Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Matholi’ul Anwar Simo, Desa Sungelebak, Lamongan, saat melakukan aksi turun ke jalan membawa gayung dan timba plastik. (FT/Ardi)

LAMONGAN | duta.co – Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Matholi’ul Anwar Simo, Desa Sungelebak, Kabupaten Lamongan, melakukan aksi turun ke jalan dengan membawa gayung dan timba plastik untuk menguras genangan banjir yang tak kunjung surut, Selasa (10/3/2026) sore.

Aksi tersebut bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa. Kegiatan menguras banjir menggunakan gayung dan timba itu merupakan bentuk protes simbolik para santri terhadap lambannya penanganan banjir yang terjadi di wilayah tersebut.

Para santri melakukan aksi “kuras jalan” sebagai bentuk inisiatif sekaligus sindiran terhadap penanganan banjir di Kabupaten Lamongan yang hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan.

Selama lebih dari empat bulan terakhir, genangan air masih merendam akses jalan utama di depan pesantren serta lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat aktivitas warga dan para santri terganggu, terutama bagi pengguna jalan yang setiap hari melintas di lokasi tersebut.

Air yang menggenang dalam waktu lama juga menyebabkan permukaan aspal jalan menjadi licin dan ditumbuhi lumut, sehingga membahayakan para pengguna jalan.

Koordinator aksi, Maulana Arif Hidayatulloh, mengatakan kegiatan tersebut muncul dari rasa jenuh para santri yang selama berbulan-bulan harus menghadapi kondisi banjir tanpa kepastian kapan akan surut.

“Banjir ini sudah menggenang pesantren dan jalan ini selama empat bulan lebih. Ini inisiatif kami bersama ratusan santri untuk membantu pemerintah menguras jalan agar banjirnya segera selesai,” ujar Maulana di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, pemerintah daerah memang kerap menyampaikan telah melakukan berbagai upaya, termasuk optimalisasi sistem pompanisasi. Namun kenyataan di lapangan dinilai masih jauh dari harapan masyarakat.

“Pemerintah selalu menyampaikan sudah berusaha maksimal, tapi nyatanya sampai detik ini banjir di Lamongan malah makin parah,” tegasnya.

Melalui aksi tersebut, para santri berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dan efektif untuk menuntaskan persoalan banjir yang setiap tahun melanda kawasan tersebut.

Mereka juga berharap adanya solusi jangka panjang agar aktivitas pendidikan di pesantren maupun kegiatan ekonomi masyarakat tidak terus terganggu. Para santri pun meminta penanganan banjir dapat segera tuntas sebelum Hari Raya Idul Fitri. (ard)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry