
(Catatan Reflektif atas Ngaji Qalbu Kitab Sirr al-Asrār bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Sabtu, 24 Januari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ibadah tidak pernah dipahami secara kering sebagai gugur kewajiban. Ia selalu ditempatkan dalam satu kesatuan: syariat yang sah, thariqah yang beradab, dan hakikat yang menumbuhkan tauhid hidup. Karena itu, ketika Kitab Sirr al-Asrār karya Syeikh ‘Abdul Qādir al-Jailānī dibacakan dalam forum Ngaji Qalbu selepas Subuh, yang hadir bukan sekadar pengajian teks, melainkan ajakan untuk menata ulang orientasi batin.
Syeikh al-Jailānī membuka pembahasan puasa dari wilayah yang paling dikenal: puasa syariat. Menahan makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Inilah puasa yang dibahas oleh fikih, diukur dengan sah dan batal. Ia penting, bahkan wajib. Tanpanya, bangunan ibadah runtuh sejak fondasi. Namun para masyayikh NU selalu mengingatkan: al-fiqhu bila tasawwuf jafa’—fikih tanpa tasawuf akan kering.
Karena itu, Syeikh al-Jailānī melangkah lebih jauh kepada puasa thariqah. Yakni menahan seluruh anggota badan dari maksiat dan keburukan: mata dari pandangan yang menodai, lisan dari dusta dan ghibah, telinga dari fitnah, dan hati dari penyakit batin seperti ujub, hasad, dan kikir. Inilah puasa yang berlangsung seumur hidup, tidak terikat Ramadhan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar.
Pesan ini sejalan dengan etos NU: ibadah harus melahirkan akhlak. Jika puasa tidak menjinakkan lisan dan menenangkan hati, maka ia masih berhenti di batas formalitas.
Namun puncak pembahasan terletak pada apa yang oleh Syeikh al-Jailānī disebut sebagai puasa hakikat. Di sini, yang ditahan bukan lagi perut atau anggota badan, melainkan hati itu sendiri—agar tidak mencintai selain Allah, dan sirr (inti kesadaran terdalam) tidak menyaksikan selain Dia. Inilah wilayah tauhid yang halus, tempat di mana syirik tidak lagi berupa berhala, tetapi berupa ketergantungan tersembunyi pada dunia, pujian, atau kuasa.
Pada titik ini, hadits qudsi menjadi kunci:
> الصوم لي وأنا أجزي به
Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Para ulama menjelaskan: puasa tidak bisa dipamerkan. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar menahan diri, kecuali Allah. Karena itu, puasa adalah ibadah tauhid murni. Semakin dalam puasanya, semakin tipis jarak antara hamba dan Tuhan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: saat berbuka dan saat berjumpa dengan Rabb-nya. Dalam kacamata syariat, berbuka adalah makan. Dalam pandangan thariqah, ia adalah masuk surga. Namun dalam pemahaman hakikat, ia adalah ru’yah, tersingkapnya hijab antara hamba dan Allah. Sebuah kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan oleh kata.
Refleksi ini penting bagi warga NU hari ini. Di tengah aktivisme, struktur, dan peran sosial yang semakin luas, ibadah sering tereduksi menjadi rutinitas. Sirr al-Asrār mengingatkan bahwa ibadah sejati adalah yang mengembalikan hati kepada kiblatnya. Jika hati masih sibuk mencintai selain Allah, maka puasa hakikat belum dimulai.
Akhirnya, puasa dalam pandangan tasawuf NU bukan sekadar latihan lapar, tetapi disiplin tauhid. Ia mendidik hamba agar tidak mudah tergoda oleh selain-Nya. Di sanalah puasa tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi menyelamatkan arah hidup.
#NgajiQalbu
#Ponpes AlMasykuriyah
#AliMasykurMusa
#SirrAlAsrar





































