Guru Besar Teknik Elektronik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Prof. Dr. Ir.  Moh. Ashari (kiri) saat menjadi pembicara dalam seminar Peran Teknologu dan Inovasi dalam Mendukung Daya Saing Industri  Elektronika Telematika yang Berwawasan Lingkungan di Surabaya, Rabu (12/9). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Revolusi Industri 4.0 memang tidak bisa dihindari. Kecanggihan teknologi memang akan mendominasi segala hal di belahan dunia ini.

Tidak berlebihan jika pemerintah Indonesia mencanangkan program Making Indonesia 4.0 sehingga negara ini bisa menjadi pemain bukan hanya penonton.

Revolusi Industri 4.0 ini tidak hanya berlaku bagi kalangan industrial tapi juga bagi dunia pendidikan.

Bagi perguruan tinggi (PT) hal itu juga mutlak harus dihadapi. Karenanya ada banyak hal yang perlu dilakukan agar bisa juga menjadi pemain.

Guru Besar Teknik Elektronik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Prof. Dr. Ir.  Moh. Ashari mengatakan PT harus memulai untuk membuat innovation center atau pusat inovasi.

Bisa juga berupa sains technopark dan sejenisnya.

Ini dilakukan agar PT itu memiliki lembaga untuk menampung semua hak kekayaan intelektual yang dimiliki. Serta bisa melakukan networking dengan banyak pihak.

“Seperti yang dimiliki Telkom University di Bandung yakni Bandung Technopark,” ujar mantan Rektor Telkom University Bandung ini, Rabu (12/9).

Ashari yang berbicara dalam acara Seminar Peran Teknologu dan Inovasi dalam Mendukung Daya Saing Industri  Elektronika Telematika yang Berwawasan Lingkungan di Surabaya ini mengatakan dalam hal ini, PT harus membangun lembaga itu.

Dengan dibangunnya innovation center ini, PT bisa melakukan inkubasi.

Nantinya hasil penemuan anak-anak didik diseleksi mana yang dibutuhkan masyarakat dan mana yang tidak.

Yang dibutuhkan masyarakat itu dilakukan inkubasi atau product improvement selama minimal dua tahun di innovation center itu.

Setelah dinyatakan memang dibutuhkan masyarakat, lalu dilakukan sertifikasi agar sesuai dengan standar kualitas atau kalau di Indonesia itu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Baru setelah itu produk dari hasil penemuan mahasiswa itu di-launching,” jelas Ashari yang berbicara di acara yang digelar Balai Riset dan Standarisasi Industri Surabaya ini.

Namun sayangnya sampai saat ini memang tidak banyak PT yang memiliki innovation center ini.

Dikatakan Ashari sampai saat ini jangankan innovation center, kualitas PT di Indonesia juga tidak semuanya bagus.

“Saat ini ada lebih adri 4.555 perguruan tinggi di Indonesia. Yang statusnya negeri hanya 200an sisanya swasta. Yang terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi atau BAN PT baru dua persen atau 58 saja. Sangat kecil jumlahnya,” tandasnya.

Memang untuk bisa mewujudkan innovation center itu harus ada campur tangan pemerintah.

Ashari mengakui seperti halnya Bandung Tecknopark yang dibangun atas bantuan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

“Pemerintah memang harus campur tangan, kalau tidak hal itu tidak bisa diwujudkan karena kemampuan yang terbatas,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Dr. Ir. Ngakan Timur Antara mengatakan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini memang harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM)-nya.

Sumber Daya Manusia (SDM) dipersiapkan mulai di bangku sekolah.

Tidak mengherankan  jika Kementerian Perindustrian bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk melakukan link and match antara lembaga pendidikan dengan industri.

Dalam hal ini, antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kalangan industri.

Dikatakan Dr. Ngakan, sudah ada  600 industri yang melakukan kerjasama dengan 1.500 SMK di seluruh Indonesia.

Dalam hal ini, siswa dibekali pengetahuan tentang revolusi industri 4.0 dengan kurikulum yang disesuaikan.

Sehingga nantinya para siswa ini siap untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 tersebut.

“Jangan takut SDM dikurangi. Justru ini saatnya SDM tumbuh dan berkembang,” tukasnya.

Kesempatan untuk bisa menonjolkan diri. Karena nantinya bekerja itu tidak hanya di sektor dunia usaha melainkan menciptakan wirausahawan-wirausahawan baru di berbagai bidang,” jelasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.