“Karena itu, karakter utama Organisasi 1.0 adalah ketergantungannya pada figur sentral. Seluruh aktivitas organisasi bertumpu pada kepemimpinan personal seorang kiai.”

Oleh Suhermanto Ja’far*

DI TENGAH wacana transformasi digital, kecerdasan artifisial, dan Society 5.0, banyak organisasi berlomba-lomba melakukan modernisasi kelembagaan. Namun, sebelum berbicara tentang masa depan, penting untuk memahami akar sejarah yang membentuk identitas organisasi tersebut. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), perjalanan menuju organisasi modern tidak dapat dilepaskan dari fase yang dapat disebut sebagai Organisasi 1.0, yaitu organisasi tradisional yang bertumpu pada otoritas personal, karisma kepemimpinan, dan hubungan sosial yang bersifat langsung.

Dalam perspektif genealogis organisasi, Organisasi 1.0 merupakan fase ketika legitimasi kelembagaan belum bertumpu pada sistem formal, melainkan pada figur yang memiliki otoritas moral, intelektual, dan spiritual. Dalam terminologi Max Weber, bentuk kepemimpinan seperti ini dikenal sebagai charismatic authority, yaitu otoritas yang lahir dari pengakuan sosial terhadap kualitas personal seorang pemimpin (Weber 1947, 358–359). Dalam konteks NU, bentuk otoritas tersebut terwujud pada figur kiai sebagai pusat kehidupan keagamaan, pendidikan, dan sosial masyarakat.

Jauh sebelum istilah tata kelola organisasi dikenal secara luas, pesantren telah menjadi institusi sosial yang hidup dan berkembang melalui mekanisme yang sangat sederhana. Tidak terdapat sistem administrasi yang kompleks, prosedur birokrasi yang berlapis, ataupun teknologi informasi yang mengatur aktivitas kelembagaan. Namun demikian, pesantren mampu bertahan selama berabad-abad dan menghasilkan jaringan intelektual Islam yang sangat luas.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan organisasi tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan sistem, melainkan oleh kualitas relasi sosial yang menopangnya. Dalam Organisasi 1.0, infrastruktur utama bukanlah gedung, aplikasi, atau regulasi, melainkan kepercayaan (trust). Masyarakat mempercayai kiai bukan karena jabatan formal yang dimilikinya, tetapi karena integritas moral, kedalaman ilmu, dan keteladanan hidup yang ditunjukkannya. Karena itu, karakter utama Organisasi 1.0 adalah ketergantungannya pada figur sentral. Seluruh aktivitas organisasi bertumpu pada kepemimpinan personal seorang kiai. Keputusan-keputusan penting tidak dihasilkan melalui rapat formal yang panjang, tetapi melalui pertimbangan dan kebijaksanaan pemimpin yang dipercaya oleh komunitasnya.

Dalam perspektif modern, model seperti ini sering dianggap kurang efektif karena terlalu bergantung pada individu. Namun, dalam konteks masyarakat tradisional, pola tersebut justru memungkinkan lahirnya solidaritas sosial yang kuat. Hubungan antara kiai dan santri tidak semata-mata bersifat administratif, melainkan juga bersifat spiritual, emosional, dan kultural. Salah satu fondasi utama Organisasi 1.0 dalam tradisi NU adalah sanad keilmuan. Sanad tidak sekadar berfungsi sebagai mekanisme transmisi ilmu, tetapi juga menjadi sumber legitimasi epistemologis. Seorang ulama diakui bukan hanya karena penguasaannya terhadap teks, melainkan karena keterhubungannya dengan mata rantai keilmuan yang bersambung hingga generasi ulama sebelumnya.

Dalam kerangka tersebut, otoritas keilmuan dibangun melalui proses pembelajaran yang panjang dan berjenjang. Pengetahuan tidak diperoleh secara instan melalui buku atau media digital, melainkan melalui interaksi langsung antara guru dan murid. Relasi semacam ini menciptakan apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut sebagai reproduksi modal kultural (cultural capital) yang berlangsung secara berkelanjutan (Bourdieu 1986, 243–248). Selain sanad, Organisasi 1.0 juga bertumpu pada komunikasi lisan. Tradisi pengajaran di pesantren berlangsung melalui pengajian, halaqah, sorogan, dan bandongan. Pengetahuan ditransmisikan melalui percakapan, penjelasan, serta interaksi langsung yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai dan adab secara bersamaan.

Kondisi tersebut menghasilkan bentuk pengetahuan yang unik. Pengetahuan tidak hanya dipahami sebagai informasi, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter. Karena itu, pesantren tidak sekadar menghasilkan individu yang mengetahui sesuatu, tetapi juga individu yang memahami bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut secara etis. Namun demikian, Organisasi 1.0 memiliki keterbatasan yang tidak dapat diabaikan. Ketergantungan yang sangat besar pada figur tertentu sering kali menyebabkan organisasi mengalami kesulitan ketika terjadi pergantian kepemimpinan. Pengetahuan yang tersimpan dalam memori personal berpotensi hilang ketika tidak terdokumentasikan secara sistematis.

Keterbatasan lain adalah rendahnya kapasitas organisasi dalam mengelola informasi dalam skala besar. Sebagian besar pengetahuan tersimpan dalam manuskrip, kitab, dan ingatan para ulama. Akibatnya, akses terhadap pengetahuan sering kali bergantung pada kedekatan fisik dengan pusat-pusat keilmuan. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan saat ini adalah menganggap Organisasi 1.0 sebagai bentuk organisasi yang usang. Pandangan semacam itu muncul karena banyak orang melihat kemajuan hanya dari sudut teknologi. Padahal, beberapa krisis yang terjadi dalam organisasi modern justru lahir karena hilangnya nilai-nilai yang menjadi kekuatan utama Organisasi 1.0, yaitu kepercayaan, keteladanan, dan integritas moral.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa transformasi digital yang berhasil selalu ditopang oleh modal sosial dan budaya organisasi yang kuat. Teknologi tanpa kepercayaan hanya akan menghasilkan sistem yang canggih tetapi tidak memiliki legitimasi sosial (Verhoef et al. 2021, 890–893). Dalam konteks ini, pelajaran terbesar dari Organisasi 1.0 adalah pentingnya fondasi moral dalam membangun organisasi yang berkelanjutan. Bagi NU, fase Organisasi 1.0 bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan sumber daya peradaban yang harus terus dirawat. Karisma kiai, sanad keilmuan, dan relasi sosial yang humanis merupakan modal sosial yang sangat berharga di tengah kecenderungan dunia modern yang semakin impersonal dan mekanistik.

Tantangan NU pada abad kedua bukanlah meninggalkan Organisasi 1.0, melainkan mentransformasikan nilai-nilai terbaik yang dimilikinya ke dalam bentuk organisasi yang lebih modern. Digitalisasi boleh berkembang, birokrasi boleh diperkuat, dan teknologi boleh digunakan, tetapi seluruh transformasi tersebut harus tetap berakar pada nilai dasar yang telah lama menjadi fondasi NU, yaitu sanad, adab, dan khidmat. Organisasi 1.0 bukanlah masa lalu yang harus dilupakan, melainkan fondasi yang harus menjadi pijakan menuju masa depan. Jika NU ingin membangun Infrastruktur Organisasi 5.0 yang berdaulat dan berkelanjutan, maka pelajaran paling berharga justru terletak pada warisan Organisasi 1.0: membangun organisasi yang bertumpu pada kepercayaan, pengetahuan yang berotoritas, dan kepemimpinan yang bermoral.

Referensi

Bourdieu, Pierre. 1986. “The Forms of Capital.” In Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, edited by John Richardson, 241–258. New York: Greenwood Press.

Verhoef, Peter C., Thijs Broekhuizen, Yakov Bart, Abhi Bhattacharya, John Qi Dong, Nicolai Fabian, and Michael Haenlein. 2021. “Digital Transformation: A Multidisciplinary Reflection and Research Agenda.” Journal of Business Research 122: 889–901.

Vial, Gregory. 2019. “Understanding Digital Transformation: A Review and a Research Agenda.” The Journal of Strategic Information Systems 28 (2): 118–144.

Kane, Gerald C., Anh Nguyen Phillips, Jonathan Copulsky, and Garth R. Andrus. 2019. The Technology Fallacy: How People Are the Real Key to Digital Transformation. Cambridge, MA: MIT Press, 15–24.

Westerman, George, Didier Bonnet, and Andrew McAfee. 2021. Leading Digital: Turning Technology into Business Transformation. Boston: Harvard Business Review Press, 31–45.

Deguchi, Atsushi, et al. 2020. Society 5.0: A People-Centric Super-Smart Society. Singapore: Springer, 3–12.

Smuts, Hanlie, and Alta Van der Merwe. 2022. “Knowledge Management in Society 5.0: A Sustainability Perspective.” Sustainability 14 (11): 6878–6885.

Dhamija, Pavitra, and Surajit Bag. 2020. “Role of Artificial Intelligence in Transforming Organizational Leadership.” Journal of Management Development 39 (4): 405–420.

Castells, Manuel. 2010. The Rise of the Network Society. 2nd ed. Oxford: Wiley-Blackwell, 469–472.

Hitachi-UTokyo Laboratory. 2020. Society 5.0: A People-Centric Super-Smart Society. Singapore: Springer, 15–21.

*Suhermanto Ja’far adalah Dosen Filsafat Digital Fakultasn Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry