HERBAL : Seminar membahas tumbuhan obat, herbal dan standarisasi di Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya.  (duta.co/dok)

SURABAYA | duta.co – Negara Indonesia  punya potensi  sebagai produsen herbal dunia. Indonesia memiliki jenis tumbuhan obat atau herbal yang cukup banyak dan beragam sebesar 300 ribu jenis tanaman obat. Hanya saja hingga hari ini pemanfaatannya untuk dijadikan obat yang aman, serta murah masih belum secara maksimal dilakukan.

Drs. Tepy Usia., Apt. M. Phil., Ph.D., Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) menegaskan BPOM terus mendorong herbal Indonesia dikembangkan lebih lanjut menjadi pilihan obat.

“Prihatin tapi perlu kerja keras menjadika tanaman obat Indonesia menjadi lebih bermanfaat. Faktanya memang jumlah tumbuhan obat yang beragam jenisnya itu belum secara maksimal dimanfaatkan. Berdasarkan data, Indonesia memiliki sekurangnya 30.000 jenis tumbuhan obat. Tetapi itu masih belum secara maksimal bisa digunakan semuanya untuk pengobatan, karena butuh proses penelitian yang tidak boleh sembarangan,” terang Tepy Usia usai jadi pembicara seminar: Standarisasi Herbal Makanan dan Minuman Sehat Indonesia, yang digelar Badan POM, Indonesian Children Care Community, PT HRL Internasional bersama Universitas Katolik Darma Cendika, Surabaya.

Hingga hari ini, lanjut Tepy tercatat sekitar 300 jenis tumbuhan obat yang sudah dimanfaatkan untuk industri jamu. Sementara baru 62 jenis tanaman obat yang sudah masuk katagori Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 9.000 yang sudah dicatatkan di BPOM.

“Karena memang dibutuhkan penelitian lebih mendalam. Karena tidak semua tumbuhan obat atau herbal itu bisa dipakai. Ada tumbuhan obat yang masih mengandung bahan berbahaya atau beracun. Kalau langsung dipaka justru berbahaya,” tambah Tepy.

Menurut Tepy, masyarakat Indonesia masih membutuhkan obat yang tidak mahal, aman, dan terjamin. Untuk itu dibutuhkan bahan baku obat yang harganya juga murah, agar setelah dilakukan proses pembuatan dan penelitian, harga obat masih tetap murah.

“Kalau bahan obat sendiri berasal dari luar negeri rentan naik. Misalnya harga dollar meroket, maka tidak dapat dicegah lagi, harga-harga termasuk harga bahan obat-obatan ikut naik kan. Yang terjadi kemudian harga obat pasti juga meroket naik. Mahal,” ujar Tepy.

Guna meningkatkan jamu dengan bahan-bahan tumbuhan obat dapat dipakai secara ilmiah oleh dokter, tambah Tepy maka dilakukan penelitian lebih lanjut, scirntific base sehingga menjadi obat herbal terstandardisasi (OHT). Dan yang menggembirakan, dari scientific base yang sudah dilakukan, kemudian dilaksanakan penelitian dan pengujian kembali melalui sebuah proses yang biasa disebut vito farmaka.

“Kami mencatat setidaknya terdapat beberapa tumbuhan obat yang kemudian dilakukan uji klinik serta bahannya sudah terstandardisasi, ada 21 vito farmaka yang sudah didaftarkan pada Badan POM dan dapat digunakan oleh dokter karena sudha setara dengan obat,” tambah Tepy.

Oleh karena itu Tepy mengingatkan bahwa pihaknya akan terus melakukan support agar penelitian terkait tumbuhan obat atau herbal terus dilakukan dalam rangka menghasilkan obat-obatan yang terjamin, murah dan bermutu.

PT HRL Internasional Fokus Penelitian Herbal dan Hewan Langka

PT HRL Internasional fokus melakukan riset dan berbagai penelitian budi daya tanaman herbal organik, menuju “Herbal terstandar Indonesia”.

Presdir PT HRL Internasional Heru Prasanta Wijaya mengatakan tujuan mengembangkan pola pengobatan berbasis kekayaan alam, satwa, dan mineral ‘lndonesia untuk mempertahankan usia dan mencegah manusia mati muda.

“Dalam upaya melakukan budi daya sediaan herbal, PT HRL telah mendapat kepercayaan memanfaatkan tanah-tanah Perhutani Seluruh Indonesia, dalam program Perhutanan Sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga sekitar hutan,” katanya.

Heru menambahkan, Kerjasama tersebut telah ditindaklanjuti dengan Perhutani Jawa Timur, Jawa Tengah, dan lima propinsi di Kalimantan. Pada setiap wilayah terdapat beragam topografi tanah, ketinggian (elevasi), kesuburan, disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan dikembangkan.

“Sekarang ini kami memiliki berapa komoditas tersebut. Antara lain kencur, jahe, secang, temulawak, tongkat ali, dan dragon blood di Kalimantan Tengah,” sebut dia.

Dijelaskan Heru, untuk mengembangkan riset dan menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif, PT HRL lnternasional bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Di Jogja terbentuk PREAN (Pusat Riset Energi Alam Nusantara) terdiri atas para pakar Universitas Gajah Mada dan Univ Sanata Darma. (imm)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.