Ratusan warga dari 3 desa bersama PC GP Ansor Bangil, melakukan aksi demo dan menandatangani kain putih yang dibentangkan di pinggir jalan desa, Senin (7/1/2019), pagi. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Ratusan warga 3 desa yakni Desa Wonokoyo, Gununggangsir dan Cangkring Malang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, dengan dukungan penuh dari PC GP Ansor Bangil, ramai-ramai kepung PT. Wonokoyo Jaya Corporation atau Sea Master terkait limbah, Senin (7/1/2019). Mereka datang secara tertib tersebut, sambil berteriak yel-yel.

Dengan long march sejauh 500 meter sambil berorasi, mereka menuju perusahaan ayam potong, udang dan sosis kemasan itu. Mereka juga melakukan tanda tangan aksi tolak limbah di atas kain putih sepanjang ratusan meter. Sambil membawa spanduk, mereka berorasi menyesalkan limbah yang dibuang di Sungai Wrati, yang berakibat sungai menjadi tercemar.

Dari aksi tersebut, warga juga menduga ada 5 perusahaan di wilayah Wonokoyo yang membuang limbah ke Sungai Wrati yang kerap munculkan banjir tersebut. Warga juga menduga adanya pemasangan pipa siluman untuk membuang limbah ke sungai yang dilakukan pihak PT. Wonokoyo Jaya Corporation. “Akibat pembuangan limbah itu, mengakibatkan pencemaran sungai wrati,” tandas Anam, korlap aksi, saat orasi.

Warga menyesalkan, upaya protes bertahun-tahun tak pernah mendapatkan respons apa pun dari perusahaan. Akibat limbah yang dibuang ke Sungai Wrati, airnya meresap hingga ke sumur-sumur warga sekitar. “Air sumur warga ikut tercemar. Kami sesalkan, air sumur tidak bisa konsumsi air sumur lagi karena airnya berbau tak sedap,” terang Ningsih, warga Desa Wonokoyo.

Aksi warga dipicu lantaran pihak perusahaan tidak menggubris keluhan warga selama ini. Sebelumnya, kelima perusahaan tersebut berjanji pada tanggal 31 Desember 2018 akan melakukan pembenahan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), namun hingga aksi warga digelar, janji itu tak terealisasi, sehingga aksi protes itu dilakukan oleh warga sebagai bentuk kekecewaan.

Ditempat terpisah Ketua PC GP Ansor Bangil, Saad Muafi mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan segera turun tangan dan berlaku adil. Ia meminta untuk melakukan penutupan terhadap perusahaan yang melanggar aturan dan merugikan warga. “Saya berharap dinas jangan masuk angin, ingat rakyat sudah menderita akibat dari pembuangan limbah itu,” jelas dia, saat di lokasi.

Pihaknya menyesalkan tidak ada upaya perbaikan IPAL yang dilakukan oleh ke lima perusahaan yang disinyalir punya andil dalam kerusakan biota Sungai Wrati itu. Jika keluhan warga tidak mendapat tanggapan, maka pihaknya mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi. Tak hanya sampai di situ, pihaknya juga tengah mempersiapkan untuk mengambil langkah hukum. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.