Prof Nuh (FT/pikiranrakyat.com)

CIREBON | duta.co — Jelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan Julia tau Agustus tahun ini, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat dan ramai diperbincangkan publik.

Di antara sejumlah nama, ada figure yang tak asing bagi nahdliyin, tetapi, namanya jarang menjadi perbincangan. Seakan menjadi kader handal yang terpendam. Ialah Prof H Mohammad Nuh. Namanya muncul sebagai sosok yang dinilai sangat layak menadi Ketum PBNU, ini mengingat rekam jejaknya yang solid baik di struktur internal NU maupun di kancah nasional dan internasional.

Menurut Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli (KH Imjaz panggilan akrabnya), setidaknya ada lima alasan kuat mengapa Prof Mohammad Nuh layak menjadi Ketum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.

Pertama, kata dia, rekam jejak organisasi dan keagamaan. Prof Mohammad Nuh saat ini menjabat sebagai salah satu Rais Syuriyah PBNU periode 2022-2027, posisi kunci dalam struktur pengambilan keputusan tertinggi di NU. Jabatan ini menunjukkan pengakuan atas kapasitas keilmuan agama dan kepemimpinan spiritualnya di mata para ulama sepuh NU.

“Peran sentral di Syuriyah PBNU periode ini memberikannya pemahaman mendalam tentang dinamika internal organisasi, nilai-nilai, dan arah kebijakan strategis NU secara keseluruhan,” kata Kiai Imam.

Kedua, lanjut dia, yang bersangkutan telah berkontribusi nyata di NU. Kontribusi Prof. Nuh untuk NU tidak hanya bersifat seremonial, tetapi nyata, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan, diantaranya: Penguatan Pendidikan Tinggi NU (PTNU).

“Ia aktif mendorong peningkatan kualitas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU). Prof Nuh berpesan agar PTNU berorientasi pada peningkatan prestasi dan memiliki rasa ownership (kepemilikan) yang kuat di kalangan warga Nahdliyin. Ia menekankan pentingnya penguatan SDMNU dan digitalisasi untuk kemajuan PTNU,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Kiai Imam, Prof Nuh juga promotor moderasi beragama dan Islam Nusantara. Ia sering menjadi juru bicara PBNU dalam menggaungkan nilai-nilai Islam Nusantara dan moderasi beragama. Ia mempromosikan Islam yang damai, toleran, dan sesuai dengan budaya lokal, sikap yang membuatnya disegani oleh berbagai kalangan. Selain itu, juga inisiator program kemasyarakatan.

“Di luar struktur formal, ia terlibat dalam berbagai inisiatif, seperti program sekolah rakyat, pembangunan RS dan klinik NU, menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat,” ujar Kiai Imam.

Ketiga, pengalaman manajerial dan birokrasi yang luas telah dimiliki Prof. Nuh. Salah satu keunggulan utama dia, menurut Kiai Imam, adalah pengalamannya yang luas di bidang manajerial dan birokrasi pemerintahan, yang jarang dimiliki oleh banyak tokoh NU lainnya. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Kemudian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Dalam kapasitasnya sebagai menteri, Nuh terbiasa mengelola institusi besar dengan tantangan kompleks, merumuskan kebijakan publik, dan memimpin ribuan staf. “Pengalaman ini sangat relevan untuk memimpin PBNU di abad kedua, sebuah organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang juga memiliki kompleksitas manajerial yang tinggi,” ungkapnya.

Keempat, kata Kiai Imam, latar belakang akademisi dan intelektualnya. Sebelum terjun ke birokrasi, Mohammad Nuh adalah seorang akademisi ulung. Ia pernah menjabat sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sebuah perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia.

Dengan latar belakang pendidikan insinyur dengan gelar DEA (Diplôme d’Études Approfondies) dari Prancis menunjukkan kapasitas intelektualnya yang kuat dalam sains dan teknologi. “Keahlian ini memungkinkan membawa perspektif modern, terutama dalam hal digitalisasi sistem tata kelola, yang dianggapnya sangat penting untuk pengembangan institusi NU di era digital,” ujar Kiai Imam.

Apalagi NU, kata dia, sebagai organisasi massa terbesar, membutuhkan manajemen modern. Keahlian Prof. Nuh dalam tata kelola institusi pendidikan dan kementerian dapat diaplikasikan untuk memastikan efisiensi dan transparansi PBNU. Ia sering menekankan pentingnya digitalisasi sistem tata kelola di lingkungan NU.

Kelima, kemampuan membangun prestasi dan jaringan. Prof. Nuh dikenal sebagai sosok yang menekankan pentingnya budaya menghargai dan berprestasi. Selama masa jabatannya di pemerintahan, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera dari Presiden RI dan penghargaan dari Kaisar Jepang, menunjukkan pengakuan internasional atas kontribusinya.

“Jaringan luas yang dimilikinya, baik di tingkat nasional maupun internasional, akan menjadi aset berharga dalam memajukan agenda PBNU,” kata Kiai Imam.

Karena itu, lanjutnya, Prof. Nuh memiliki kombinasi langka antara kepemimpinan teknokratis yang teruji di pemerintahan dan institusi pendidikan tinggi, serta legitimasi spiritual dan struktural yang kuat di dalam NU sebagai Rais Syuriyah.

Rekam jejaknya dalam memajukan sektor pendidikan dan  kesehatan dilingkungan NU serta mempromosikan moderasi beragama menjadikannya figur yang sangat kapabel untuk memimpin PBNU di abad kedua serta sosok paling komprehensif dalam bursa Ketum PBNU menjelang Muktamar NU ke-35. “Kehadirannya dapat titik temu faksi-faksi yang mungkin ada dan jembatan tradisi dan inovasi demi membawa perspektif manajemen modern dilingkungan NU tanpa mengabaikan tradisi pesantren yang mengakar,” pungkas Kiai Imam.*

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry