
“Ada petuah ulama besar Al-Ghazali, kosongkan hati dari keinginan rendah, pikiran duniawi fokus dzikir. Makan secukupnya saat berbuka, waktunya lipatgandakan pahala.”

By Isfandiari MD
RAMADHAN bikin was-was. Itu gambaran jujur mang Uhi sebagai bulan luarbiasa dari sisi duniawi. Kepala keluarga ini buka-bukaan, soal dominasi topik makanan dalam setiap aktivitas. Sahur makan apa? Persiapan buka? Ngabuburit berburu segala jenis makan-minum. Habis taraweh sampai menjelang sahur ngemil apa? Itulah dominasi kalimat anak istrinya yang bikin puyeng. Pengeluaran bertambah dalam hidup yang pas-pasan. Padahal wejangan kyai, ustad, ajengan, gus, alim ulama beda tentang bulan istimewa ini. Kata mereka bulan prihatin, rasakan lapar kaum miskin, padat ibadah, bulan kesederhanaan, empati, menahan diri, filosofi komprehensif mendidik jiwa.
Ada petuah ulama besar Al-Ghazali, kosongkan hati dari keinginan rendah, pikiran duniawi fokus dzikir. Makan secukupnya saat berbuka, waktunya lipat gandakan pahala. Senada wejangan Abu Dzar Al Ghifari salah satu sahabat Nabi yang punya tempat istimewa dalam sejarah Islam. Katanya, waktu yang pas perbaharui iman, kurangi beban duniawi, minimkan kemewahan demi ketulusan. Pererat persaudaraan dan empati. Syekh Yusuf al-Qardhawi bernasehat sebagai latihan tinggalkan yang halal demi nilai ketakwaan lebih tinggi di sisi Allah. Imam Hasan al-Bashri perintahkan untuk tidak berlebihan, waktunya berlomba-lomba dalam ketaatan, bukan kelalaian. Terdengar juga nasehat ulama nusantara. Sunan Gunung Jati pesan agar hati selalu bersyukur, momen melatih hati tak sekedar lapar-haus tapi bersih dari penyakit hati. Sunan Bonang, pengendalian hawa nafsu secara total. Sunan Drajat anjurkan perbanyak sedekah, peduli sesama. KH. Bahauddin Nursalim dikenal Gus Baha sarankan perbanyak mengaji, dalami ilmu agama sebagai bentuk syukur atas datangnya bulan mulia.
Itulah Ramadhan, sejatinya pengendalian diri, latihan disiplin psikologis-spriritual. Fikihnya menahan lapar, tasawufnya menahan panca indra, lisan, hati mencapai kesalehan batin. Jadi refleksi kemanusiaan dan solidaritas, kesadaran atas waktu menuju takwa dan iklasan.
Wejangan ini tak dirasakan Uhi. Ia malah alami puncak belanja dan gaya hidup berkali lipat ketimbang bulan biasa. Ada fenomena bukber sampai melonjaknya tren belanja online jelang buka atau sahur di platform tersedia. Baginya, malah moment mewah, cenderung israf (boros) masuk prilaku ‘bid’ah’ tak sesuai contoh nabi, hilang esensi rasakan lapar bagai orang miskin, ketaqwaan turun. Makin parah, jadinya riya’-pamer berpotensi sakiti hati orang yang serbakurang.
‘Traffic’ di bulan Ramadhan sejak day one makin padat. Pasar-pasar penuh, jajanan melimpah walau terasa suasana baiknya, giat ibadah naik, mesjid ramai di tarawih ataupun setelah sahur. Pengajian-pengajian makin marfak. Bayangan mang Uhi soal bulan yang sendu, sunyi senyap dalam kehing ibadah sirna. Bulan yang idealnya lebih tidak konsumtif bertolak dari kenyataan di lapangan. Menjelang sebulan itulah ia dihantui was-was, ada tekanan sosial yang mau tak mau harus ia hadapi. Menjelang akhir-akhir bulan, ia semakin gundah, bagaimana menghadapi Idul Fitri? Pastinya makin menjadi.
Ini fakta! (*)





































