“Sadar atau tidak, jika negara ini terus-terusan bergantungan kepada China, maka kekayaan alam dan sumber daya manusia kita akan tumpul karena hegemoni penguasa dari negara-negara lain.”

Oleh: Kholili

BUKAN rahasia lagi, bahwa, pandemi Covid-19 menjadi bencana global yang merusak sendi-sendi kehidupan sosial, ekonomi, dan tatanan politik nasional. Dalam waktu singkat, pola kehidupan sosial berubah secara spontan.

Corona virus disease atau yang populer dengan sebutan Covid-19 telah menjadi virus yang mengisolasi kebiasaan masyarakat secara umum. Kini, masyarakat hanya bisa mengikuti dan mematuhi himbaun pemerintah dengan harapan agar virus ini segera usai dan bisa berakfitas seperti sedia kala.

Virus yang tak terlihat tersebut, segitu sadiskah atau tidak? Banyak pakar medis mengatakan bahwa virus ini tidak seganas virus AIV (avian influenza virus) sehingga tidak perlu parno dalam menghadi virus ini.

Rapid test dan swab yang selama ini diyakini akan menjadi satu langkah metode untuk menimalisir penyebaran virus seolah-olah hanya bualan simalakama. Pemerintah sudah mengalokasikan APBN triulinan rupiah, bahkan terus naik, tetapi, hasilnya hanya menyinarkan wajah buram dan suram bagi masyarakat indonesia.

Sosialisasi rapid test dan swab gratis, seakan bualan, banyak masyarakat yang mengeluh dan mengelus dada saat ia datang kerumah sakit untuk melakukan rapid test yang dikenakan biaya administrasi sampai Rp 250 ribu, sedangkan swab Rp 750 ribu.

Lalu, anggaran ratusan triulinan itu, seakan bukan lagi rakyat penikmatnya, tapi konspirasi bisnis farmasi, bahkan ada yang menuding pensiunan dan pejabat Negara, sedangkan rakyat hanya jadi objek ‘pemerkosaan’ kesehatan dari penguasa.

Rapid dan swab disemua daerah dan provinsi, sudah dilaksanakan dengan ‘baik’ sesuai anjuran pemerintah, tapi setiap hari masyarakat disungguh informasi dengan angka peningkatan kematian dan terpapar virus covid-19. Sehingga tidak salah jika masyarakat bertanya, masih perlukah rapid test dan swab itu?

Faktanya Korban Meingkat

Diyakini, rapid test dan swab menjadi suatu metode yang mampu menimalisir angka penyebaran virus disease. Jika efektif, seharusnya curva covid-19 sudah melandai atau menurun secara signifikan. Tapi, kenyataannya yang terpapar yang meningkat secara signifikan walaupun presentase angka kesembuhannya cukup bagus daripada angka kematian tapi kabar pilunya angka kematian di Indonesia lebih banyak Se-Asia.

Zero zone dalam penyebaran covid-19 dengan langkah rapid test dan swab, ternyata, bukanlah satu metode yang mampu menerjemah dengan baik sehingga anggaran besar yang dialokasikan negara hanya menjadi permainan elite politik dengan konspirasi farmasi dengan negara adidaya misalnya, China.

Kenyataannya, rapid test dan swab diimpor dari China, sedangkan China sendiri tidak mampu mengendalikan penyebaran virus covid-19. Lalu, dimana logika kita ditaruh?

Jika Indonesia masih bergantungan dengan alat kesehatan negara China, kapan Indonesia akan menjadi negara besar dan independen? Atau memang ini konspirasi dari elite politik bangsa di tengah kesengsaraan rakyat?

Metode rapid test dan swab, hemat kami, serupa dengan protokoler kesehatan yang lain, misalnya memakai masker, mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer, penyemprotan disinfektan dengan tujuan meminimalisir dan mencegah terjadinya kuantitas penularan yang lebih masif dan buruk.

Sehingga negeri ini tidak perlu lagi mengimpor alat kesehatan (rapid test dan PCR) dari negara lain yang secara logika akan menguntungkan bagi negara tersebut.

Mental Broker

Indonesia seharusnya memproyeksikan tenaga medisnya sendiri untuk memproduksi alat kesehatan daripada uang rakyat Indonesia disubsidikan kepada negara lain (China) demi membeli alat kesehatan.

Sadar atau tidak jika negara ini terus-terusan bergantungan kepada China, maka kekayaan alam dan sumber daya manusia kita akan tumpul karena hegemoni penguasa dari negara-negara lain.

Indonesia tidak kekurangan stok peneliti dan sains, misalnya lulusan UB, UNAIR, UI dan UGM. Bentuk satu wadah resmi yang memang diproyeksikan untuk meneliti obat atau vaksin covid-19 yang menjadi obat nasional bahkan global sehingga mampu mengendalikan penyebaran virus disease.

Mampu atau tidak Indonesia? Sepanjang ada kemauan, penulis yakin Indonesia bisa. Masalahnya bangsa ini terlalu lama dikendalikan mental-mental broker. Waallahu’alam. (*)

Kholili adalah mahasiswa Pasca Sarjana UIN-SA Surabaya.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry