Massa aksi Gema 212 berunjuk rasa di depan Kedubes Rusia Jl HR Rasuna Said, Setiabudi, Jaksel. Massa juga menunaikan salat duhur dengan qunut nazilah pada rakaat terakhir untuk mendoakan umat Islam di Aleppo, Suriah.|MER

Massa Kutuk Keterlibatan Rusia Bombardir Aleppo

Massa aksi Gema 212 berunjuk rasa di depan Kedubes Rusia Jl HR Rasuna Said, Setiabudi, Jaksel. Massa juga menunaikan salat duhur dengan qunut nazilah pada rakaat terakhir untuk mendoakan umat Islam di Aleppo, Suriah.|MER

JAKARTA–Ratusan umat muslim dari berbagai elemen beraksi di depan kantor kedutaan besar Rusia Jl HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin siang (19/12). Massa yang tergabung dalam aksi Gema 212 ini unjuk rasa  sebagai bentuk solidaritas terhadap korban pengeboman Aleppo oleh militer Suriah yang dibantu Rusia.

Massa mengutuk keterlibatan negeri Beruang Merah itu dalam operasi militer di Suriah, khususnya di Aleppo, yang mengakibatkan jatuhnya ribuan jiwa umat Islam. Aksi ini diikuti ormas, organisasi kemanusiaan, dan organisasi mahasiswa.

“Kami mengecam serangan Rusia di Suriah,” kata koordinator aksi Abu Harits kepada wartawan. “Rusia harus menghentikan kebiadaban mereka,” lanjut dia.

Beraksi sekitar mulai pukul 10.30 WIB. Dalam aksinya massa membawa poster-poster yang bergambar wajah anak-anak korban pengeboman dan spanduk. Salah satu spanduk besar yang dibentangkan bertuliskan “Stop genocide #WeStandWithAleppo Aksi Solidaritas Aleppo”. Ratusan polisi termasuk Kapolsek Setiabudi AKBP Murwoto siaga di depan gedung Kedubes Rusia.

Massa juga meneriakkan yel-yel yang mendesak agar duta besar Rusia diusir dari Indonesia. Aksi digelar sampai tiba waktu waktu salat duhur. Di bawah rintik gerimis, ratusan peserta aksi melaksanakan salat duhur berjemaah. Azan segera dikumandangkan dari atas mobil komando.

Para peserta segera saling membantu untuk berwudu. Air mineral kemasan botol mereka gunakan bergantian. Gerimis mulai turun saat salat dimulai. Tempat sujud yang mulai basah tak membuat peserta menunda salat mereka.

Pada rakaat terakhir, imam yang memimpin salat membacakan doa qunut nazilah untuk mendoakan saudara-saudara sesama muslim di Aleppo. Dalam hadis, qunut nazilah dibacakan Rasulullah untuk mendoakan umat muslim yang jadi korban kezaliman kaum kafir.

Evakuasi Dihentikan

Sementara itu, sudah sekitar 8.000 warga yang dievakuasi dari Aleppo. Sekitar 350 orang tambahannya juga berhasil meninggalkan wilayah Aleppo bagian timur, Suriah, meskipun secara resmi evakuasi masih dihentikan. Kesepakatan baru tercapai untuk melanjutkan evakuasi, namun aksi pembakaran bus untuk mengevakuasi dua desa di wilayah Idlib kembali menghambat evakuasi.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/12), puluhan bus kembali memasuki wilayah Aleppo pada Minggu (18/12) pagi waktu setempat untuk melanjutkan proses evakuasi warga sipil dan petempur oposisi. Namun rencana itu dibatalkan pada menit-menit terakhir setelah ada penyerangan bus evakuasi.

Sekelompok pria bersenjata menyerang bus-bus yang digunakan untuk mengevakuasi dua desa bernama Fuaa dan Kafraya yang dikuasai pemberontak. Kedua desa itu berada di dalam wilayah Idlib, sebelah barat daya Aleppo.

Dituturkan organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, bahwa satu sopir bus evakuasi tewas dalam serangan itu. Saling tuding pun terjadi antara Pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak soal pelaku di balik serangan bus itu.

Observatory menegaskan, jaminan keamanan dibutuhkan sebelum evakuasi kembali dilanjutkan. Yasser al-Youssef dari kelompok pemberontak Nureddin al-Zinki menyatakan: “Proses evakuasi masih dihentikan sementara.”

Menurut Observatory, bus-bus yang mengevakuasi warga dari Aleppo bagian timur tidak akan bergerak, hingga desa Fuaa dan Kafraya dievakuasi.

Perwakilan kelompok pemberontak Suriah yang terbagi atas banyak faksi menyatakan, ratusan warga dua desa lainnya di Provinsi Damaskus, Zabadani, dan Madaya, juga akan dievakuasi sebagai bagian dari kesepakatan baru.

Secara terpisah, laporan dari tim dokter dan relawan kemanusiaan menyebut 350 orang berhasil dibawa keluar dari Aleppo bagian timur, meskipun proses evakuasi belum secara resmi dilanjutkan kembali. Mereka dibawa ke wilayah Khan al-Assal, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke wilayah lain.

“Lima bus yang membawa warga yang dievakuasi, tiba dari Aleppo bagian timur. Mereka dalam kondisi buruk. Mereka belum makan, mereka tidak minum, anak-anak terkena demam, mereka bahkan tidak bisa pergi ke toilet,” terang Ahmad al-Dbis yang memimpin tim dokter dan relawan di Khan al-Assal.

Dijelaskan Obervatory, 350 orang berhasil dievakuasi keluar Aleppo setelah Rusia dan Turki mendorong rezim pemerintah Suriah untuk mengizinkan konvoi bus evakuasi melintasi titik akhir pada jalur evakuasi. Namun Observatory menegaskan, proses evakuasi secara resmi terhenti hingga waktu yang tak ditentukan.

AS Salahkan Suriah-Rusia

Sementara itu, setelah Aleppo kembali dikuasi pemerintah Suriah dengan bantuan Rusia, sejumlah media Barat mengabarkan kekejaman tentara Suriah terhadap warga sipil di Aleppo. Selasa (13/12) lalu Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan telah menerima laporan tentang tentara Suriah yang membunuh sedikit 83 warga sipil, termasuk 11 wanita dan 13 anak-anak di Aleppo dalam waktu 24 jam.

Mengetahui kabar itu, Prancis segera mendesak diadakan rapat darurat di Dewan Keamanan PBB terkait kondisi di Aleppo. Pada i saat yang sama Turki dan Arab Saudi menyerukan diadakan rapat luar biasa di Majelis Umum PBB untuk membahas kondisi di Aleppo. Sementara Qatar mendesak Liga Arab untuk mendiskusikan situasi di Aleppo.

Sejumlah warga bahkan melaporkan pesan terakhir mereka ke media sosial di tengah gempuran pasukan Suriah dan Rusia di Aleppo. Dalam waktu singkat dunia seolah terkesima dengan kekejaman yang terjadi. Aleppo menjadi menjadi perbincangan sekaligus sorotan dunia.

Rusia Membela Diri

Namun tidak banyak orang menyadari, ada yang luput dari sorotan dunia di Aleppo. Segala pemberitaan tentang kekejaman tentara Suriah dan Rusia di Aleppo itu tidak benar. Media Barat dinilai menyebarkan berita bohong secara terorganisasi.

Jumat (16/12) lalu, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menyampaikan kepada Dewan Keamanan, pasukan Negeri Beruang Merah membagikan bantuan kemanusiaan dan bantuan medis secara besar-besaran ke Aleppo. Tapi dunia seolah-olah tidak mendengar kabar ini.

“Kami terus mengirimkan bantuan kemanusiaan dan bantuan medis besar-besaran kepada warga Suriah yang menderita akibat konflik. Baru-baru ini bantuan kemanusiaan cukup besar dari Rusia tiba di Aleppo,” ujar Churkin, seperti dilansir Sputniknews, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut, dia mengatakan, di saat kaum militan mendapat bantuan makanan dari negara luar, warga sipil justru kelaparan. Pemerintah Suriah dan Rusia mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk warga Aleppo, sedangkan negara Barat atau organisasi internasional tidak membantu apa-apa.

Sergei Rudskoy, kepala staf umum Direktorat Operasional Utama Rusia mengatakan para teroris di Aleppo menerima kiriman makanan dari luar negeri di saat rakyat sipil kelaparan.

“Di wilayah yang sudah dibebaskan di Aleppo, tentara Suriah menemukan sejumlah gudang berisi makanan yang dikirim dari luar. Makanan itu dinikmati hanya oleh para teroris dan keluarga mereka, sementara penduduk Aleppo Timur kelaparan,” kata dia.

“Negara-negara Barat terus menyuarakan kekhawatiran mereka atas nasib warga Aleppo di saat mereka sedang berada di Jenewa dan New York. Di saat yang sama mereka tidak berbuat apa-apa untuk membantu warga Aleppo,” kritiknya.

Rudskoy menambahkan, saat ini ada sekitar 108 ribu warga sipil yang sebelumnya dilarang keluar dari Aleppo Timur oleh pemberontak, kini berada di tempat penampungan dan hanya pemerintah Suriah dan Rusia yang memberi mereka bantuan kemanusiaan.

“Kami sudah berulang kali mendengar kabar dari negara barat dan organisasi internasional untuk segera mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Aleppo. Tapi hingga saat ini tidak satu negara atau organisasi pun yang mengirimkan bantuan itu kepada warga.” ful, kib, mer, dit

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan