K.H. Ahmad Kholili Kholil bersama Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban dalam Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026). Ridho/Duta

MOJOKERTO | duta.co – Empat abad telah berlalu sejak Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Tallo, Sulawesi Selatan. Namun, gagasan tentang kemanusiaan, keteguhan prinsip, dan perlawanan terhadap kezaliman yang diwariskannya masih menemukan relevansinya di tengah tantangan kehidupan masyarakat yang semakin beragam.

Warisan pemikiran ulama sekaligus pejuang tersebut kembali diangkat dalam Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” yang digelar Direktorat Promosi Kebudayaan di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026).

Forum tersebut berfokus perjalanan sejarah Syekh Yusuf, juga menggali nilai-nilai yang dapat dihidupkan kembali untuk menjawab persoalan kebinekaan, kemanusiaan, hingga tantangan generasi muda.

Pengamat naskah klasik sekaligus ulama asal Pasuruan, K.H. Ahmad Kholili Kholil, mengatakan perlawanan Syekh Yusuf terhadap kolonialisme tidak dapat dilepaskan dari prinsip tasawuf yang menempatkan penolakan terhadap kezaliman sebagai nilai utama.

“Bertasawuf itu adalah anti kezaliman, apa pun kezaliman itu. Bukan spesifik anti kolonial atau anti orang asing,” tegas Kholili.

K.H. Ahmad Kholili Kholil bersama Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam Temu Narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari: Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman” di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Mojokerto, Rabu (16/9/2026). Ridho/Duta


Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Syekh Yusuf tidak dibangun atas kebencian terhadap kelompok atau bangsa tertentu. Perlawanan dilakukan karena adanya penindasan dan despotisme yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.

Kholili juga menggambarkan Syekh Yusuf sebagai sosok yang memiliki integritas dan keteguhan prinsip. Ketokohannya, kata dia, tidak hanya digunakan dalam perjuangan keagamaan, tetapi juga menjadi pintu terbentuknya jaringan keilmuan yang luas.

“Yang bisa saya sampaikan adalah Syekh Yusuf adalah pribadi yang sangat-sangat berintegritas. Beliau adalah orang yang berprinsip, bagaimana beliau menjadikan ketokohannya sebagai wadah perjuangan agama,” ujarnya.

Jejak intelektual Syekh Yusuf bahkan melampaui batas wilayah Nusantara. Naskah dan peninggalan yang berkaitan dengan pemikirannya tersebar di sejumlah pusat keilmuan dunia.

“Kita bisa melihat bagaimana peninggalan Syekh Yusuf terbentang mulai dari Jerman, Makkah, Madinah, Teheran, bahkan Princeton University di Amerika, juga di sepanjang Kepulauan Nusantara. Dan itu semua dicapai Syekh Yusuf melalui pribadi yang berintegritas dan berprinsip,” jelas Kholili.

Syekh Yusuf lahir di Tallo pada 3 Juli 1626. Perjalanan intelektualnya membawanya ke sejumlah pusat keilmuan Islam, antara lain Aceh, Banten, Makkah, Yaman, dan Damaskus.

Di Banten, Syekh Yusuf dikenal sebagai pendidik agama dan mufti. Ia kemudian terlibat dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi kolonialisme Belanda.

Belanda mengasingkannya ke Ceylon, yang kini dikenal sebagai Sri Lanka, pada 1684. Setelah itu, Syekh Yusuf kembali dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan. Pengasingan tersebut tidak menghentikan aktivitas dakwahnya hingga wafat pada 1699.

Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Ketokohannya juga mendapat pengakuan di Afrika Selatan. Peringatan 400 tahun kelahirannya pada 2026 turut masuk dalam agenda UNESCO Anniversary 2026.

Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Yusuf diperkirakan meninggalkan sekitar 20 hingga 30 jilid karya yang berisi ajaran spiritual dan tarekat. Pemikirannya juga diteruskan melalui jaringan murid yang tidak hanya berasal dari Nusantara, tetapi juga dari berbagai wilayah dunia.

Sejumlah nama seperti Abdul Qadir As-Shofuri dan Hasan bin Rajab dari Damaskus disebut sebagai bagian dari jaringan keilmuan yang terkait dengan Syekh Yusuf.

Kholili menilai peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf menjadi momentum penting untuk kembali menggali dan menghidupkan nilai-nilai pemikirannya. Namun, ia tidak mendorong agar naskah asli yang saat ini tersimpan di berbagai museum atau perpustakaan luar negeri dibawa secara fisik ke Indonesia.

“Kalau saya pribadi sebagai pengamat naskah, saya kira jangan, tidak perlu. Karena lebih terjaga di sana. Cukup kalau mau mengkaji, dicek versi digitalnya saja. Karena di sana lebih terjaga, saya enggak menjamin kalau dibawa ke Indonesia masih akan terjaga,” terang Kholili.

Menurut dia, pemerintah dan kalangan akademisi justru perlu memperkuat upaya digitalisasi dan kajian terhadap naskah-naskah tersebut. Dengan cara itu, kandungan pemikiran Syekh Yusuf dapat dipelajari secara lebih luas tanpa mengabaikan aspek pelestarian naskah asli. Yang tidak kalah penting, lanjut Kholili, adalah bagaimana ajaran dan gagasan Syekh Yusuf dapat diolah menjadi bagian dari identitas kebudayaan Indonesia yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Sementara itu, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum., melihat ketokohan Syekh Yusuf memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai instrumen diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat internasional. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan intelektual yang lahir dari tradisi ulama Nusantara, tetapi belum seluruhnya diperkenalkan secara luas kepada masyarakat internasional.

Ia mencontohkan Turki yang memperkenalkan tokoh seperti Yunus Emre dan Rumi, serta China melalui Confucius Institute. Indonesia, kata Ginanjar, memiliki sejumlah tokoh intelektual Islam yang juga dapat diperkenalkan secara lebih luas, termasuk Syekh Yusuf Al-Makassari, Hamzah Fansuri, Abdus Samad Al-Palimbani, dan Nawawi Al-Bantani.

Potensi tersebut terutama dapat dikembangkan melalui kerja sama kebudayaan dan pendidikan, termasuk dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Ginanjar juga menilai warisan pemikiran Syekh Yusuf perlu dikemas menggunakan bahasa dan medium yang dekat dengan generasi muda. Salah satu gagasan yang dapat diperkenalkan adalah konsep Insan Kamil, yakni proses penyucian diri menuju kesempurnaan spiritual.

“Perlu dengan logika anak-anak muda zaman sekarang. Misalkan dibuat film, dokumenter, video pendek, infografis, komik, dan media yang sesuai kebutuhan zamannya,” jelas Ginanjar.

Dengan pendekatan tersebut, peringatan 400 tahun Syekh Yusuf tidak berhenti sebagai seremoni sejarah. Momentum ini diharapkan menjadi pintu untuk menghidupkan kembali pemikiran dan nilai perjuangan seorang ulama Nusantara yang perjalanan hidupnya melintasi berbagai wilayah, tradisi keilmuan, dan zaman.

Temu Narasi di Mojokerto menjadi pembuka rangkaian promosi ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari yang berlangsung di enam wilayah Indonesia sepanjang September hingga Oktober 2026. Rangkaian tersebut mencakup Jawa Timur, Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Rid

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry