BAGI KISAH SUKSES : Eugenie Patricia Agus (kanan) berbincang dengan salah seorang mahasiswa jurusan Perhotelan UK Petra Surabaya di Rekarasa Launge, Kampus UK Petra, Kamis (4/4). DUTA/endang

Kakak beradik pendiri Puyo Dessert  Adrian Christopher Agus dan Eugenie Patricia Agus mungkin bisa menjadi contoh anak muda yang sukses mengembangkan usaha.

Berkat puding buatan sang papa kini keduanya menjadi konglomerat muda. Bahkan mereka masuk dalam 30 anak muda di seluruh dunia di bawah usia 30 tahun yang sukses dalam usaha. Bagaimana kiat suksesnya?

Eugenie Patricia Agus (25) bersama kakaknya mengembangkan Puyo Dessert ini sejak enam tahun lalu. Saat itu usianya 19 tahun dan sang kakak Adrian 21 tahun.

Keduanya tidak bisa memasak. Yang mereka bisa keinginan besar untuk memasarkan produk buatan sang papa yang sangat enak menurut mereka.

Keduanya mencoba menjual puding yang setiap hari mereka makan sebagai makanan selingan buatan sang papa itu melalui instagram (IG).

Waktu itu IG baru pertama kali booming di Indonesia. Dan siapa sangka, Juli tahun ini, usaha keduanya eksis hingga memiliki 55 cabang di pusat perbelanjaan di Jabodetabek dan sekitarnya.

Bahkan hari ini (Jumat 5/4), Puyo Dessert akan buka di Surabaya tepatnya di Pakuwon Mall dan dua mal lainnya dalam waktu dekat ini.

“Puding itu tidak asing buat orang Indonesia. Sehingga untuk mengembangkannya jadi tidak sulit. Dan belum ada nama tertentu untuk produk puding kalau es krim sudah banyak,” ujarnya saat berbagi ilmu dengan mahasiswa Perhotelan UK Petra di Rekarasa Launge, Kamis (4/4).

Dengan mengambil merek nama sang adik Puyo, produk puding ini kata Nini panggilan akrab Eugenie, dibuat setiap hari dengan bahan yang rendah kalori dan susu nabati. Sehingga semua orang bisa menikmatinya tanpa khawatir gemuk.

Dengan modal Rp 5 juta, kakak beradik ini memulai usaha. “Beruntung ditolong instagram yang baru booming.

Semua orang ngepos. Selain kami memang sering endorse artis-artis untuk mencoba produk  kita dan bagi-bagi ke orang lain,” tuturnya.

Selain itu, keduanya rajin mengikuti ajang bazaar di pusat-pusat perbelanjaan dan lokasi keramaian lainnya.

“Juga sering bagi-bagi give away bagi followers di IG. Promo yang kita lakukan harus membuat bahagia semua konsumen, kalau tidak, kita tidak akan lakukan,” tukasnya.

Dengan semakin berkembangnya Puyo Dessert ini, Nini mengakui bahwa hasil kerja keras dia dan kakaknya sampai saat ini semua murni dikembalikan untuk pengembangan usaha.

“Sampai sekarang kami berdua masih digaji, tidak mengambil keuntungan sedikitpun. Semua kami buat untuk pengembangan usaha,” tuturnya.

Nini dengan produk andalannya Puyo Dessert. DUTA/endang

Karenanya, sampai kini, Nini mengakui dia dan sang kakak masih belum berniat untuk mewaralabakan bisnisnya ini. Karena orientasi keduanya adalah kualitas bukan hanya jumlah jaringan yang banyak.

“Kita masih bisa handle sendiri. Kalau franchise nanti fokusnya ke komersial, keuntungan semata,” tukasnya.

Karenanya, ide-ide brilian dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan produk. Terus belajar dan belajar dilakukan Nini agar bisa memunculkan ide-ide segar dalam mengembangkan usaha.

“Inovasi dilakukan. Belajar bisa dari siapa saja, bahkan dari orang yang lebih muda. Jangan malu untuk terus belajar,” tandasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.