GUDANG KEDELAI : Dirut Perum Bulog Budi Waseso (kiri) bersama Kadivre Bulog Jatim Muhammad Hasyim (tengah) melihat produksi bahan pokok Bulog di sela peresmian gudang kedelai di Gudang Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo, Rabu (6/3). DUTA/endang

SIDOARJO | duta.co –  Divisi Regional (Divre) Bulog Jawa Timur kini memiliki gudang khusus kedelai.

Gudang itu berada di Komplek Pergudangan Banjar Kemantren Subdivre Surabaya Utara, di Buduran Sidoarjo. Gudang dengan investasi sebesar Rp5,8 miliar ini bisa menampung 3500 ton kedelai.

Dengan berdirinya gudang ini,  Bulog Jatim siap menampung produksi kedelai petani dari seluruh Jawa Timur terutama dari daerah sentra  penghasil kedelai.

“Kalau dulu kita tidak bisa menampung banyak karena kita tidak memiliki tempat penyimpanan. Takut membusuk karena tempat penyimpanan kedelai berbeda dengan padi atau jagung,” ungkap Kepala Divre Bulog Jatim , Muhammad Hasyim di sela peresmian gudang kedelai di Banjar Kemantren Buduran Sidoarjo, Rabu (6/3).

Peresmian gudang itu dilakukan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso. Dikatakan Budi gudang digunakan untuk menyimpan kedelai hasil pertanian produsen kedelai di Jawa Timur seperti dari Banyuwangi, Sampang, dan Lamongan.

Gudang yang merupakan realisasi dari program Penyertaan Modal Negara (PMN) mulai dibangun pada akhir tahun 2017 lalu.

“Gudang kedelai ini merupakan bentuk bukti kesiapan Perum Bulog dalam menerima penugasan pemerintah terutama untuk komoditas kedelai. Selain tempat penyimpanan, gudang ini juga telah dilengkapi dengan alat-alat pendukung seperti alat pengatur kelembapan udara dan alat kemas,” jelas Budi Waseso.

Gudang Kedelai ini merupakan realisasi dari amanah UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Perpres Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perum Bulog untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Untuk menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen serta produsen.

Perum Bulog harus dilengkapi dengan ketersediaan maupun pengembangan infrastruktur pascapanen terutama untuk komoditas pajale (padi, jagung dan kedelai).

 “Indonesia ini merupakan konsumen kedelai terbesar di dunia, masyarakatnya banyak yang mengonsumsi tahu, tempe, kecap. Karena itu kami siap jika sewaktu-waktu pemerintah memberikan tugas,” tegas Budi.

Keberadaan gudang kedelai ini ditegaskan Budi memberikan semangat pada petani agar kembali menanam kedelai. Sehingga konsumsi kedelai bisa dipenuhi sendiri tanpa harus impor.

“Petani selama ini khawatir produksinya tidak terserap, tidak terbeli. Sekarang tidak perlu lagi khawatir karena Bulog sudah punya gudang kedelai yang memadai. Dan semua hasil panen petani sial ditampung,” tandas Budi.

Gudang dengan panjang 54 meter dan lebar 30 meter ini merupakan salah satu infrastruktur pascapanen yang dibangun di wilayah Jawa Timur. Gudang serupa juga ada di Jawa Tengah dan sebentar lagi akan diresmikan di Jawa Barat.

Selain ini, Perum Bulog juga masih menyiapkan beberapa faslitas lain seperti Modern Rice Milling Plant (MRMP) dan Rice to Rice ( RTR)di lokasi-lokasi sentra komoditas beras, juga Corn Drying Center (CDC) di lokasi-lokasi sentra produksi dan konsumsi komoditas jagung. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.