Syarif Thayib (Dosen UINSA, Ketua Umum Yayasan Masjid Peneleh Surabaya)
REBO Wekasan artinya Rabu pamungkas, Rabu terakhir dari bulan Safar, bulan kedua Hijriyah sebelum Robiul Awal. Ada riwayat, hari ini (1437 tahun yang lalu) merupakan hari dimana Nabi Muhammad SAW mulai sakit demam tinggi, sebelum kemudian wafat di hari Senin, 12 Robiul Awal, sama persis dengan hari dan tanggal kelahirannya.
Kebetulan penulis punya jadwal rutin “kuliah Shubuh” Rebo-an di Masjid Al Ikhlas Baratajaya Surabaya, sehingga rutin pada Rabu Safar terakhir menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana Rebo Wekasan.
Menjelaskan Rebo Wekasan di hadapan masyarakat Jawa khususnya atau Indonesia pada umumnya tentu tidak se-sulit menjelaskan kepada masyarakat Arab, karena di Jawa sudah sangat familiar dengan istilah “Weruh sak durunge winarah” (bahasa tasawuf: kasyf) atau tahu sebelum kejadian.
Menggiring nalar “Rebo Wekasan” jadi relatif mudah, bahwa keyakinan tersebut bermula dari pendapat sebagian orang arif (bijaksana) dari kalangan ahli kasyf (penyingkapan) dan tamkin (keteguhan rohani) atau beliau yang Weruh sak durunge winarah Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi (w.1151 H) menyebutkan bahwa setiap tahun turun 320 ribu bencana, dan semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Maka hari itu menjadi hari yang paling berat di sepanjang tahun.
Believe it or not. Dari sini, muncul pandangan berbeda, ada yang percaya, ada yang tidak. Maka hemat penulis terhadap “Rebo Wekasan” adalah percaya boleh, tidak percaya pun boleh. Yang tidak boleh adalah “nyinyir” atau benci tipis-tipis kepada yang percaya Rebo Wekasan atau sebaliknya, yang tidak percaya Rebo Wekasan.
Hanya, dari mereka yang percaya ataupun yang tidak percaya Rebo Wekasan sama-sama sepakat terhadap amalan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia, bahwa ketika Rebo Wekasan tiba, kita dianjurkan untuk  memperbanyak doa, istighfar, membaca Alqur’an, mendirikan shalat Mutlaq, juga mengingat-ingat dan/atau menuliskan 7 ayat Alqur’an yang didahului kata “salam” (keselamatan) sebagai wujud mendekatkan diri kepada Yang Maha Memberi Keselamatan.
Tidak hanya di Rebo Wekasan, 5 amaliyah di atas disepakati sangat bagus dipraktekkan pasca Rebo Wekasan. Dengan begitu, bisa kita temukan titik kesamaannnya, sambil meluruskan, bahwa percaya Rebo Wekasan bukanlah klenik, apalagi TBC (tahayyul bid’ah churafat).
MASJID PENELEH MENJAGA TRADISI
Tradisi atau warisan budaya menjadi penopang utama Islam berdiri tegak di bumi nusantara hingga hari ini. Kecerdasan para Walisongo menyebarkan Islam yang berusia panjang tanpa pertumpahan darah karena mereka bisa menyandingkan agama dan budaya seperti keping mata uang, satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa budaya seperti robot. Kaku, tidak toleran.
Menutup aurat ketika shalat adalah syariat agama, sedangkan menutup aurat dengan kain batik adalah budaya. Maka umat Islam Indonesia yang shalatnya mengenakan batik, baju koko, berkopyah hitam, dan lain-lain dianggap lebih elegan daripada memakai jubah – bersorban, karena batik – berkopyah adalah budaya kita bangsa Indonesia.
Bayangkan, kalau doeloe para Walisongo memaksa jubah – surban sebagai pakaian penutup aurat umat Islam Indonesia yang memiliki simbol budaya dan sudah mengakar kuat, ditambah vonis bid’ah bagi yang tidak sama persis dengan pakaian tradisi Arab, tentu bakal mendapat perlawanan sengit dari masyarakat Indonesia.
Ingat, Walisongo pun enggan membenturkan  syariat Qurban misalnya, dengan keyakinan Hindu dan Budha yang “memberhalakan” sapi. Maka Walisongo menganjurkan umat Islam di Kudus dan sekitarnya ketika itu untuk menggantikan sapi dengan kerbau sebagai hewan qurban. Sejak itu, makanan khas lokal, seperti soto, rawon, dan lain-lain disana memakai daging kerbau (bukan sapi) sampai hari ini.
Untuk itu, tradisi membaca Yasin, dzikir, dan doa bersama di Masjid Peneleh pada malam Rebo Wekasan lazim dipertahankan, sebagaimana tradisi malam tirakatan 17-an Agustus, syukuran malam hari santri 22 Oktober, kirim doa malam 10 Nopember hari pahlawan, dan lain-lain juga lestari hingga hari ini.
Penghargaan terhadap tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama seperti penjelasan di atas itulah yang dimaksud Islam nusantara yang berdampak pada soliditas umat merawat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Insya Allah ke depan, penulis akan menjelaskan bagaimana tokoh sentral Masjid Peneleh ketika itu, Almaghfurlah KH. Thohir Syamsuddin dan lain-lain sampai memelihara Ayam di teras rumahnya, bukan untuk diadu (sabung ayam) dan lain-lain, tetapi sebagai pengingat tradisi, bahwa kelenturan dakwah Sunan Ampel di kampoeng Peneleh melalui simbol “Ayam Jawara” berbuah Islam dengan mudah menggantikan paham animisme dan dinamisme yang dianut dan mengakar kuat pada diri penduduk setempat. Wallahu a’lam bis-shawab.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry