Edi Pujo Basuki, MPd – Dosen FKIP

KEHIDUPAN sebagai makhluk sosial dan juga sebagai guru yang dinamis, tak luput membuat seorang yang berprofesi sebagai guru juga bisa menjadi corong sebuah ideologi yamg dianutnya.

Ideologi  tidak hanya dipandang sempit sebagai agama namun ideologi juga bisa Diterjemahkan sebagai kepercayaan, keyakinan yang dipegang kuat sehingga menyebabkan seseorang itu bersikap dan berucap sesuai nilai keyakinan yang dipegang teguh tersebut.

Konteks yang ditonjolkan di artikel ini yaitu poin kode etik guru yang belum disebutkan secara detail, namun telah disebut secara global.  Di dalam kode etik guru terbaru, penulis mengambil poin yaitu pada bagian dua Pasal 2 Kewajiban Guru terhadap Peserta didik.

Ayat 5 yaitu melindungi peserta didik dari segala tindakan yang dapat mengganggu perkembangan, proses belajar, kesehatan dan keamanan bagi peserta didik.  Demikian jelaslah aturan yang diberikan pemerintah untuk orang – orang yang berprofesi sebagai guru.

Dinamika kehidupan yang menyebabkan seorang yang berprofesi guru bisa menjadi juru kampanye suatu partai tertentu, jurkam pemilihan bupati, jurkam pemilihan kepala desa dan seterusnya, bisa juga sebagai wiraswasta yang menjual produk semisal vitamin, kosmetika , dan lain lain. Bila dalam posisi yang tersebut terakhir, akhirnya seorang guru tersebut menjadikan peserta didik untuk menjadi pasar atau suara bagi pemilihan.

Hal in jelas tidak benar, karena pemerintah sudah menggariskan kode etik agar jangan meracuni pikiran peserta didik untuk hal- hal yang diinginkan. Apalagi bila untuk mengajak kepada hal- hal yang tidak benar.

Kadangkala seorang guru, oknum maksud penulis, tidak sadar memasukkan ideologi nya pada peserta didik. Andaikan dia mempunyai 4 kelas, tiap kelas berisikan 40 , sekiranya dikalkulasikan ada 160 manusia yang terkontaminasi oleh ideologi tersebut. Proses brainwashing tersebut membuat jelas melawan kode etik guru yang notabene adalah etika atau moral yang baik

Suatu kasus dimana seorang guru menggerakkan demo menuntut Kepala Sekolah untuk turun jabatan. Dilihat dari pemikiran peserta didik yang relatif muda, bagaimana mungkin para siswa terebut berpikir dewasa. Ini contoh kongkrit seorang guru yang tidak atau dengan sengaja menjadi Brainwasher.

Setelah misal Kepala Sekolah tersebut turun jabatan, dimana itu murni bukan inspirasi siswa namun sekedar atas kemauan si oknum guru. Yang lebih berbahaya yaitu kedepannya.

Hampir dipastikan peserta didik yang terkontaminasi oleh fitnahan semacam itu akan membawa ideologi negatif baru tersebut sampai dewasa. Muncullah generasi rebel yang menyengsarakan sekitar.

Karena itu untuk menghindari mencetak guru-guru berideologi rebel tersebut bisa dimulai dari tingkat universitas. Bembelajaran tentang etika dan moral serta kode etik diajarkan pada mahasiswa sejak dini.

Melalui seminar-seminar tentang guru sebagai panutan, bukan sekedar guru sebagai pekerjaan semata. Karena itu diera modern yang menginginkan insan –insan berbasis IPTEK ini seharusnyalah memngutamakan ajaran –ajaran moral yang positif. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry