CIANJUR | duta.co — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mendampingi Presiden RI Joko Widodo mengunjungi wilayah terdampak gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (5/12/2022).

Bagi Jokowi kunjungan ini merupakan ketiga kalinya ke lokasi bencana sejak bencana gempa bumi dan tanah longsor terjadi pada Senin, 21 November 2022. Sedang bagi Muhadjir merupakan kunjungan keempat kalinya.

Bencana ini mengakibatkan 334 orang meninggal dunia, delapan orang dinyatakan hilang, 17.864 rumah rusak, 104 ribu orang mengungsi di 224 tempat pengungsian, puluhan fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah dan perkantoran rusak.

Muhadjir Effendy menyatakan bahwa kunjungan Presiden ke berbagai lokasi terdampak bencana menandakan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi telah dimulai.

“Alhamdulillah hari ini Bapak Presiden berkunjung untuk ketiga kalinya di lokasi bencana di Cianjur ini. Tadi melakukan kegiatan yang menandakan bahwa sudah dimulai tahap rehabilitasi rekonstruksi walaupun masa tanggap bencana belum selesai,” ujar Menko PMK setelah mendampingi Presiden.

Muhadjir, proses rehabilitasi dan rekonstruksi telah dilakukan secara paralel dengan masa tanggap darurat bencana. Presiden berjanji akan segera melakukan proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang terdampak parah di episenter gempa, dan fasilitas sosial seperti fasilitas sekolah, fasilitas umum seperti masjid yang akan segera dimulai oleh Kementerian PUPR.

“Sesuai dengan arahan Presiden bahwa antara tanggap darurat bencana dan proses rehabilitasi dan rekonstruksi itu dilaksanakan secara simultan dan paralel,” jelas mantan Menteri Pendidikan dan Kebudyaan ini.

Dibantu Rp 50 juta

Kemudian, untuk peninjauan pembangunan tahap satu hunian tetap Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Muhadjir menerangkan bahwa Presiden menargetkan agar pembangunan bisa selesai di akhir Desember.

Target lain, pembangunan hunian tetap tahap berikutnya adalah sekitar 1600 unit rumah. Untuk relokasi tersebut akan disiapkan lahan lainnya dan bisa dibangun pada akhir Desember hinngga sebelum Lebaran.

“Kalau Desember, 200 rumah ini pasti bisa dibangun. Bahkan target kita sisanya di lahan 30 hektar akhir Desember bisa dilakukan,” ucap mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan guru besar Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Selebihnya, untuk rumah warga yang tidak direlokasi akan diberikan bantuan yang besarannya menyesuaikan tingkat kerusakan. Masing-masing Rp50 juta untuk rumah yang rusak berat dan tidak direlokasi, Rp25 juta untuk rumah yang rusak sedang, dan Rp10 juta untuk rumah yang rusak ringan. )*/ANO)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry