
“Dalam War Takjil terdapat kasunyatan yang jualan muslim dan yang beli takjil nonmuslim, begitu juga sebaliknya. Mudah ditemukan di sentra-sentra jualan di semua wilayah metropolitan ataupun di tingkatan kabupaten-kabupaten.”
Oleh Suparto Wijoyo
SALING serang antara Iran dan Israel-USA terus berlanjut. Pemberitaan mengenai perang ini semakin melingkupi berbagai peristiwa banjir di berbagai kota, termasuk Jakarta. Di luar itu semuanya, di ramainya jalanan Kota Surabaya maupun Kabupaten di Jawa Timur, terdapat semburat orang yang berkerumun. Akhir pekan ini saya sendiri menjelajah ke berbagai daerah. Terdapat fenomena yang semakin mengharukan. Orang berbagi makanan untuk sesama. Ormas-ormas kepemudaan memenuhi areal jalanan dengan menyebarkan makanan untuk iftar. Takjil adalah waktu yang sangat ditunggu dan guna menyambutnya banyak filantropi yang merapatkan barisan. Kami yang berada di kampus dan mereka yang berkerumun di mall-mall serta rumah-rumah perkampungan, langsung tertegun. Saya sendiri semakin kagum dengan perilaku publik yang kian dermawan.
Memang Ramadhan 1447 H ini melahirkan semarak orang berbagi cerita dengan menuangkan harga benda untuk sesama. Lihatlah. Ramadan 1447 H ini menyajikan fenomena baru. Muncul pergerakan yang menggambarkan keunikan. Melibatkan ragam kalangan. Muda-tua, pria-wanita, anak-anak maupun remaja. Semuanya tumplek-blek memenuhi semua sisi perkotaan sampai perdesaan. Muslim-nonmuslim saling mendekat di arena yang sebelumnya tidak mencuat ke permukaan. Jelang waktu matahari lingsir menjemput maghrib, orang-orang pada keluar memenuhi jalanan, meramaikan sudut-sudut penjualan takjil. Warna kulitnya tidak homogen dan latar dudayanya tampak hiterogen. Sisi religiusitasnya pun nonmuslim. Atribut imannya tidak menjadi bincangan. Semua lebur dalam satu kebutuhan tunggal menikmati nuansa Ramadan.
Kehadiran warga kota yang bergerombol itu tarasa mulek koyok susur (alias padat berhimpitan) di antara lapak-lapak dagangan makanan takjilan. Tetangga dan kolega sangat bersyukur atas situasi Ramadan ini. Camilan sore hari dan kebutuhan makan malam hari telah cumepak, telah tersedia di titik-titik teritorial perkampungan. Saudara-saudara nonmuslim justru sangat antusias, termasuk mengundang buka bersama. Kawula hawa dan emak-emak merasa diuntungkan atas penjualan produksi takjilan, karena lebih ringan tugasnya, tidak perlu masak dan belepotan menjalankan tugas di dapur. Mereka tinggal keluar gang dan pergi ke lorong kampung, acap kali ketemu pusat-pusat jajanan takjilan. Mereka serentak melingkar ke dagangan takjilan dalam kerangka konstruksi sosial yang kini diramaikan dengan sebutan War Takjil.
Gempita spiritnya mendapatkan makanan buat takjil guna membatalkan puasa bagi muslim, atau untuk mengobati rasa lapar bagi kawan saya yang nonmuslim, bahkan menyatakan sebagai tombo iler. Sungguh, bagi mereka jenis-jenis makanan yang dijual dalam meja-meja yang tergelar itu sangat menarik minat, membuat ingin meraupnya banyak-banyak. Seolah mereka serentak berseru: ayo bergerak, serang, maju, serbuuuuuuu untuk meraih makanan takjil. Ini kenyataan yang sangat penting. Bukan karena kebutuhan atas pangan yang tercukupi, melainkan membaurnya warga negara untuk saling merekatkan kesatuan berbangsa. Mereka merasakan nikmatnya Ramadan dan teduhnya muslim dalam membersamai saudaranya yang nonmuslim.
Dalam War Takjil terdapat kasunyatan yang jualan muslim dan yang beli takjil nonmuslim, begitu juga sebaliknya. Mudah ditemukan di sentra-sentra jualan di semua wilayah metropolitan ataupun di tingkatan kabupaten-kabupaten. Muslim dan nonmuslim bertemu dalam ruang Ramadan. Dipersatukan oleh kebutuhan bersama, yaitu menikmati sajian jajanan takjil. War Takjil menyuguhkan fakta betapa sekat sosial atas nama ras, agama, dan suku bangsa telah mencair, melumer menjadi adonan kental yang meneguhkan keberadaan warga manusia. Sesama manusia penghuni Nusantara telah menyatukan jiwa dan ruhani pesonanya. Untuk hari ini termasuk mereka yang sangat berbeda pilihan dalam pilpres 2024 tempo hari, sudah dapat makan takjil bareng, duduk bareng, ngobrol bareng. Sangat dewasa berdemokrasi dan kian menggumpalkan kemanusiaannya yang utuh.
War Takjil selaksan menjadi agen pergerakan yang melambangkan keindahan kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia. NKRI menjadi panggung persatuan dan Ramadan memberikan keajaiban sosial itu. Dalam konteks inilah saya teringat pula filosofi Suku Amungme yang telah dikenal luas: “Te Aro Neweak Lamo”. Ungkapan ini sangat familier sekaligus menunjukkan tingkat magis yang luar biasa. Suatu penggambaran hubungan yang tiada batas antar warga Papua (baca Indonesia) dengan hamparan tanah dan gunung yang kaya raya. “Te Aro Neweak Lamo” yang berarti “Alam adalah diriku, Aku adalah Tanah” sebagaimana diceritakan dalam buku Quo Vadis Papua yang ditulis oleh putra Papua, Freddy Numberi.
Dengan ungkapan itu telah terkisahkan berderet cerita, berjajar pelajaran dan bertumpuk dongeng serta berpendar teladan atas relasi yang sangat ritmis dalam Ramadan ini. War Takjil yang telah memberikan banyak fantasi dengan keragaman hayatinya. Kesadaran tertinggi yang dapat dipetik pastilah bahwa War Takjil dalam Ramadan ini harus dilanjutkan di luar Ramadan, dirawat dan terus disyukuri tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan seluruh anak negeri. Keriuhan massal antarwarga dengan isu muslim-nonmuslim tidak lagi dipertentangkan, melainkan dimaknakan pasedulurannya. Kata kawan dari Bumi Cendrawasih ada ungkapan, hat hinda an ninda – hatimu, hatiku, bertautlah dalam War Takjil. Subhanallah.
*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur






































