Oleh Mukti Ali Qusyairi*

KETIKA Ketua DKM Masjid al-Amal Setia Budi Kuningan Jakarta Selatan meminta saya mengisi kajian zuhur tentang Ramadhan, kebetulan saya sedang membaca kitab al-Ghunyah karya Tuan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Ini dalam rangka muthala’ah persiapan untuk pengajian kitab itu di Sabtu Pagi. Saya menerima tawaran itu. Karena tidak bentrok dengan kegiatan yang lain.

Beberapa saat kemudian jadwal kajian saya terima mendapatkan jadwal di Senin, 23 Februari 2026. Saya memantapkan diri mengkaji Ramadhan dalam pandangan Tuan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (AQJ) dari kitabnya al-Ghunyah itu.

Menurut Tuan Syekh AQJ bahwa Kata Ramadhan terdiri dari lima huruf yang mengandung singkatan. Huruf Ra singkatan dari kata Ridwanullah (keridhaan Allah); huruf Mim singkatan dari kata Mahabatullah (cinta Allah); huruf Dhad singkatan dari kata Dhamanullah (jaminan atau balasan Allah); huruf Alif singkatan dari Ulfatullah (kasihsayang Allah); huruf Nun singkatan dari Nurullah (cahaya Allah). Sehingga jika dirangkai semua bisa diartikan bahwa Ramadhan adalah bulan kerdihaan, kecintaan, balasan, kasihsayang dan cahaya Allah bagi orang-orang yang melaksanakan puasa, orang-orang baik dan para kekasih Allah.

Lalu, saya kupas satu persatu dari lima kata tersebut dengan singkat dan padat.

Pertama, Rahmat dan ridha Allah adalah yang diharapkan dan didambakan oleh semua umat muslim, sebab rahmat dan ridhaNya yang dapat memastikan seorang hamba bisa masuk sorga. Sebesar dan sebanyak apapun amal kita tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang sudah Allah berikan kepada hamba-Nya. Tak ada amal yang bisa dibanggakan dan diandalkan. Karena itu agar amal itu bernilai maka harus diniyatkan semata untuk mencari ridha Allah, lillahi ta’ala. Tanpa ada tujuan atau modus yang lain.

Puasa adalah salah satu jalan menuju ridha Allah. Puasa adalah ibadah yang paling rahasia dan privat hanya Allah dan yang bersangkutan yang tahu. Orang lain sejatinya tidak tahu. Allah berfirman dalam hadits Qudsai, “puasa untuKu. Maka aku sendiri yang membalasnya”.

Kedua, cinta Allah. Saya mengutip perkataan Sayekh Abu Yazid al-Basthami, “aku telah salah menduga. Aku menduga aku mencintai Alllah, agar Allah mencintaiku. Sebelum aku menyampaikan cintaku kepada Allah, ternyata jauh-jauh sebelumnya terlebih dahulu Allah sudah mencintaiku”. Cinta Allah Mahauniversal, tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, tanpa pamrih. Allah mencintai seluruh makhluknya manusia, binatang, bumi, langit, dan yang lainnya. Cinta Allah kepada makhluknya tak bisa dibandingkan dengan cinta Makhluk kepadaNya dan kepada sesama.

Allah Mahacinta dan mengajak seluruh umat manusia untuk saling mencintai. Umat muslim harus menebar cinta kepada semua manusia, binatang, lingkungan dan alam ini. Puasa adalah ibadah yang menempa dan menggembleng manusia untuk menajamkan sensitivitas dan kepekaan sosial serta menguatkan rasa cinta kepada sesama.

Ketiga, balasan Allah. Janji Allah pasti ditepati. Diantara janjinya adalah balasan terindah bagi orang-orang yang beribadah, orang-orang shaleh, orang-orang yang baik. Balasan bagi orang-orang yang melaksanakan puasa karena Allah adalah sorga.

Keempat, kasihsayang Allah. Ini menguatkan cinta. Allah selain Mahacita juga Mahakasihsayang.

Kelima, cahaya Allah. Dalam satu ayat Al-Quran dikatakan, “Allah adalah cahaya langit dan bumi… Allah adalah cahaya di atas cahaya” (Qs. An-Nur: 35). Kita berasumsi bahwa kegelapan adalah penghalang mata kita. Mata kita tidak bisa melihat dalam gelap gulita. Meski ada sesuatu karena gelap, mata tak bisa melihat. Padahal cahaya yang terang benerang pun adalah penghalang mata kita. Ketika mata kita tersorot lampu yang sangat terang, maka kita pun tak bisa sanggup melihat apa yang ada di cahaya itu. Bahkan mata kita tidak sanggup melihat langsung cahaya yang sangat terang. Kita bisa mencoba mata kita berhadapan langsung dengan cahaya yang sangat terang, niscaya mata kita tidak akan sanggup memandanginya. Mata kita langsung terpejam! Mata kita masih bisa melek di dalam kegelapan. Tetapi mata kita tidak sanggup melek dalam cahaya yang menyilaukan.

Allah Mahacahaya adalah eksistensi yang ada, wujud. Tetapi mata kita tak sanggup melihatNya. Cahaya Allah yang bisa dirasakan dan bisa diraih umat manusia adalah berupa ilmu pengetahuan, petunjuk (hidayah), iman, Islam, ihsan.

Puasa adalah media manusia mendekatkan diri kepada Allah Mahacahaya. Dalam teori isyraq (pencahayaan) sufi Syuhrawardi Sang Martir bahwa hakikatnya kegelapan tidak ada. Yang ada adalah jauh dari sumber cahaya. Semakin jauh dari sumber cahaya, maka intensitas cahaya semakin berkurang. Sehingga kata kegelapan itu menggambarkan situasi jauh dari sumber cahaya. Karena itu puasa adalah upaya mendekatkan diri pada sumber cahaya, Allah yang Mahacahaya. Agar mendapatkan intensitas cahaya yang maksimal, dan kita menjadi manusia yang tercerahkan!

*KH Mukti Ali Qusyairi adalah Pengasuh Majelis Pengajian Hadharatul ‘Ulum dan Penasehat LBM PWNU DKI JAKARTA.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry