LATIHAN : Peserta Basic Phaco workshop sedang mencoba melakukan operasi menggunakan mata artificial. Workshop digelar KMU diikuti 30 dokter mata dari berbagai kota di Indonesia di Shangrila Surabaya. (duta.co/imam)

SURABAYA | duta.co–Katarak, salah penyakit degenerative bisa mengena semua saja. Biasana gejala katarak dialami usia lanjut diatas 50 tahun, namun kini penderita katarak makin muda. Akibatnya penderita katarak di Indonesia terus mengalami peningkatan. Upaya pengurangan pasien kebutaan karena katarak pun sudah dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satunya mengupgrade pengetahuan dan kemampuan sesuai teknologi yang berkembang. Sebab itu, puluhan dokter dari berbagai kota di Indonesia berantusias mendalami operasi katarak modern fakoelmusifikasi (Phacoemulsification). Operasi dengan teknik phaco ini memiliki proses yang lebih cepat, baik tindakan dan pemulihan pasien.

“Saait ini, dokter spesialis mata di Indonesia butuh waktu,tenaga dan biaya ekstra, untuk mendalami operasi dengan teknik phaco ini. Karena harus ke luar negeri,seperti India, Singapore hingga Australia,” kata Direktur Utama Klinik Mata Utama dr.Uyik Unari,SpM(K) disela kegiatannya memberipelatihan.

Oleh karenanya 30 dokter mata dari berbagai kota di Indonesia memilih mengikuti pelatihan terkait operasi fakoelmusifikasi (Phacoemulsification) di Shangri-La Hotel Surabaya, pada Sabtu (27/6) hingga Minggu (28/6), kemarin.

“Setiap tahun, kebutaan akibat katarak di Indonesia terus bertambah 0,1 persen. Kurang lebih 250 ribu penduduk Indonesia harus mengalami kebutaan karena katarak. Bahkan di Jawa Timur, angka kebutaan karena katarak  mencapai 4,4 persen. Jadi harus ada peningkatan kualitas dan upgrade ilmu untuk bisa mengimbangi kemajuan teknologi kesehatan, khususnya mata agar berdampak besar untuk mengurangi angka ini,”sebut Uyik.

Menurutnya, saat ini sudah banyak rumah sakit yang bisa menyediakan alat phaco ini. Sayang,bila dokter mata yang mengaplikasikan teknik ini masih sedikit. Karena itu,puluhan dokter dengan perawat serta pendamping medisnya ini memanfaatkan pelatihan dari Klinik Mata Utama (KMU) yang didukung Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur ini.

Terlihat, beberapa dokter dari  luar kota seperti Bali, Batam, Semarang, jakarta hingga Medan yang antusias mengikuti Basic Phacoemulsification Workshop Batch 5 ini.

“Dokter dan perawatnya, didampingi langsung oleh tenaga ahli, dengan harapan para dokter mata ini bisa terus belajar hingga secara profesional bisa menjalankan operasi katarak dengan teknik phaco ini,” jelasnya.

Mengapa harus mendalami operasi katarak fakoelmusifikasi(Phacoemulsification)? Dokter Uyik menjelaskan, pasien akan merasa lebih nyaman dengan operasi ini.  Karena tindakannya yang lebih cepat.Yakni kurang lebih 15 menit tanpa dijahit.Sebab sayatan pada operasi ini lebih kecil,yakni kurang lebih 3mm.

Sehingga membantu proses pemulihan yang lebih cepat,”tutur Dokter Uyik .

Terlebih, operasi katarak modern ini sudah diterapkan di luar negeri kurang lebih semenjak 10 tahun yang lalu. Sedang di Indonesia, masih baru-baru ini mendalami. “Karena itu sangat dibutuhkan pelatihan operasi katarak dengan teknik phaco ini,” lanjutnya.

Ia berharap, dokter spesialis mata semakin banyak yang bisa melakukan operasi ini. Sebab, dibandingkan operasi katarak ECCE atau yang biasa dikenal dengan operasi katarak konvensional, teknik phaco bisa langsung dilakukan tindakan operasi. Tidak seperti ECCE yang harus menunggu dahulu hingga mata siap dilakukan operasi. Bahkan untuk pemulihan pasien lebih cepat.

Setelah melaluioperasikatarakfakoelmusifikasi(Phacoemulsification), pasien esoknya bisa langsung beraktifitas. Tanpa menunggu terlalu lama dan banyak pantangan.

“Harapannya jumlah dokter mata yang bisa melakukan operasi katarak fakoelmusifikasi (Phacoemulsification) ini bisa bertambah, mengingat pelatihan ini merupakan workshop yang memiliki Satuan Kredit Partisipatif (SKP),” tutupnya.

Dr. Fitri Direktur KMU Madura menambahkan KMU mempunya agenda rutin workshop untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas dokre spesialis mata terhadpa cara operasi katarak modern.

“Operasi katarak dulu sayatannya lebih panjang dan luka lebih lama. Sekarang sebaliknya lebih kecil dan cepat penyembuhannya. Untuk latihan, kali ini menggunakan mata artificial ciptaan dokter dari Jepang. Dimana matanya sangat menyerupai mata manusia, sebelumnya pakai mata babi dan kambing,” jelasnya.

Dengan peningkatan keahlian, jelas Fitri harapannya bisa memacu kualitas dokter mata di Indonesia setara dokter mata internasional.  Tantangan praktisi mata ditengah persaingan bebas saat ini harus bisa kompetisi yang lebih baik di Asean minimal.

“Basic Phaco workshop akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan  teknologi dan meningkatkan keahlian dokter mata,” jelasnya. (imm)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry