
SURABAYA | duta.co – KH M Ishaq Masykuri dzuriyah (cucu pendiri) Nahdlatul Ulama, KH Baidhowi, Lasem, Jawa Tengah, yakin jamiyah ini bakal menemukan jalan terbaiknya. Bahwa sekarang ribut, ini merupakan akibat dari pengurusnya yang jauh dari ikhlas. Suka riswah, suap-menyuap atau sogok-menyogok (pakai uang) dalam merebut jabatan.
“Saya yakin, siapa yang mempermainkan NU, tidak bakal bisa lama di jamiyah ini. Hari ini, kita saksikan ribut di PBNU. Saya melihat ini semua berasal dari proses pemilihan di Muktamar NU yang sarat dengan riswah. Muktamar ke-34 NU di Lampung sangat telanjang. Jadinya seperti ini,” tegas KH M Ishaq Masykuri kepada duta.co, Jumat (19/12/25).
Keruwetan itu, katanya, sudah terjadi di Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang. “Gus Solah (almaghfurlah KH Salahuddin Wahid) dipermainkan sedemikian rupa. Jalannya muktamar tidak karu-karuan, menghalalkan segala cara. Mereka yang sekarang ribut, itu dulu mempermainkan Gus Solah, KH Hasyim Muzadi dengan cara yang jauh dari adab. Padahal mengelola NU itu, harus dengan cara beradab,” tambahnya.
Sebenarnya, tegas KH Ishag, para sesepuh sudah wanti-wanti, mengingatkan kepada KH Yahya Cholil Staquf, agar menata NU dengan ikhlas. Hidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU. Ada yang pakai sindiran. Maka, kalau tidak hati-hati, bisa salah pemahamannya.
“Saya baca YouTube, bahwa, Gus Mus (KH Mustofa Bisri) mengatakan kepada KH Yahya Cholil: Niatmu apa di PBNU? Kalau mencari kedudukan saya lawan atau tidak mendukung. Tapi kalau mencari pekerjaan saya setuju. Kalimat Gus Mus ini multi tafsir. Di sini Gus Mus saya anggap keliru, mestinya nasihatnya menjadi pengurus PBNU harus ikhlas. Bukan mencari pekerjaan, akhirnya Gus Yahya (sekarang) ribut soal keuangan,” tegasnya.
KH M Ishaq Masykuri yakin, NU akan diselamatkan Gusti Allah. Jamiyah ini menjadi jangkar keseimbangan Indonesia. “Saya masih ingat nasehat kakek saya (KH Baidhowi red) pada anaknya KH Ahmad Baidhowi: Rawatlah NU walaupun tinggal papan nama. Ini falsafah tinggi. Apalagi dengan anggota yang banyak. Ada pesanten, pendidikan, rumah sakit, sentral ekonomi, dll,” pungkasnya. (mky)







































