Lambang Kehidupan

Tanah menapakinya,

Angin merontanya.

Matahari menyinari,

Hujan menangisi.

Kilelono, mei 2016

 

Lukisan Kekasih

Kupandang tampak matamu dalam pohon kayu itu,

Bagai coretan lukisan indah.

Dalam bayang sepi itu,

Lalu kataku, andai dirimu datang menyapaku,

Di sana minum puas penuh nikmat sepi itu.

Kupandang nampak hatimu, lindap matamu,

Bercerita tentang cinta dan air mata.

Ahh, kekasihku, kau nampak mutiara dalam limbun lautan.

Dan cintaku dan cintamu hanyalah bayangan.

Rantam Sari, 2016

 

Manusia Kamar

Senja Menggelita.

Di dalam kamar hanya jam gantung murung

Kudengar memukul lemah.

Capung main-main di atas kepala,

Tak kentara melihatmu membuka gerbang taman.

Seperti menyala meradang melompat-lompat Ia menghinggapi dadanya,

Agar Ia dapat pegang.

Lalu menghampar serata rumput mereka sejenak istirah.

Lalu berlanjut.

Hanya capung bermain-main tiada hentinya,

sedesah bisik dari selatan dan utara.

ke atas, kadang ke bawah.

Kadang ke samping kanan, kadang ke samping kiri.

Seloaji, Desember 2016

 

Rumah Pendusta

I

Belantara batu merah

Itu adalah rumah masa depan mereka.

Di mana angin menggergaji tebing dan kerikil mengguntur jatuh.

Aku bakal lihat mentari terjepit.

Mengoyak recai bukit batu.

Kaktus bercabang tujuh.

Tidak akan peluhkah anggur,

Kakiku yang penuh luka bakal menjadi tanda.

Bukit batu berkata: “Tahankan.”

Angin berkata: “Teruskan.”

Mentari berkata: “Kucucup bibir bukit angin itu untuk mereka.

 

Makrifat Alloh

Kau menyatu bersama keyakinan.

Selalu kusebut dalam henak nafas yang keluar.

Kau adalah keabadian mengembalikan manusia dengan sempurna.

Kau maha kuasa penentu rizki dan usia.

Oooh, manusia tidak lebih hanya tanah,

Oooh, manusia ialah badan yang akan rusak.

Jiwa dan raga manusia seperti burung dalam sangkar.

Sangkar yang akan rusak karena usia.

Sedang jiwa akan lepas bagai burung mengepakkan sayapnya.

Tuhan, kokohkan kakiku untuk melangkah menuju surgamu.

Tuhan, tempatkan jiwa-jiwa suci ini disampingmu.

Tuhan sempurnakan awal dan akhir kami.

Tuhan hanya kepadamu kami bersimpuh.

Setono, juli 2016

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry