Dr Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo*

PALAGAN sudah terbuka dan para calon tengah bersiap dengan senjata rekomendasi masing-masing. Para parpol untuk Surabaya mengambil keputusan mengusung sama-sama nonkader dan ada yang setengah kader. Itulah babak yang sudah “pecah telur” di Kota Pahlawan. Cak Mispon paham perasaan yang mengendap untuk kemudian “bergerak liar” atas nama kader militan yang selama ini begitu setianya. Ternyata kesetiaan itu diuji lagi dengan “dikesampingkan” oleh orang tuanya sendiri. Kurang sabar apa beliau yang selama ini rela tidak berperan apa-apa sepanjang senyarisan satu dasawarsa. Ketabahan itu diperpanjang lagi untuk kesekian lama yang kelak belum tentu diperhatikan. Sebentuk jua rekomendasi yang amat radikal, alias rekomendasi yang dipersepsi olehnya “yang jauh dirangkul, yang seperanakan digadaikan”.

Bagi Cak Mispon ini rekomendasi  bagaikan lindu. Ya … lindu itu kukenang sejak masa kanak-kanak dan biasa di setiap waktunya selalu menyuguhkan gentar dalam gelisah agar setiap orang segera merebahkan diri kepada Illahi. Bumine goyang yang disertai seruan ada gempa dalam bahasa sekarang, sejatinya meneguhkan iman dengan semburat umat ke luar rumah menuju langgar-langgar, surau-surau, masjid-masjid. Di rumah ibadah inilah kami merasa tenang dan seolah Gusti Allah menjawab seruan doa manusia yang gupuh atas lindu yang “menari” di wilayahnya.

Kami biasanya menyujudkan diri dalam telungkup pasrah yang paling Illahi sewaktu lindu  menggoyang meja makan, perabot rumah sambil menyaksi lampu bergelantungan itu “berjoget” dalam ketidakteraturannya. Demikianlah gempa kecil-kecil itu acapkali kami rasakan sewaktu saya masih bocah di kampung-kampung Lamongan. Hanya saja Lamongan memang bukan daerah yang kerap diserbu gempa tetapi banjir dan kekeringanlah yang selalu rajin “anjang sana” setiap tahunnya. Persis seperti hari-hari ini di desa-desa di Jawa terdapat lolongan petani atas langkanya air dan ini tidak pernah mencuatkan demonstrasi besar-besaran, karena petaninya tangguh untuk merelakan dirinya antre air tengah malam dengan tetap menjaga keguyuban.

Sungguh ini adalah laku “rekomendasi radikal”  berbagi air yang paling terhormat atas sabarnya mereka yang mampu menikmati hidup dalam kondisi air yang langka, sementara tanaman di sawah ladang melambaikan tangan untuk segera diairi demi menjaga kelangsungan hidupnya. Radikal dalam hal bersabar di tengah kelebat para penguasa yang justru sibuk untuk mengujarkan kata-kata yang muluk-muluk soal pandemi Covid-19, tanpa memenuhi kebutuhan rakyat yang susah mendapatkan air bersih.

Sementara cuci tangan harus terus dilakukan. Mereka mengucap kata itu di panggung bangsa dengan tanpa ragu, tidak malu dan dipastikan tidak tahu tentang jerit tangis kegemparan yang melambangkan “keringnya batin” dan “ingkarnya janji” selama ini. Petani-petani itu tetap mampu mengendalikan diri sambil mengantri air serta menunggu dengan sabar dengan ditemani para santri untuk shalat istisqo untuk memohon hujan agar segera diturunkan, atau buruh yang terus berdemo agar RUU Ciptaker tidak perlu dilanjutkan atau dibahas dengan memperhatikan nasib pekerja.

Derita, andai saja kata itu boleh dibilang, sudah menyebar ke banyak wilayah di berbagai teritori Indonesia. TNI dan kepolisian berantem itu kan juga contoh paling radikal tentang relasi yang menjadi contoh bagi rakyat tentang :suara kerukunan” yang diserukan menjadi sumbang. Tetapi karena mereka, rakyat itu masih menyemat iman dalam dadanya, sehingga yang disuarakan adalah kesantunan  bahwa kondisi kekeringan ini, atau kondisi harga yang melangit dengan pandemi Covid-19 yang menyeret diri rakyat dalam kegerahan, tiadalah banyak dimasukan hati.

Dalam suasana teraduk itulah, batin umat  semakin “tergedor” dengan hadirnya tragedi rekomendasi di banyak daerah yang nyaris tidak mendengar suara kader militan atau calon yang mampu jujur mendengar kenyataan terdalam rakyat. Jangan sekadar gebyarnya saja dengan bandar-bandar pilkada selaksa perjudian demokrasi yang kerap mewarnai pelaksanaan hajatan rutin lima tahunan. Para bandar itu selalu mengerumuni dalam jalan sunyi, operasi senyap dan mereka tidak pernah tampak di permukaan. Siapa yang membiayai para calon itulah yang berkuasa sejati.

Dalam lingkup inilah, pemimpin yang dipilih melalui Pilkada  mesti selalu sadar bahwa kita akan berpaling kepadanya untuk memperoleh kekuatan dan tuntunan seperti ditulis Ram Charan. Pemimpin hadir dengan gerak lompatnya dalam menyelamatkan rakyat yang lebih mendeskripsikan ruang juang. Thomas L Friedman dalam buku The World Is Flat mengisahkan tulisan temannya, Jack Perkowski,   yang menuliskan pepatah Afrika pada lantai pabriknya: Setiap pagi di Afrika seekor gazelle (kijang) terjaga/Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari singa tercepat atau ia akan mati/Setiap pagi seekor singa terjaga/Ia tahu bahwa ia harus bisa mengejar gazelle terlambat atau ia akan mati kelaparan/Tidak peduli apakah kamu seekor singa atau seekor gazelle/Ketika matahari terbit, kamu harus mulai berlari.

Dengan rekomendasi saat ini, calon pemimpin harus terjaga dan siap berlari. Berlari bukan untuk menghindar, tetapi berlari guna memenuhi hak rakyat diselamatkan dari pandemi Covid-19 di hari-hari mendatang melalui road map penyelamatan rakyat. Ungkapan-ungkapan bahwa Indonesia adalah negara menajemen penangana pandeminya buruk harus didengar juga, apalagi temuan Obat Covid-19 produk riset kampus diabaikan, demi gengsi tersendiri di mata yang di sana, ditambah lagi ada banyak bencana,  kekeringan, longsor, gunung meletus, yang dalam bahasa Lawrence Blair dan Lorne Blair, Indonesia ada dalam lingkaran api (Ring of Fire). Tetap itu semua pelajaran.

Sudahlah. Rekomendasi itu memang tidak sedahsyat “debar menunggunya”, karena justru tampak  unik-uniknya. Rekomendasi ini dapat menjadi laboratorium pembangunan politik hukum. Semua ada maknanya. Pilkada yang diisi dengan “parade rekomendasi” niscaya harus melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menata kawasan-kawasan agar “bersahabat” dengan problema. Masih ada waktu untuk memasukkan tema “kemanfaatan Pilkada bagi rakyat” sebagai bagian dari kanalisasi ledakan atas semburatnya kader karena disemprot “disinfektan rekomendasi”. Selamat berlaga meraih hati rakyat.

* Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry