
SUKOHARJO | duta.co – Nama Purbayan makin dikenal masyarakat internasional. Begitu juga Tikus Pithi Hananta Baris (TPHB) sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) besutan Tuntas Subagyo. Lelaki yang memiliki titel panjang di belakangnya, SAP, SM, MM, MH dan PhD ini, memang orang asli Purbayan dan bertekad membawa nama desa itu ke kancah internasional.

“Purbayan semakin dikenal.masyarakat internasional. Dari Desa Purbayan ini, gagasan-gagasan pemberdayaan masyarakat tak pernah padam. Saya sendiri asli sini, dan terus berusaha agar desa ini memberi manfaat untuk masyarakat lokal, nasional mau pun internasional,” tegas Tuntas Subagyo di depan ribuan anggota TPHB, Selasa (2/12/25).
Belum banyak yang paham. Bahwa, Tuntas juga merupakan pendiri Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) dan Yayasan Surya Nuswantara Wilwatikta. Desa Purbayan sering menjadi sentral aktivitasnya. “Dari Purbayan untuk Indonesia, bahkan dunia. Kami juga melakukan pemberdayaan di sektor ekonomi dari produk pertanian, penguatan koperask sampai kuliner. Taman Ratu Maulidya sering menjadi sentral kegiatan,” kata Sigit Prowoso, Sekjend PKR kepada duta.co.
Menurut Sigit, hari-hari ini tengah dilakukan konsolidasi nasional terkait partai, PKR. Setelah merapikan seluruh pengurus di tingkat kabupaten dan provinsi, PKR segelar menggelar Musyawarah Nasional (Munas) di Jakarta.
“Ini sekaligus penataan program kerja. Intinya PKR harus benar-benar menjadi Parpol yang bermanfaat untuk bangsa Indonesia dan masyarakat internasional,” terangnya.
Masih kata Sigit, ke depan PKR juga harus menjadi partai yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Sehingga orang kecil punya nilai tawar terkait kebijakan pemerintah, bukan hanya sebagai obyek penderita.
“Kami yakin, pemerintah sekarang memiliki niat kuat untuk itu. Pemberantasan korupsi yang tidak pandang bulu, patut diapresiasi. Begitu juga tekadnya untuk memeratakan kue pembangunan. Hari ini kita sambut baik niatan pemerintah yang akan membangun 300 ribu jembatan di pelosok negeri. Ini problem serius saudara-saudara kita di daerah terpencil,” pungkas. (mky)







































