JAKARTA | duta co – Para elite pendukung petahana Joko Widodo diibaratkan seperti peribahasa “gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Mereka seakan tidak tahu kebohongan atau ketidakadilan di depan matanya tapi justru mengecam orang lain yang jauh.
Bahkan, elite pendukung Jokowi menuduh oposisi berjuang dengan kebohongan. Oposisi juga dituding intoleran karena berjuang bersama umat Islam.
“Ada yang berpropaganda oposisi berjuang dengan kebohongan sambil memberi stigma perjuangan melawan ketidakadilan adalah delegitimasi pemerintah, yang berjuang bersama wadah Islam adalah radikal dan intoleran. Dari Moeldoko, Tjahjo Kumolo sampai Abu Janda hingga Grace Natalia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Andi Arief, yang disampaikan lewat akun Twitter miliknya @AndiArief Sabtu (12/1/2019) siang ini.

Menurut Andi Arief, suka melakukan propaganda, tapi pendukung Jokowi tidak peduli dan tidak mau ambil pusing soal kebohongan-kebohongan politisi PDI Perjuangan itu.

“Mereka tidak peduli rakyat dibohongi janji 4 tahun lebih, tak mau ambil pusing soal mata Novel, soal korupsi infrastruktur yang diungkap Pak JK dll? Soal deviden Inalum dan deret catatan lain. Mereka menutupi dengan melempar kebohongan itu milik oposisi,” tutupnya.

Seperti diberitakan duta.co, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik pembangunan kereta ringan atau light rail transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek). JK menilai pembangunan ini tidak efisien.

Moda transportasi yang merupakan tanggung jawab pemerintah pusat serta dibangun BUMN PT Adhi Karya itu dibangun untuk menghubungkan Jakarta dan kota-kota satelit melalui rel melayang (elevated).

“Jangan asal bangun saja,” ujar JK di hadapan para konsultan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.
MenurutJK, inefisiensi pertama bisa dilihat dari keputusan pembangunan rel secara melayang. Padahal, harga tanah yang tidak terlalu mahal di perbatasan Jakarta dan wilayah-wilayah di luar Jakarta bisa membuat pembangunan rel reguler dilakukan dengan lebih murah. (Rmol/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.