
MOJOKERTO | duta.co – Udara padi di Desa Kembangringgit terasa sejuk. Di halaman SDN Kembangringgit 3, Kabupaten Mojokerto, anak-anak berlarian menyambut jam istirahat. Tawa mereka pecah, beriringan dengan derap langkah kecil yang menghidupkan suasana sekolah berlantai sederhana tersebut.
Namun, di balik keceriaan itu, ingatan para guru dan murid belum sepenuhnya lepas dari sebuah masa-masa sulit yang baru saja berlalu. Selama bertahun-tahun, urusan paling mendasar di sekolah, kamar mandi, menjadi persoalan pelik yang kerap menguji kesabaran.
Kepala Sekolah SDN Kembangringgit 3 Nanik Anisah, masih mengingat betul bagaimana kondisi fasilitas sanitasi sekolahnya sebelum mendapat sentuhan perbaikan. Bangunan itu tampak kusam, beraroma pekat, dan kerap tidak dapat digunakan akibat saluran air yang bermasalah. Akibatnya, anak-anak dihadapkan pada pilihan yang serba sulit setiap kali mereka merasakan panggilan alam.
“Dulu, keadaan toilet kami sangat suram dan memprihatinkan,” ujar Nanik saat ditemui di ruang kerjanya.
“Anak-anak kerap takut dan enggan masuk ke toilet. Bahkan, jika sudah tidak tertahankan, mereka terpaksa minta izin pulang ke rumah hanya untuk ke kamar mandi. Sebagai pendidik, tentu ada rasa sedih melihat anak-anak harus direpotkan oleh urusan dasar seperti itu,” imbuhnya.
Bagi Nanik, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan fisik bangunan, melainkan menyangkut kenyamanan psikologis anak didik dalam menyerap pelajaran. Ketika konsentrasi belajar seharusnya menjadi fokus utama di ruang kelas, sebagian energi anak-anak justru terkuras untuk menahan diri atau memikirkan cara pulang ke rumah sekadar demi menunaikan hajat.
Titik balik itu bermula ketika PT Sun Paper Source sub holding dari perusahaan multisektor nasional SPS Corporate, melirik kondisi sekolah melalui program tanggung jawab sosial perusahaan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan tisu terbesar kedua se Asia Tenggara yang beroperasi di wilayah Kabupaten Mojokerto tersebut turun langsung untuk memetakan kebutuhan riil di lapangan.
Melalui asesmen yang dilakukan tim korporat, sektor sanitasi di SDN Kembangringgit 3 ditempatkan sebagai prioritas mendesak. Tak butuh waktu lama bagi perusahaan untuk menerjunkan tim renovasi, mengubah total wajah fasilitas yang tadinya kusam menjadi bersih, terang, dan memenuhi standar kesehatan layak.
HR Manager PT Sun Paper Source, Josephine Ayu Kinanti, menjelaskan bahwa intervensi pada fasilitas sanitasi dasar memegang peranan krusial dalam mendukung kualitas proses belajar-mengajar. Menurutnya, kenyamanan di lingkungan sekolah harus dibangun dari hal-hal yang paling esensial bagi anak-anak.
“Kami menyadari bahwa pendidikan yang berkualitas harus ditopang oleh lingkungan yang sehat dan layak. Ketika kami melihat kondisi awal di SDN Kembangringgit 3, di mana anak-anak bahkan harus pulang ke rumah hanya untuk ke toilet, kami merasa perlu segera mengambil tindakan nyata,” ungkap Josephine.
Ia menambahkan, transformasi fisik yang dilakukan bukan sekadar merenovasi bangunan, tetapi membangun rasa aman bagi para siswa. “Kami ingin memastikan anak-anak bisa belajar dengan fokus, tanpa kecemasan, dan merasa dihargai di lingkungan sekolah mereka sendiri,” tambahnya.
Perubahan drastis tersebut kini telah merubah denyut aktivitas harian di sekolah. Keramik putih yang bersih, aliran air yang lancar, serta bilik-bilik yang segar membuat para siswa tidak lagi ragu menggunakan fasilitas sekolah.
Bagi Nanik Anisah, kehadiran fasilitas baru ini mendongkrak kepercayaan diri seluruh warga sekolah secara signifikan. Peningkatan kualitas kebersihan dan penataan lingkungan fisik tersebut bahkan membawa dampak lanjutan yang membanggakan, SDN Kembangringgit 3 resmi ditunjuk untuk mengikuti Lomba Sekolah Adiwiyata pada tahun depan.
“Perubahannya luar biasa. Sekarang anak-anak jauh lebih nyaman dan percaya diri. Kami atas nama keluarga besar sekolah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Sun Paper Source. Bantuan ini benar-benar menjadi titik kebangkitan kami,” tutur Nanik.
Ia memaparkan, momentum renovasi ini dimanfaatkan pihak sekolah untuk menanamkan kesadaran ekologis yang lebih mendalam kepada para siswa. Budaya menjaga kebersihan lingkungan kini digalakkan secara konsisten sebagai bagian dari persiapan menuju sekolah berwawasan lingkungan hidup.
“Renovasi toilet ini menjadi pelecut semangat utama kami. Dari sinilah fondasi hidup bersih dan sehat dimulai. Kami makin optimistis menyambut penunjukan sebagai Sekolah Adiwiyata tahun depan, karena fasilitas pendukungnya kini sudah sangat memadai,” pungkas Nanik dengan nada optimis. Imm







































