“Indonesia sesungguhnya bisa dimerdekakan bulan Juli 1945. Namun, Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh lain termasuk AA Maramis (nonmuslim) menerima saran ulama, kiai pesantren agar diproklamasikan 17 Agustus 1945, bertepatan 9 Ramadan 1364 H.”

 Oleh: Syukron Dosi*

RAMADAN benar-benar laksana kawah candradimuka. Ia menempa, mendidik, dan mengedukasi jiwa serta pribadi setiap muslim dari tahun ke tahun. Menjadikan pribadi yang memerdekaan dan mensucikan diri.

Ramadan juga memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian muslim yang hakiki. Ramadan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.

Hari Jumat, tepatnya 9 Ramadan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945, dwi tunggal  Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Begitu juga pada tanggal 9 Ramadan 1438 H yang jatuh pada hari Minggu 04 Juni 2017 ini, adalah tepat 74 tahun usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bung Karno telah mengingatkan kita dengan ungkapannya ‘Jas Merah’ (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Ungkapan yang hampir sama disampaikan Kiai Mutawakkil Alallah dengan istilah ‘Jas Hijau’ (Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama).

Mengapa? Karena Ramadan, memiliki ‘akar sejarah’ yang kuat dengan kemerdekaan dan ke-Indonesiaan kita. Maka, refleksi Ramadan sebagai bulan kemerdekaan adalah penting, guna menyegarkan ingatan bangsa Indonesia tentang sejarah kemerdekaan negeri ini.

Indonesia sesungguhnya bisa dimerdekakan pada bulan Juli sebelum bulan Ramadan. Namun, Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam persiapan kemerdekaan Indonesia saat itu, atas saran para ulama dan kiai pesantren, menyepakati Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 yang, bertepatan dengan Ramadan tanggal 9 tahun 1364 Hijriah.

Semangat bulan Ramadan itu terlihat pada pernyataan bahwa Indonesia diproklamasikan sebagai berkat rahmat Allah swt. Hal ini disepakati oleh para tokoh bangsa. Bukan hanya kalangan Islam, tetapi juga tokoh-tokoh nasional seperti AA Maramis dari kalangan nonmuslim ketika itu.

Maka sudah sepantasnya kita mengisi kemerdekaan dengan semangat membawa keberkahan dan rahmat di bulan Ramadan.

Jadi? Memperingati kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya dilakukan dua kali. Yaitu  17 Agustus dan 9 Ramadan. Artinya, 17 Agustus 1945 adalah HUT Kemerdekaan RI, sedangkan 9 Ramadan 1364 H adalah HARLAH NKRI. Dengan demikian, kita tidak menghilangkan jasa para ulama, bahwa, Ramadan adalah bulan pilihan kemerdekaan. Merdeka! (*)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan