Hidayatul Khusnah,S.Pd, M.Sc – Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis

Perkembangan ilmu tekonologi semakin memudahkan pekerjaan manusia. Mulai dari pekerjaan sehari-hari sampai dengan pekerjaan kantor. Mark Carney, Gubernur Bank Inggris yang pada akhir tahun 2016 lalu mengatakan bahwa setidaknya 15 juta pekerjaan akan lepas ke orang-orang teknologi pada tahun-tahun yang akan datang, termasuk di dalamnya profesi Akuntan.

Profesi Akuntansi dan pencatat administrasi akan menjadi salah satu prioritas teratas yang akan digantikan oleh robot/komputer. Bahkan lebih lanjut Xero mengatakan bahwa 59 persen pemilik usaha kecil berfikir bahwa mereka tidak akan membutuhkan lagi akuntan dalam 10 tahun ke depan.

Hal ini karena hampir seluruh proses akuntansi kini sudah dapat ditangani oleh software komputer. Sejak mulai pencatatan transaksi hingga menghasilkan laporan keuangan berikut analisis-analisisnya. Perangkat lunak tersebut didesain dapat digunakan oleh orang yang dapat dikatakan awam akuntansi. Lalu jika demikian untuk apa perusahaan harus memelihara orang-orang akuntansi?

Apakah dengan demikian berarti profesi Akuntan sudah tinggal menunggu hari ajalnya?

Jawabnya: Bisa Ya dan bisa Tidak.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa peran akuntan sekarang hanya bergeser. Akuntan kini  harus  juga mempelajari skil dan kompetensi baru untuk menjaga relevansinya dengan perkembangan dunia. Sebuah penelitian lain mengungkap bahwa kompetensi yang paling penting dimiliki untuk melengkapi setiap akuntan adalah: (1) Manajemen bisnis; (2) Analisis risiko; dan (3) Sistem Informasi Akuntansi.

Sebenarnya pergeseran itu tidak hanya terjadi pada profesi akuntan saja. Melainkan semua profesi akan terkena dampak merusak (disruptive) nya perkembangan teknologi ini. Bahkan dampak ini juga akan menyerang profesi  IT itu sendiri. Misalnya kita bisa lihat perkembangan teknologi cloud computing yang semakin matang. Perusahaan dapat memanfaatkan infrastruktur, platform, software sampai dengan datanya tanpa mereka harus berinvestasi apapun.

 Perusahaan dapat menikmati hampir semua layanan-layanan yang dulunya mewajibkan perusahaan tersebut berinvestasi beli infrastruktur, beli platform, beli/bangun sistem, meng-hire orang IT yang mahal dan tak jarang banyak ulah, dan sebagainya.

Kini mereka dapat menikmati itu semua hanya cukup dengan berlangganan layanan cloud tertentu. Mereka dapat berhenti kapan saja mereka mau.

Mereka dapat berpindah ke penyedia layanan lain yang menurut mereka memiliki layanan yang lebih sesuai dengan spesifikasi dan biaya yang diinginkan. Ini berarti bahwa profesi IT juga akan mengalami pergeseran.

Perkembangan Teknologi yang begitu cepat dan merusak itu menuntut bisnis untuk juga bergerak menyesuaikan dengan kecepatan dan paradigma yang baru. Sehingga konsekuensinya setiap perusahaan dituntut untuk bisa lincah (agile) untuk berubah. Tuntutan agilitas inilah yang menyebabkan setiap perusahaan akan berfikir melakukan perampingan-perampingan.

Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa harus memiliki skil dan kompetensi baru yang benar-benar dibutuhkan oleh perusahaan, sehingga ketika lulus nanti dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Peran kampus adalah menyediakan sarana, prasarana dan kurikulum yang mendukung untuk mewujudkan mahasiswa yang memiliki skil dan kompetensi handal. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry