
Oleh Suparto Wijoyo*
TIMUR TENGAH masih membara dengan peperangan yang di helat Israel-USA terhadap Iran. Sebuah Republik Islam yang sangat revolusioner tampilnya dalam hari-hari ini. Garda Revolusi bergerak dalam dentum yang serius dan peperangan ini mengingatkan momentum perjuangan kemerdekaan Indonesia. Simaklah saja. Tepat hari Jumat 9 Ramadan 1364 Hijriyah, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan. Lama sudah. Sudah 83 tahun yang lalu dalam hitungan Hijriyah usia Kemerdekaan Republik Indonesia. Inilah peristiwa politik sekaligus agenda hukum yang sangat penting. Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI itu dideklarasikan, dikumandangkan, diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, Sang Dwi Tunggal. Proklamasi itu atas nama Bangsa Indonesia. Saya pun menerawangkan pemaknaan betapa heroik dan ramainya suasana ibadah puasa di Ramadan 1364 H kala itu. Pasti riuh. Hiruk pikuk perjuangan dan genta laskar-laskar amatlah ramai. Niscaya semuanya sangat siaga dalam mengamankan langkah terpenting dalam sejarah Bangsa Indonesia, yaitu membentuk NKRI. Negara menjadi ada dan warga yang semula berstatus manusia berkeumatan menjadi warga bangsa telah berubah sebagai warga negara dalam kelambu NKRI.
Proklamasi ini peristiwa hukum yang sangat revolusioner. Atau kejadian revolusioner yang mempunyai dampak hukum paling fundamental. Status Bangsa Indoensia langsung bernegara yang bersatu dan berdaulat serta menjadi bagian dari subyek hukum internasional yang fenomenal. Kejadiannya pasti memiliki gema sosial dan politik para relasi hukum berhubungan dengan bangsa-bangsa beradab. Tidak hanya dalam persidangan-persidangan di BPUPKI maupun PPKI, tetapi di jalanan seluruh deret ruas ruang negara, saya yakini sangat sigap. Semua warga masyarakat hukum di Indonesia dalam kondisi siap sedia mempertahankan kemerdekaan RI. Pekiknya sangat mistis: merdeka atau mati. Semuanya itu, konstruksi nuansanya pas umat Islam menjalankan puasa Ramadan. Dengan bukti ini menandakan bahwa Ramadan bagi bangsa Indonesia sangatlah spesial, sangat instimewa dan sangat revolusioner. Pada bulan inilah Proklamasi Kemerdekaan yang dilanjutkan dengan penetapan UUD 1945 di 10 Ramadan 1364 H, alias 18 Agustus 1945, sehari setelah Revolusi Hukum dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Inilah Revolusi Ramadan dalam babakan sejarah kebangsaan dan kenegaraan Indonesia yang menumbangkan tatanan hukum kolonial, negara kolonial yang bertransformasi alam kemerdekaan Republik Indonesia.
Hal ini sengaja saya ungkapkan sehubungan dengan pertanyaan para pelajar, anak-anak santri serta sahabat-sahabat yang lagi mengkritisi mengenai produktivitas tenaga kerja Indonesia saat Ramadan. Terdapat realitas di sebagian orang bahwa sewaktu mengerjakan puasa Ramadan, sering waktunya digunkaan untuk leyeh-leyeh, tidur-tiduran di Masjid dan mager kata anak zaman sekarang. Malas gerak yang produktif, sibuk lihat aplikasi di HP masing-masing, karena sedang puasa dan asyik menunggu berbuka. Ini semua bukan fakta historis yang terpateri pada umat yang berpuasa Ramadan. Ramadan ini bulan yang secara tauhid saya imani penuh nikmat, pengampunan dan pembebasan dari hal-hal yang tidak baik (bahasa agamnya dari api neraka). Simaklah dalam-dalam bahwa gelora sejarah telah membuktikan dimana peristiwa-peristiwa yang sangat historis itu justru terjadi di Ramadan. Bagai Bangsa Indonesia, Prokalamsi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah momentum yang paling hakiki dalam sejarah keberadaan Bangsa Indonesia, karena menghadirkan negara, bukan sekadar perkumpulan biasa, bukan sekadar jamaah pengajian, atau kejadian festival pasar malam. Ini adalah momentum hukum tertinggi pembentukan pelaku hukum yang memiliki kedududkan supremasi pada tataran pergaulan internasional.
Dengan demikian Ramadan adalah bulan produktif. Bulan yang menjanjikan banyak kemenangan. Hilal dalam pertempuran yang bergejolak yang menggempur Iran oleh Israel-USA, tampak tanda-tanda kemenangan bagi Iran. Maka tidak boleh umat ini diserukan untuk bermalas-malasan karena sedang berpuasa. Tetapi harus ditempa dengan ajaran serta imaji sejarah yang kuat bahwa di bulan Ramadan terdapat saat yang tepat untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indoensia. Saat inilah waktu yang tepat melakukan inovasi serta kreasi untuk menjemput Indoensia Emas 2045. Pemgembangan SDM unggul harus ditempa dengan sesi-sesi penggemblengan di bulan Ramadan. Kita musti belajar pada peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam misalnya. Alquran sendiri diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad Saw pada bulan Ramadan. Kegemilangan umat Islam apada mulanya memasuki Madinah dalam kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw, juga di 17 Ramadan tahun 7 Hijriah yang memenangkan Perang Badar. Pasukan Tariq bin Ziyad yang mampu menembus dan menggemilangkan Andalusia, terjadi juga pada tahun 92 H, bertepatan dengan Ramadan. Derap langkah Tariq waktu mengarungi lautan yang memisahkan Afrika dan Eropa, pun terjadi di bulan Ramadan.
Untuk itulah bulan ini adalah bulan yang harus menjadi ruang pembuktian umat yang produktif guna membawa kemenangan Indonesia di kancah global. SDM yang unggul dan temuan-temuan sains dan teknologi yang membawa keharuman NKRI, harus terus dipompakan dan disematkan dalam forum-forum Ramadan. Kita musti selalu ingat pesan-pesan dan teladan dari Rasulullah Saw yang rajin beraktivitas dan mengharapkan umatnya yang produktif, bukan umat yang leha-leha, leyeh-leyeh, malas menulis, malas bekerja, malas berkontribusi bagi kebaikan institusi dimanapun pembaca bekerja. Kita harus dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi lembaga di mana kita mengabdi. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya, andaikan ada di antara kalian yang berusaha membawa seutas tali dan pergi ke sebuah bukit untuk mencari kayu bakar. Kemudian, kayu bakar itu dipikul di punggungnya untuk dijual. Sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya. Tentunya, tindakan itu jauh lebih terhormat, ketimbang ia meminta-minta kepada orang lain”. (HR Bukhari). Mari merevolusi diri di bulan Ramadan ini untuk memberikan keagungan bagi NKRI. Hanya dengan cara hidup yang produktif itulah kita telah memaknai Ramadan sungguh-sungguh sebagai bulan kemenangan. Barokallah.




































