja senam yoga, senam taichi, senam pocho-pocho, dlsb. Sebentar saja lenyap.

Ini salah yang kelewat batas. SIN itu kapan? Islam Nusantara yang hakekatnya adalah Islam Ahlussunnah waljamaah an-nahdliyyah, keberadaannya sudah berabad-abad lalu. Jauh ‘lebih tua’ ketimbang umur Asyari Usman yang kini masuk jajaran wartawan senior.

SIN bukan satu-satunya media dakwah Islam Nusantara. Itu hanya bagian kecil dari gerakan dakwah di lini senam pemanasan meliputi gerakan kepala, leher, bahu, tangan, dada, perut dan kaki. Pada gerakan inti, ada gerakan membasuh muka, membasuh tangan, membasuh kaki, yang terakhir gerakan awal shalat. Ini untuk membedakan SIN dengan senam-senam lain. Mau cocok atau tidak, tidak ada urusan.

  1. Islam Nusantara Memboikot Makkah Madinah

Kata orang Jawa, ini ‘edan ora iso ngawiti’ (gila tidak bisa memulai). Ulama-ulama NU bukan saja belajar di Makkah Madinah, tetapi juga mewarnai perkembangan Islam di dua tanah haram tersebut. Sampai sekarang, kalau mau dijumlah, kedatangan peziarah atau jamaah umroh dan haji di Makkah dan Madinah, barangkali, nahdliyin menempati urutan teratas. Sekedar tahu saja, kini Makkah dan Madinah semakin terbuka dengan amalan-amalan nahdliyin, barangkali ini yang membuat pusing Asyari Usman.

  1. Penduduk Asli Nusantara Menyembah Pohon, Batu, Busut

Apa nenek moyang ente (Asyari Usman) sudah mengenal Islam sebelum Nabi Muhammad datang? Sejarah agama-agama di Arab Saudi tertulis dengan tebal, bahwa, sebelum Islam datang bagaimana kondisi keimanan mereka, bagaimana akhlak masyarakat Makkah-Madinah? Sama, ada di antara mereka ada yang menyembah pohon-pohon kayu. Ada yang menyembah bintang-bintang, batu-batuan, binatang-binatang, bahkan menyembah raja-raja, sampai kemudian Islam datang memberi jawaban.

Karenanya, kalau ingin tahu apa sesungguhnya Islam Nusantara, sebaiknya datang ke NU atau baca saja //aswajanucenterjatim.com/utama/keputusan-bahtsul-masail-maudhuiyah-pwnu-jawa-timur-tentang-islam-nusantara/. (*)

*Penulis adalah wartawan harian Duta Masyarakat, duta.co.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.