
SURABAYA | duta.co – Hari ini, Kamis (8/5/25) ratusan siswa dan guru dari PKPPS Darut Ta’lim Surabaya bertandang ke Museum Nahdlatul Ulama (NU) yang berada di Gayungsari Timur 35 Surabaya. Mereka didampingi para guru ingin memperdalam sekaligus memahami sisi keagamaan NU. Demikian dalam suratnya yang diteken Kepala Sekolah PKPPS Darut Ta’lim, Alfa Rabi Ali, S.HI., M.Ag.
“Intinya seperti itu. Hampir seluruh siswa yang berkunjung ke Museum NU ingin memperdalam sisi keagamaan NU. Ini penting, bukan hanya untuk NU tetapi juga untuk memperkokoh bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” demikian disampaikan Ilham Maulana, yang sehari-hari menjaga dokumen-dokumen penting di Museum NU.
Menurut Hamna—panggilan akrabnya—di Museum NU kader-kader muda nahdliyin bisa memperkuat pemahaman tentang kebangsaan, termasuk kemanusiaan. Kiai-kiai NU, katanya, hidup itu tidak memikirkan diri sendiri, tetapi, bagaimana sebagai kholifah di bumi ini berjalan semestinya.

“Rekam jejak muassis (pendiri) NU terlihat jelas, perjuangannya jelas terlihat dari peninggalan sejarah NU,” tegasnya sambil menjelaskan 3 mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya akan mendampinginya.
Ratusan siswa di jenjang Pondok Pesantren berstatus Swasta yang berada di wilayah Kecamatan Kenjeran, tepatnya di Bulak Banteng Lor Bhineka F/1 RT 5 RW Kota Surabaya, ini akan menjelajahi peninggalkan para muassis NU. Dari misi besar Komite Hijaz ke Arab Saudi, sehingga terbit surat balasan Raja Saud sampai bagaimana NU mematri moderasi dalam beragama demi kuatnya persatuan NKRI.
“Orang haji, umroh ke tanah suci, itu tidak bisa lepas dari jerih payah Komite Hijaz. Tuntutannya dikabulkan Raja Saud, di antaranya diperbolehkannya empat madzab berjalan dalam ritual haji tahunan. Andai saja tidak ada Komite Hijaz, mungkin saja Arab Saudi menjadi daerah esktrem, Wahabi,” tegasnya.

Hal yang sama, yang perlu dipahami anak-anak kita adalah semangat juang NKRI. “Anak-anak NU juga bisa kita tunjukkan dokumen Resolusi Jihad. Mengapa semangat Resolusi Jihad NU yang mestinya melekat dengan Hari Pahlawan 10 November 1945 tidak begitu lengket. Ini perlu ada penguatan sejarah di benak anak-anak kita, sehingga semangat kebangsaannya tidak mudah luntur,” tegasnya.
Turut mendampingi ratusan siswa dan ustad dari PPS Darut Ta’lim adalah Muhammad Nizham Alkafy, redaktur duta.co. Alumni UIN Surabaya, Fakultas Adab jurusan Sejarah Peradaban Islam ini mengapresiasi semangat anak-anak muda NU untuk terus belajar sejarah.
“Ini modal penting untuk memahami arah beragama ala nahdliyyah. Nahdliyin harus memegang teguh moderasi beragama demi penguatan NKRI. Kebersamaan dalam keberagaman,” tegasnya. (nzm)