Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa (dok/duta.co)

JAKARTA | duta.co – Jagat medsos lagi rame soal negara (kita) bangkrut. Dikabarkan medsos duit negara tinggal Rp120 triliun. Tapi, namanya medsos, selama ini asal jeplak. Karuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buru-buru membantah kabar media sosial mengenai kondisi kas negara yang disebut hanya tersisa Rp120 triliun.

Ia menegaskan informasi tersebut tidak benar dan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga. Menurut Purbaya, keuangan negara masih mampu menopang berbagai program pemerintah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Isu dana negara yang tinggal Rp 120 triliun, habis itu habis, tidak benar,” ujar Purbaya, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Ia meminta masyarakat tidak terpengaruh isu yang menimbulkan kekhawatiran soal kondisi fiskal negara, karena pemerintah disebut masih memiliki ruang keuangan yang memadai. “Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup, dan uang kita masih banyak,” tegasnya.

Purbaya menjelaskan angka Rp120 triliun yang ramai dibicarakan sebenarnya merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia, bukan keseluruhan sisa kas negara.

Isu dana negara yang tinggal Rp 120 triliun, habis itu habis, tidak benar,” ujar Purbaya, dikutip Sabtu (25/4/2026). Ia meminta masyarakat tidak terpengaruh isu yang menimbulkan kekhawatiran soal kondisi fiskal negara, karena pemerintah disebut masih memiliki ruang keuangan yang memadai.

“Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup, dan uang kita masih banyak,” tegasnya.

Purbaya menjelaskan angka Rp120 triliun yang ramai dibicarakan sebenarnya merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang ditempatkan di Bank Indonesia, bukan keseluruhan sisa kas negara

Ia menyebut total SAL pemerintah saat ini mencapai Rp420 triliun yang belum digunakan. Dari jumlah itu, sekitar Rp120 triliun disimpan di Bank Indonesia, sementara Rp300 triliun lainnya ditempatkan di sektor perbankan dalam bentuk deposito yang sewaktu-waktu bisa dicairkan jika diperlukan.

Menurut Purbaya, penempatan dana di perbankan bukan sekadar penyimpanan, melainkan bagian dari strategi pemerintah menjaga likuiditas sekaligus mendukung penyaluran kredit. “Yang Rp 300 triliun kita masukkan ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas dan kredit bisa berjalan. Itu yang saya sebut sebagai penguasaan kebijakan moneter,” kata Purbaya.

Ia menambahkan, langkah tersebut juga memberi manfaat tambahan karena bunga simpanan dapat menjadi sumber pendukung pembiayaan program pemerintah. Purbaya juga menyebut pengelolaan APBN Indonesia mendapat respons positif dari investor internasional saat dirinya melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pekan lalu. Nah lho! (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry